Padahal aku...
Semenjak menikah dan punya anak,
Prioritasku selalu tentang 'rumah'
Pulang kerja langsung ke rumah,
Ada waktu kosong sedikit, aku (kabur) pulang ke rumah untuk sekadar beres-beres
Ada waktu libur, aku utamakan quality time dengan orang rumah
Rutinitasku seputar tempat kerja & rumah saja
...
Awal2 seringkali aku menolak ajakan teman untuk nyantai, hiburan sedikit
Lama2 mereka tidak mengajakku lagi, karena ya pasti aku tolak
Kenapa sih aku selalu menolak?
1. Takut pulangnya telat jemput anak di daycare
2. Takut pulangnya telat jemput anak di rumah omahnya, takut merepotkan, takut ditelpon/Videocall kalau ketahuan di luar tempat kerja kan jadi bahan omongan di belakang.
3. Takut suami ga ridho kalau tau aku ke mana-mana, yang mana hal itu pasti diungkit saat ada perdebatan. Jadinya hanya kesenangan sesaat yang menimbulkan luka.
...
Ketakutan-ketakutan itu yang ternyata menumpuk dan jadi bahan ledakan. Karena hati kecilku tentu ingin seperti teman2 yang lain bisa santai sedikit tanpa ada ketakutan2 itu.
Ingin ada aktivitas lain yang menjadi sedikit hiburan.
Boro-borolah aku ikut club ini, or komunitas itu.
...
Tapi semua yang aku lakukan tidak "telihat" oleh orang rumah. Ya mungkin ini ujian keikhlasanku, tpi nyatanya tidak dihargai itu menimbulkan kelelahan bertumpuk.
...
Mak, aku ingin dipeluk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar