Sabtu, 16 Mei 2020

Laki-Laki DILARANG Masuk!!!

Kali ini aku mau ceritain something special pas aku ngekos selama kuliah.

Aku tinggal di sebuah kost-kostan berlantai dua yang terdiri atas 15 kamar tidur. Kamarku nomor 7 (walau pun tulisannya sih angka 5, tapi kata ibu kost itu harusnya 7, gatau sih gimana cerita awalnya) di lantai bawah. Lantai bawah ini ada 11 kamar kost ditambah 1 kamar khusus untuk ruang pemantau CCTV yang biasannya ditempati oleh anak-anak ibu kost (ka Igun atau ka siapa yah lupa satunya). Kalau lantai atas ada 4 kamar tidur, 1 ruang TV (katanya dulu pernah ada TV tapi sekarang jadi ruang kosong aja), 1 ruang rahasia (karena gatau dalemnya apa, belum pernah lihat), 1 ruang dapur dan 2 tempat terbuka untuk menjemur pakaian.

Btw, ruang dapur itu aku pernah gunakan 1/2 kali gitu yah untuk masak mie dan telor sama temen sekamarku. Selebihnya gapernah lagi sampe-sampe akhirnya kompor gas dan tabung gasnya diambil lagi sama ibu kost karena gapernah ada yang masak lagi. Haha

Kostanku itu emang khusus kostan aja, rumah ibu kost beda lagi, jauh di komplek sebelah. Maka dari itu butuh kamera CCTV untuk memantau keamanan. Tapi nyatanya selama aku di sana sudah ada sekitar 3-4 kasus pencurian, sedih banget itu si pencuri ga ketangkep. Ih gemes! Pas dilihat di layar TV nya itu maling tampak nyelow gitu bukain pintu kamar, dia punya kunci serp banyak banget, dicobain satu-satu DI SIANG HARI boo pas anak-anak kost lagi pada ngampus. Parah parah. Jelas sih kalau malem justru kostan rame jadi gabakal ada maling yang berani. Rata-rata barang yang diambil adalah laptop dan dompet. Ish.

Nah, kalau untuk masalah kebersihan, kostan kita punya petugas kebersihan, ibu-ibu yang rumahnya deket dengan kostan. Tugas si ibu adalah menyapu dan ngepel teras kostan dan menyapu halaman serta membuang sampah. Dilakukan setiap hari pagi dan sore. Si ibu ini ramah banget ya, beliau berusaha untuk bisa akrab dengan semua anak kost. Lumayan agak cerewet tapi bentuknya perhatian. Tapiiii.... Tidak lama saat aku ngekost, kalau ga salah pas aku semester 3, si ibu meninggal dunia karena sakit. Lalu tugas beliau akhirnya diganti oleh SUAMINYA.

Mulai seru nih gaes...



Rumah deket ko ngekost?!!

Kenapa aku memilih untuk tinggal di Kostan saat kuliah?

"Jarak Cilegon-Serang dekat banget, tinggal naik bus sekali, sampe deh!"

Itulah argumen yang seringkali muncul dari mulut teman-teman atau orang yang pertama kali nanya kenapa aku ko memilih ngekost, padahal jarak dari rumah ke kampus kan "Deket" (kata mereka).

Cobalah kalau main itu yang jauh, ke Cilegon. (Wkwkw)... Jadi yah Kota Cilegon itu luas terbentang dari ujung Kabupaten Serang ke Ujung Kabupaten Serang. Yaps, Kota Cilegon dikelilingi wilayah Kabupaten Serang.

Kalau ada yang beranggapan "Dari Kota Serang  ke Cilegon kan tinggal naik bus sekali, langsung sampe", emang bener banget, ga salah, tapi itu kamu baru nyampe ujung Cilegon Barat/Cilegon Timur doang. Jadi yang SALAH itu kalau kalian beranggapan bawah rumahku itu di sana, dianggap turun dari bus langsung nyampe rumahku, SALAH!!!

Untuk nyampe rumahku ada 3 alternatif:
1. Dari terminal Pakupatan kamu naik bus ke arah Merak (bebas bus apa aja yang penting menuju Merak)-ongkos 4K, terus kamu turun di Tol Cilegon Timur naik angkot warna ungu turun di Simoang Tiga Cilegon (depan Landmark)-ongkos 5K, lanjut lagi naik angkot warna silver ke arah Anyer turun di Pertigaan Randakari-ongkos 5K, lanjut terakhir naik Ojek ke rumahku-ongkos 6K. Total ongkos minimum: 20K sekali jalan.

2. Dari terminal Pakupatan naik bus ke arah Merak dan turun di Damkar (setelah Tol Cilegon Barat)-ongkos 4K, lanjut naik angkot warna merah ke arah kota dan turun di Simpang Tiga Cilegon-ongkos 5K, lanjut naik angkot warna Silver ke arah Anyer dan turun di Pertigaan Randakari-ongkos 5K, dan terakhir naik ojek ke arah rumahku-ongkos 6K. Total ongkos: 20K sekali jalan.

3. Dari depan kampus naik angkot biru-belang ke arah Kepandean (haru ditanya dulu mamang angkotanya takut ga nyampe sana)-ongkos 4K, lanjut naik angkot biru full (ga belang) ke arah kota Cilegon dan rurun di simpang 3 Cilegon-ongkos 8K, lanjut naik angkot arah Anyer ongkos 5K, dan terakhir naik ojek ke rumah-ongkos 6K. Total ongkos: 23K sekali jalan.

Waktu minimum yang dibutuhkan untuk sekali jalan itu 1,5 Jam (90 menit) kalau lancar gada macet dan mamang angkot bawanya ngebut gapake ngetem. Pernah juga aku ngabisin waktu 2,5 jam untuk nyampe rumah. Haruh.

Coba kamu banyangin kalau selama 4 tahun bolak-balik? Duit tekor buat ongkos, belum lagi uang untuk jajan (laper tau apalagi kalau kuliahnya ampe sore bahkan magrib). Minimal sehari 40K kalau puasa dan gada tugas yang butuh duit. Ya bisa jadi 60K-80K sehari kalau ditambah jajan (beli makan) dan print ini-itu untuk tugas.

Tapi yah, ada temenku yang rumahnya lebih jauh dariku, dia PP (Pergi-Pulang) selama kuliah, aku akui dia kuat banget. Kuat kantongnya (duit yah gaes) dan badannya strong.

Selain karena alasan finansial, alasan kenapa aku ngekost adalah efisiensi waktu.

Yang namanya kuliah meskipun jadwal mata kuliah sudah ada, tertata rapi, nyatanya dosen sering banget ganti-ganti jadwal kuliah yang tidak jarang memberi infonya tuh dadakan. Andaikan aku PP nih ya, misal aku ada kuliah jam 8.00 otomastis aku berangkat pagi sekitar jam 6.00 dari rumah atau jam 5.30 biar agak nyelow, nah kalau misal dosen ngasih info dadakan jam 7.00 minta ganti jadwal kuliah jadi jam 13.00 itu artinya aku udah di jalan, balik lagi ke rumah nanggung, kalau diterusin jalan aku mesti nunggu di kampus lama mesti ngapain.

Sebaliknya, misal hari Senin jam pertama kuliah aku mulai pukul 13.00 (harusnya aku berangkat jam 11'an kan) aku gunakan buat beres-beres rumah pagi ampe dzuhur, Lah kalau dosen dadakan minta ganti jadwal jadi pagi pukul 8.00 kan aku mesti buru2 siap2 dari rumah, lah mending kalau aku buka HP tepat waktu, gimana kalau baru buka HP pukul 7.30'an? Otomatis aku bakal terlambat...

Nah itu.

Alasan lainnya adalah kebanyakan tugas yang butuh ngeprint, aku di rumah gapunya printer, repot kan. Kalau di kostan kan enak, karena si sekitar kostan ada warnet yang buka hampir 24 jam (sampe tengah malem Lah) jadi aku tenang ngerjain tugasnya.

Begonoh!

He3

Jumat, 15 Mei 2020

The Last Day

Hari ini, Jum'at, 15 Mei 2020

Adalah hari terakhirku mengajar secara daring, online via Zoom Meeting.
Pekan berikutnya anak-anak akan persiapan untuk UKK yang katanya akan dilaksanakan tanggal 2 Juni, setelah hari raya 'idulfitri.

Emang dasarnya aku ini suka melow, rasanya tuh sedih amat yah ga ngajar lagi di semester ini.
Semester depan entah apakah aku masih berkesempatan untuk bertemu mereka? Ngga tau apakah lanjut kontrak mengajar atau udahan.

Wallahu a'lam

Kamis, 14 Mei 2020

Jangan Pasung Bapak, Nak!

True story in my village

Kisah ini seputar psikologi seorang Orang Tua yang Kehilangan Anaknya

Begini, di kampungku hidup sebuah keluarga (hehe ko rasanya aneh ya nyebutnya 'sebuah keluarga' ) terdiri dari Ayah, Ibu, 6 orang anak, 4 menantu, dan 3 orang cucu. Ya keluarga besarlah.

Anak pertama, laki-laki baru menjalankan satu tahun usia pernikahan dan belum dikaruniai anak.
Anak kedua, perempuan yang sudah belasan tahun menikah sejak lulus MA (setara SMA) sudah dikaruniai 2 anak dan sudah memiliki rumah sendiri.
Anak ketiga laki-laki sudah menikah dan tinggal di rumah mertuanya (rumah istrinya).
Anak keempat, perempuan sudah memiliki anak balita dan masih tinggal bersama ayah & ibu.
Anak kelima dan keenam keduanya laki-laki. Anak kelima baru lulus SMA sedangkan anak bungsunya masih MA kelas XI.
Bisa dibayangkan kan betapa ramainya.

Satu momen yang sangat tidak diinginkan menimpa keluarga tersebut, anak sulung (laki2 dan sudah beristri) meninggal dunia karena sakit. Entah aku lupa almarhum sakit apa. Sang Ayah rupanya sangat terpukul/sangat berduka atas kepergian anak sulungnya. Hingga suatu hari psikis si Ayah bermasalah behari-hari (efek dari terlalu memikirkan kepergian anaknya), beliau melamun berkepanjangan hingga pernah sampai tidak berpakaian (entah gimana asalnya). Tentu dipandangan istri dan anak-anaknya si Ayah ini hilang akal. Tidak dapat diajak berbicara dengan baik. Susahlah pokoknya. Dengan tega si Ayah dibiarkan tidur di dapur hanya dengan alas tidur berupa dipan bambu. Dengan kondisi tersebut, si Ibu tidak ingin tidur bersama si Ayah sebagaimana biasanya. Sekarang justru menjadi benci sebenci-bencinya.

Hari-hari berlalu, hingga suatu hari si Ayah ngamuk di rumahnya, merusak perkakas rumah tangga yang ada di dapur. Susah dibendung (bahasa kampungnya mah 'ora kejagan').

Beberapa lama setelah puas merusak segala yang ada di hadapannya, akhirnya si Ayah bisa menenangkan diri namun masih dengan wajah yang tampak melamun. Tapi ternyata si Ibu sangat khawatir jika si Ayah akan kumat lagi, khawatir akan melakukan kerusakan yang lebih parah. Akhirnya si Ayah diikat kedua tangan dan kakinya dan digotong ke rumah adik kandungnya yang tidak jauh dari rumahnya. Otomatis kejadian tersebut menjadi tontonan para tetangga, sungguh momen yang sangat menyedihkan, pedih.

Kenapa si Ayah dibawa ke rumah adiknya? Rupanya si Ibu dan anak-anak malu memiliki kepala keluarga yang tidak sehat tersebut, jadi dikembalikan ke rumah adiknya dengan tujuan agar dirawat oleh saudara2 kandungnya, karena memang selama 'sakit' tidak ada seorang saudara pun yang menjenguk si Ayah ini. (Katanya)

Apa yang terjadi sesampainya di rumah si Adik?
Rupanya si Adik pun syok dan tak berani berbuat/komentar apa-apa, melamun melihat kondisi kakaknya yang tampak lemah diikat kedua tanga dan kakinya. Pada saat kondisi itu si Ayah sebenarnya sadar bahwa dirinya sedang diikat dan beliau pun merintih,
"Lepaskan ikatan ini, nak" (sambil menyebut nama anak perempuannya.

Rintihan tersebut tak digubris oleh anaknya, pun oleh adiknya yang ketakutan karena masih ada saudara ipar (si Ibu) dan ponakannya (anak perempuan si Ayah). Sebenarnya si Adik sangat ingin melepaskan ikatan tersebut, kasihan, namun ia pun tak dapat berkutik.
Barulah setelah si Ibu dan anak2nya kembali ke rumahnya, si Adik berani melepaskan ikatan tersebut.

Singkat cerita, dengan musyawarah antara pihak keluarga-RT-dan RW, si Ayah akhirnya dibawa ke sebuah rumah sakit di Jakarta untuk diobati. Awalnya si Ayah menolak, beriskeras tidak mau, karena takut akan dibuang ( jadi si Ayah ini cukup menyadari kondisinya yang sudah dibenci oleh istri dan anak-anaknya, jadilah ia berpikiran dan khawatir ia akan dibuang, dicampakkan keluarganya sendiri). Namun dangan bujukan pak RW, si ayah mau juga sibawa ke RS.

Selama di RS tersebut, rupanya pihak RS berhasil mengembalikan jiwa yang sehat si Ayah, selama di sana beliau menjadi Imam dan Muadzin beberapa kali. Setelah dua minggu dilewati akhirnya si Ayah diijinkan pulang. Alhamdulillah si Ibu dan anak-anaknya mau menerima si Ayah kembali, karena sudah sehat.

Sekian.

Jumat, 08 Mei 2020

WFH (Work From Home)

Work From Home
Adalah sebuah frasa yang mulai populer sejak pertengahan Maret 2020.

Secara bahasa berarti "bekerja dari rumah". Yaps, frasa tersebut menambah kekayaan ragam bahasa populer.

Merambahnya Virus Corona-19 ke Indonesia di awal tahun 2020 memaksa hampir sebagian masyarakat Indonesia melakukan WFH. Termasuk pelajar dan mahasiswa, mereka pun Studying From Home secara daring (dalam jaringan)/online dengan bantuan seperangkat aplikasi tertentu, dan pastinya harus didukung akses internet yang memadai.

Cukuplahyah prolognya. Ga tahan mesti pakai bahasa baku. Hehe
Aku pengen ceritain kegiatanku selama WFH ini.
Sebenernya sedih sih kalau diceritain semua, jadi aku bakal cerita sebagian yang "ngga terlalu" memprihatinkan, takut kamu sedih. T_T

Di bulan Maret kemarin aku masih bekerja di salah satu sekolah (SMA Negeri) yang lumayan hits di Kota Tetangga (tetangga Kota tempatku tinggal). Kerjaanku adalah menggantikan tugas mengajar seorang guru yang sedang cuti.

Inget banget waktu itu hari Kamis tanggal 12 Maret, di waktu senggang aku diajak ngobrol oleh salah satu rekan kerja, "Ngajar di sini sampe kapan?" 
"Perjanjiannya sih sampe akhir April".
Udah aja gtu yah dilanjut ngobrol-ngobrol lainnya.

Keesokan harinya, Jum'at, 13/3/2020, pagi-pagi ada rapat dengan kepala sekolah, salah satu isinya adalah ngebahas tentang penundaan keberangkatan study tour anak kelas XI ke Yogyakarta. Alasannya adalah karena ada surat larangan untuk mengadakan kunjungan ke luar kota karena dikhawatirkan terkena virus corona-19, surat tersebut dari Pemerintah Provinsi.

Jadi guru-guru diminta untuk menyampaikan informasi tersebut ke seluruh siswa kelas XI, nah kebetulan aku juga setelah rapat akan mengajar di kelas XI. Pas nyampe kelas, ternyata murid-murid udah pada tau duluan sebelum aku kasih tau, entah kabar itu siapa yang nyebarin duluan. Dassar anak-anak yah.

Bertepatan di hari itu pula, aku mendapat kabar bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bekerja di sana, kabar menyakitkan ini diberitahu oleh salah satu rekan mengajar, entah atas alasan apa kepala sekolah membatalkan perjanjian awal terkait batas waktuku bekerja di sana. Sayangnya aku tak bisa bertanya langsung kepada pak kepsek. Sebenarnya ada salah satu rekan kerja yang ngasih tau kenapa aku diminta berhenti lebih cepat dari kontrak kerja yang disepakati semula, tapi menurutku itu alasan yang aneh. Alasan konyol.
Menurutku beliau pengecut, tidak mengatakan hal tersebut kepada saya secara langsung. Sibuk? So sibuk. Kenapa harus  melalui orang lain? Apakah takut saya protes terkait perjanjian awal? Huh.

Tapi gabakal jugasih aku protes, akumah kan orangnya pasrah. Artinya gini, jika memang pekerjaan tersebut adalah rezekiku, maka ia akan kembali padaku dengan cara tak terduga, tetapi jika bukan rezekiku maka ia tak akan dapat aku pegang dengan usaha sekeras apa pun.

Allah Maha Paling Tahu Segalanya tentang yang terbaik untuk hamba-Nya.

Tak disangka, untuk pekan-pekan selanjutnya dari hari pedih tersebut hingga aku mengetik kisah ini, bahkan beberapa pekan ke depan diberlakukan SFH. Beruntunglah aku sudah tidak bertugas di sana lagi, jadi ga perlu ribet-ribet ngurusin anak orang yang banyaknya ga ketulungan, udah kebayang anak IPS yang susah diatur itu pasti bakal bikin rese selama WFH. HAHAHAHHA

Alhamdulillahirabbil'aalamiin...

Kapan ceritain tentang WFH-nya?
Yang di atas itu kan masih prolog sesion-2.

Dalam ruang dimensi lain, aku pun bekerja di tempat lain, bukan pengganti lagi yah sorry, ini aku udah jadi karyawan tetap (ngga bangga sih). Di sekolah favorit numero uno. Yuhuuuy... Tapi cuma sebagai guru LES aja siih... Hehe

Nyatanya nih yah, SFH ini banyak dikeluhkan oleh hampir seluruh pelajar dari tingkat dasar hingga menengah. Mereka kesulitan mempelajari SENDIRI materi pelajaran, emang karena mereka ga biasa belajar secara mandiri sih, maunya disuapi sejak 'bayi', makanya tuh gitu.

Di lain pihak SFH menguntungkan, tempat les jadi laris manis. Jelaslah, kalau guru di sekolah ga ngejelasin materi, cuma nyuruh ngerangkum terus kasih soal, maka solusinya adalah belajar di tempat les, pasti dijelasin, bela-belain bayar mahal.

Aku sebagai salah satu tutor, ngga merasa beruntung, malah rugi, kehilangan buanyak banget pekerjaan karena mesti ninggalin tempat kerja (harus pulang kampung), siapa juga yang mau di lockdown sendirian di kostan, males. Tapi resikonya 80% pekerjaanku hilang dan otomatis  penghasilanku berkurang 80%. Huh. Bayangkan ada LIMA private yang harus aku skip, DUA les sekolah, dan SATU bimbelan yang aku relakan.

Tersisa SATU Les'an yang bisa dikerjakan dari rumah, SATU-SATUNYA sumber penghasilanku selama WFH ini. Alhamdulillah nikmatnya bisa bantun emak di rumah, beres-beres.

Tapi gapapalah yang penting sehat, selamat, dekat dengan orang-tua, kesayangan aku.

Mulai nih cerita WFH ku yang sebenarnya, yang di atas cuhat sedikit

Selama WFH ini aku bekerja cuma 3 hari, Senin-Selasa-Jum'at, total ada empat kelas yang aku ajar seminggunya. Jadi tiap hari Jum'at aku ngajar dua kelas.

Kegiatan WFH ku dimulai pukul 16.00-17.30 untuk hari Senin dan Selasa, dan mulai pukul 13.00-16.00 di hari Jum'at. Jadwal ini hanya berlaku hingga sebelum Bulan Ramadhan.

Memasuki Bulan Ramadhan, hari Senin dan Selasa dimulai pukul 10.30 sampai 12.00. Kalau hari Jum'at mulai pukul 10.15-11.45 untuk kelas pertama. Kelas kedua dimulia pukul 12.30-14.00.

Pasti kalian bayanginnya kalau waktu luangku melimpah. Yakan? Emang. Haha.
Tapi selain jawal di atas, aku juga butuh waktu untuk belajar lebih dulu, mempersiapkan diri untuk mengajar, nah ini yang butuh waktunya lama banget. Karena mata pelajaran yang aku ampu ini di luar basic pendidikanku, so aku mesti belajar keras lebih dulu.

Aku anak Matematika yang mesti ngulang lagi pelajaran SMA, Fisika. Sebenarnya ga jauh-jauh amat dari matematika kan? Emang bener kalau iting-itungannya aku udh di luar kepala, tapikan untuk mahami konsep dasar hingga lanjut dari setiap materinya ituloh, aku harus betul-betul paham dan mampu mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain dan kehidupan nyata. MasyaAllah.

Aku menikmati setiap prosesnya. Bahagia banget rasanya. Bahagia bisa meyakinkan murid-muridku untuk percaya kepadaku, meski mereka tahu kalau aku bukan jebolan jurusan fisika. Mereka juga menyukai caraku mengajarkan, cepat memahami apa yang aku sampaikan. Seneng bangetlah.

Yuhuu...

________________________________

Btw, menurutku ini konyol, jadi sebelum aku ngajar, aku mesti dandan dulu, pakai minyak wangi juga, padahal kan ga kecium ama murid-muridku. Tapi aku merasa mesti tetap tampil rapi, segar, dan wangi. Tampil primalah yah, meskipun aku kerja di dalam kamar, gada orang lain yang liatin karena pintu ditutup. Mungkin kalau diliatin aneh, ngomong sendiri sambil liatin HP berjam-jam.

Inilah salah satu hikmah nikmatnya WFH, tampil cantik untuk diri sendiri. Karena belum punya suami. Hahahaha

Btw...untuk para pembaca, sebaiknya kisahku itu gausah dimasukin ke hati yah.
Ambil aja pelajaran yang terbaiknya. Singkirkan dari ingatanmu jika ada sepenggal kalimat yang tidak baik, jangan ditiru.

Thanks for reading

Senin, 04 Mei 2020

Banjir Cilegon Kota

Inna lillah...

Senin, 4 Mei 2020 hujan turun sejak pagi. Awalnya hanya gerimis, hujan, hingga lebat. Gemuruh petir semakin memperkuatku/siapa pun betah untuk tetap di rumah. Siang hari sekitar ba'da dzuhur aku yang biasanya tidur siang, malah susah tidur. Iseng buka medsos, lihat postingan status WhatsApp temanku yang tinggal di Cilegon bagiankota-nya (kalo aku Cilegon kampungnya) ternyata dilanda banjir... Kaget banget, sangat tidak menyangka hujan dari pagi tak kunjung henti ini berdampak besar... Ya Allah...

Mengecek medsos lainnya, aku buka facebook, seorang temanku yang tinggal di Komplek Metro Cilegon juga dilanda banjir, air menggenang di dalam rumah hingga di atas mata kaki.

Akhirnya saya teringat dengan adik kesayangan saya yang tinggal di Komp.Metro juga, langsung tanya keadaan dia via WA, ternyata air masuk rumah... Ya Allah jadi semakin sedih. Bingung gabisa bantu juga... T_T

Semoga Allah selalu melindungi mereka, jangan sampai ada korban.

Minggu, 03 Mei 2020

Sayang Anak?

Sist&bro, kali ini aku mau bikin cerpen bertemakan "Pendidikan Karakter"

------------------------------------------------------------------------------

Fiya dan Tiya adalah dua orang ibu-ibu kakak beradik yang selisih usianya sekitar lima tahun. Tiya sang kakak menikah dengan seorang pedagang cat tembok, kini mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
Sementara Fiya, sang adik, bersuamikan seorang pegawai swasta. Mereka juga dikarunia dua orang, hanya saja keduanya perempuan.

Semenjak keduanya menikah, tempat tinggal mereka berpisah. Begitupun nasib mereka sangat jauh berbeda. Penghasilan suami Tiya yang seorang pedagang cat tembok ternyata tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya dengan baik karena jualannya banyak dihutangi oleh pembeli yang sulit sekali membayar meski sudah ditagih berkali-kali.

Sabtu, 02 Mei 2020

Paku Bumi

Ada yang tidak tahu paku?
Hah? Ada?
Keterlaluan sekali.
Aku pikir, bahkan seorang anak mami pun akan tahu bentukan dan kegunaan sebuah paku.

Kalau ada yg belum tahu, sini aku kasih tahu!

Ngga mau tahu juga?
SOMBONG KALI KAU

Hahahhaha

Gimana prolog di atas? Terlalu biasa yah.

Di sesi ini ya kalo kalian cerdas pasti tahulah apa yang akan kubahas. Iya tentang sebuah atau beberapa buah paku. Namun paku yang ini adalah paku luar biasa yang tidak banyak orang pernah lihat, aku sangat yakin itu!

Aku merasa beruntung (meski pernah menyesali) tinggal di sebuah kawasan yang ternyata sudah disetujui pemerintah pusat sebagai kawasan industri. Meski seharusnya di sekitaran kawasan industri tidak diperkenankan ada rumah penduduk karena dikhawatirkan terimbas efek limbah pabrik, tapi mau gimana lagi? La wong penduduknya udah ada duluan sejak zaman baheula sebelum gedung-gedung pabrik itu resmi dibangun. Mau ngusir? Susah!

Yaudalah nikmati aja.

Btw aku kasih tau gambarannya dulu, industri yang aku maksud adalah industri raksasa, jangan dibayangkan industri rumah tangga yang kecil-kecilan.

Idealnya lokasi industri itu minimalnya berjarak 10 km dari lokasi penduduk, hal ini untuk meminimalisir dampak negatif yang diterima penduduk dari udara tercemar limbah industri.

Lah rumahku? Atau rumah temanku? Tidak sampai 1 km pun jarak rumah kami dengan gedung pabrik raksasa itu. Jalan kaki kurang dari 10 menit pun sampai. Serius.

Pas aku SMA, mukin pas SMA kelas XII yah, berkunjung ke rumah temen yang rumahnya dekeeeeeeeetttt banget sama pabrik, hanya selang satu rumah + satu comberan biar bisa nyentuh pabrik. Nah kebetulan pas aku ke sana lagi ada pengehentian sementara pembangunan gedung pabrik tepung (kalo aku kasih tau nama produknya pasti para pembaca sekalian manggut2).

Temanku itu mengajak kami (aku dan temanku yang lainnya) ke lokasi pembanguna lewat belakng rumahnya banget, saat itu aku melongo di pinggir tanah lapang yang saaaaaaaaangat Luas berdiri beberapa paku bumi yang luar biasa besar, tinggi kokoh, tapi kalau aku toel takutnya jatuh ngerobohin haha. Masih ada beberapa paku bumi yang lagi rebahan... Wkwkw

Jadi istilah "Paku Bumi" itu cocok banget untuk menamai sebuh batangan beton berdiameter puluhan centimeter dengan panjang puluhan meter. Itulah salah satu kreasi tangan-tangan kreatif. Subhaanallah... Padahal itu baru pakunya aja aku udah berdecak kagum.

Kamu Pendiam? Atau Cerewet?


Perhatikanlah teman-teman kalian, macem-macem pastinya. Ada yang cerewet-aja, cerewet-banget, kebangetan-cerewetnya, tapi ada juga yang pendiam, lumayan agak-pendiam, dan yang pendiam-banget.

Kamu termasuk yang mana?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kamu harus meminta tanggapan dari teman-biasamu, teman-terdekat/sahabatmu, saudaramu, saudara kandungmu, dan orangtuamu.
Kenapa? Karena pasti kalian memiliki karakter yang berubah di setiap menghadapi orang-orang tersebut. Diantara mereka pasti memberikan jawaban yang berbeda, mungkin hanya akan mendekati pada kategori pendiam atau cerewet, namun dalam level yang berbeda.

Beuh, apalagi kalau yang kamu hadapi adalah seorang bos calon tempatmu bekerja (ceritanya lagi wawancara lamaran pekerjaan) pasti kamu akan JA'IM alias jaga imej, dan memang harus begitu. Tidak mungkin kita menampakkan sifat asli di hadapan orang yang akan kita segani... Ga mungkin banget, suerr 100%...

Bagi kamu yang cerewet banget, pasti bakalan menahan mulutmu untuk tidak nyerocos berisik kaya sirine kereta api mau lewat. Aku yakin suaramu bakalan mirip bunyi tanda pedagang kue putu lewat, kalem-adem enak didenger.

Begitupun kamu yang pendiem/pendiem-banget ga mungkin akan bersikap laksana tiang pancang gedung pabrik yang kokoh pendirian alias diem wae, pastinya akan berusaha meningkatkan minat bicaranya. Hehe

Kalau ingin tahu seberapa pendiam/cerewetnya kita, tanyalah pada teman dekat/sahabatmu, saya yakin sikap/karakter kalian terhadapa mereka adalah karakter yang sesungguhnya.

Kanapa bukan bertanya kepada orangtuanya? Karena kepada orangtua, kalian pastinya akan jaga-imej sebagai bentuk penghormatan dan bakti kalian kepada beliau. Tentu ini benar, kita harus bersikap sopan, hormat, berbakti, nurut kepada orangtua.

Kenapa bukan kepada saudara/saudara kandung? Ada faktor-X yang membuat kalian tidak tampil adanya di hadapan mereka. Pasti.
Faktor-X tersebut misalnya apa? PIKIR DEWEK.

Yaudalah yah...heheehe

Pemimpin Sejati

Bismillaah...
Kali ini aku ingin berbagi kisah yang mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.

Seperti biasa di setiap bulan Ramadhan, di kampungku (mungkin di kampung mana pun juga) selalu diadakan shalat Tarawih berjama'ah di masjid. Dalam kondisi bagaimana pun, termasuk di musim pandemi ini. Alhamdulillah kami masih diberi kesehatan.
Semua orang termasuk kaum wanita juga shalat di masjid. Kenapa saya katakan begini? Karena di hari-hari biasanya, selain Ramadhan, hanya beberapa kaum wanita yang shalat di masjid pada waktu shalat Maghrib, 'Isya, dan Shubuh yaitu biasanya ibu-ibu yang sudah cukup sepuh. Hal ini hanya kebiasaan saja, bukan suatu anjuran. Jadi bagi kaum wanita yang masih muda pun tak apa-apa. Walau pun kita tahu kalau wanita lebih baik shalat di rumah.

Di malam hari ke-9 menuju hari ke-10 Ramadhan 1441 H kali ini terjadi suatu peristiwa yang tidak biasa di mataku.

Kejadian tersebut adalah keputusan menentukan "Siapa imam shalat 'isya dan tarawih malam ini?"
Pasalnya, bapak-bapak yang biasa menjadi imam shalat berjama'ah kali ini berhalangan hadir, entah karena apa, namun katanya sih sedang tidak ada di rumah (berdasarkan info dari tetangga dekatnya).
Sebenarnya ada satu bapak yang biasa menjadi imam, namun meskipun beliau hadir ternyata beliau sedang sakit, sehingga tidak kuat secara fisik untuk menjadi imam.
Kebiasaan ini bukan berarti membebankan tugas menjadi imam kepada salah-satu/beberapa orang tertentu saja, namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam, antara lain:
1. Yang lebih tua diantara yang lainnya + mampu membaca Al-Qur'an paling baik diantara yang lainnya.*
2. Jika ada yang paling tua namun kurang baik bacaan Al-Qur'annya, pilihlah yang lebih baik bacaan Al-Qur'annya meskipun lebih muda.*

(*Tolong koreksi jika ada yang salah atau kurang tepat)

Jadi siapa yang siap jadi imam? Terjadilah saling tunjuk antara beberapa bapak-bapak dan pemuda yang hadir (namun mereka ini tidak biasa menjadi imam di masjid)... Mungkin kejadian ini berlangsung sekitar dua menit... Waktu segini tuh lumayan lama loh.

Akhirnya, satu orang bapak yang paling muda di antara bapak-bapak lainnya namun lebih tua dari para pemuda, beliau merelakan diri untuk menjadi imam.
Alhamdulillah, kami semua lega sekali.

Shalat 'isya berjalan dengan lancar atas izin Allah, dengan imam yang baik bacaan Al-Qur'annya.

Selesai shalat 'isya, sang imam berpindah tempat ke shaf belakang untuk shalat sunnah ba'diyah 'isya, begitupun jama'ah lainnya. Setelah shalat sunnah ba'diyah 'isya selesai sang imam tidak lekas ke tempat imam, nampaknya mengharapkan ada di antara jama'ah lain yang rela menjadi imam shalat tarawih, namun nyatanya tetap tidak ada.

Akhirnya sang imam berbicara kepada jama'ah mohon bantuannya (perbaikan) apabila ada yang salah saat shalat tarawih nanti. (Syiap pak).
Akhirnya beliau pun kembali ke tempat imam dan melanjutkan memimpin shalat sunnah tarawih dan witir.

Alhamdulillah... Sekian.
Mudah-mudahan dari kisah ini dapat diambil pelajaran berharga dalam kehidupan bermasyarakat... Aamiin.




Nah buat aku pribadi, beberapa pelajaran yang dapat aku ambil antara lain:
1. Sangat penting untuk mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sejak kecil karena akan sangat bermanfaat untuk kehidupan di hari kemudian, terutama agar bacaan shalat kita menjadi lebih baik. Ingat, amalan yang pertama kali akan dihisab di akhirat nanti adalah amalan shalat kita. Jadi mari kita perbaiki shalat kita.

2. Jika kita ingin menghafal Al-Qur'an, maka menghafallah ketika bacaan Al-Qur'an kita sudah baik dan benar, karena akan lebih sulit memperbaiki jika terlanjur menghafal yang salah.

3. Minimalnya, bekalilah diri ini dengan menghafal juz 'amma untuk bacaan ketika shalat.

4. Terutama bagi kaum adam, menjadi imam shalat berjama'ah adalah salah satu tantangan, keberanian dan kebiasaan. Jadi mulailah belajar menjadi imam yang baik agar saat dewasa nanti siap menjadi imam bagi masyarakat.

5. Perhatikan 'adab menjadi imam.

6. Di mataku, pria yang mampu menjadi imam itu keren. Hehe

Wallahu a'lam bishshawab.

Jika ada pelajaran lain yang dapat kalian pelajari, tolong tulia di kolom komentar yah... Semoga bisa menjadi manfaat kebaikan.