Satu hari yang lalu merupakan salah satu hari cantik dengan tanggal 'lumayan' unik, 11-11-2019.
Yaps, di tanggal tersebut banyak moment yang dibuat unik juga. Misalnya saja para agen 'ol-shop' memberi diskon 11% bahkan ada harga makanan yang cuma Rp 11,00. Begitulah.
Tapi yang lebih viral lagi adalah pada tanggal tersebut ada Pembukaan Pendaftaran CPNS di Indonesia.
Siapa yang tak gembira dengan kabar tersebut?
Siapa ya?
Mungkin ada, tapi tidak banyak.
Batas pendaftarannya adalah sampai tanggal 24 November 2019. So bagi kalian yang belum daftar, silahkan daftar. :D
Selasa, 12 November 2019
Aku panggil dia 'Dho'
Aku tinggal di sebuah kampung bernama PP (inisial aja). Di sini aku berteduh di sebuah ruangan berukuran 3x3 (kurang lebih sih). Ngekost...
Kebetulan kamar kost'anku bersebelahan dengan rumah ibu kost. Bahkan ada pintu penghubung dengan dapur rumah beliau.
Di sini ada 5 kamar yang disewakan.
Tetanggaku, penyewa juga, adalah satu keluarga kecil yang terdiri dari empat kepala. Ayah-ibu & dua anak laki-laki kecil, kisaran usia 4 tahun dan satu lagi masih bayi, mungkin baru berusia 6 bulan. Entahlah, aku emang ga terlalu dekat dengan tetanggaku itu. Sebatas menyapa, just say hi...
Anak laki-laki kecil usia 4 tahun itu berwajah manis dan ganteng, jika sudah besar kemungkinan banyak yang naksir. Wkwkw
Aku panggil dia 'Dho'...
Mungkin teman-teman di sini dapat menebak namanya. Ya kan?
'Dho' ini anak yang mandiri, tidak cengeng, dan pandai bergaul. Terlihat dari kesehariannya yang selalu bermain ke sana-ke mari tanpa didampingi orangtuanya. Karena Ayahnya bejualan dan ibunya menjadi asisten rumah tangga di sebuah perumahan yang tidak jauh dari kampung PP.
Setiap pagi aku lihat 'Dho' main-main di halaman rumah entah mengorek-orek tanah atau apa. Sendiri. Pernah suatu pagi dia diajak ngobrol dengan ibu kost, kemudian 'Dho' bilang "Aku laper bu", akhirnya ibu kost memberinya makan.
Melihatnya, aku jadi teringat masa kecilku yang manja. Jadi sedih. Dan sebal sendiri. Kenapa aku manjaaaa... Heummm
Melihat 'Dho' yang tampak mandiri sepertinya tidak pernah mengeluh atau merajuk kepada orangtuanya. Hebat.
Dari anak kecil ini aku dapat mengambil beberapa 'pelajaran hidup'.
Terima kasih 'Dho'.
Kebetulan kamar kost'anku bersebelahan dengan rumah ibu kost. Bahkan ada pintu penghubung dengan dapur rumah beliau.
Di sini ada 5 kamar yang disewakan.
Tetanggaku, penyewa juga, adalah satu keluarga kecil yang terdiri dari empat kepala. Ayah-ibu & dua anak laki-laki kecil, kisaran usia 4 tahun dan satu lagi masih bayi, mungkin baru berusia 6 bulan. Entahlah, aku emang ga terlalu dekat dengan tetanggaku itu. Sebatas menyapa, just say hi...
Anak laki-laki kecil usia 4 tahun itu berwajah manis dan ganteng, jika sudah besar kemungkinan banyak yang naksir. Wkwkw
Aku panggil dia 'Dho'...
Mungkin teman-teman di sini dapat menebak namanya. Ya kan?
'Dho' ini anak yang mandiri, tidak cengeng, dan pandai bergaul. Terlihat dari kesehariannya yang selalu bermain ke sana-ke mari tanpa didampingi orangtuanya. Karena Ayahnya bejualan dan ibunya menjadi asisten rumah tangga di sebuah perumahan yang tidak jauh dari kampung PP.
Setiap pagi aku lihat 'Dho' main-main di halaman rumah entah mengorek-orek tanah atau apa. Sendiri. Pernah suatu pagi dia diajak ngobrol dengan ibu kost, kemudian 'Dho' bilang "Aku laper bu", akhirnya ibu kost memberinya makan.
Melihatnya, aku jadi teringat masa kecilku yang manja. Jadi sedih. Dan sebal sendiri. Kenapa aku manjaaaa... Heummm
Melihat 'Dho' yang tampak mandiri sepertinya tidak pernah mengeluh atau merajuk kepada orangtuanya. Hebat.
Dari anak kecil ini aku dapat mengambil beberapa 'pelajaran hidup'.
Terima kasih 'Dho'.
Senin, 11 November 2019
Tak habis pikir~
Aku temukan sebuah kenyataan...
Pahit rasanya untuk kuceritakan...
Tak pantas...
Tapi kalian semua harus tahu.
Pengaduan seorang siswa kepada gurunya yang dipercaya tak akan membicarakan di luar ruang adalah ungkapan kejujuran. Murni. Tanpa 'bumbu'.
Nanti aku ceritakan apa yang diungkapkan oleh siswaku itu. Nanti. Tidak sekarang.
Penasaran?
#PCdiKolomKomentarYaa
Pahit rasanya untuk kuceritakan...
Tak pantas...
Tapi kalian semua harus tahu.
Pengaduan seorang siswa kepada gurunya yang dipercaya tak akan membicarakan di luar ruang adalah ungkapan kejujuran. Murni. Tanpa 'bumbu'.
Nanti aku ceritakan apa yang diungkapkan oleh siswaku itu. Nanti. Tidak sekarang.
Penasaran?
#PCdiKolomKomentarYaa
Adikku Sayang (3)
(Untuk terakhir kalinya)
Aku,
Anak bungsu.
Terkahir.
Kesayangan.
Harapan.
Segalanya.
:D
Tapi adikku banyaaak banget...
Aku temukan mereka di bangku kuliah.
Mereka terdiri dari Pelajar dan Mahasiswa.
Oke, adikku yang Pelajar.
Aku temukan di akhir masa kuliahku. Saat aku semester delapan. Mereka bertiga. Beda ibu & bapak. Jelas. ^_^ haha
AQA
Adik yang paling ceria, lucu, menggemaskan dan selalu bikin kangen. Aku sangat bahagia ketika dia menyapaku 'teh' dengan senyumannya yang khas dan manis.
Aku takut kehilangan senyumannya, pasalnya aku pernah membuatnya kecewa. Beruntungnya, dia anak yang baik hati & pandai balas budi. Ketulusan senyumnya terasa hingga ke hati.
Sebuah syair lagu "Senyuman dari hati, jatuh ke hati", itulah yang kurasakan.
Ya Allah, semoga adikku ini selalu jadi adik yang baik, anak yang shaleh & berbakti. Aamiin...
QJI
Pendiam, tak banyak tanya, dan penurut. Meski masih tampak kekanak-kanakan, tak apa, itulah bukti bahwa dia anak yang ceria sesungguhnya.
Pendiam dan pemalu, cukup menyapaku dengan senyuman. Ketulusan. Menggemaskan.
Tak mampu aku mendefinisikannya lebih lanjut. Cukup bahagia dengan perkembangan belajarnya yang tambah semangat. Alamdulillah.
FN
Cool, berkharisma.
Banyak tanya, tapi hanya seputar hal PENTING saja. Dan susah dihubungi. :D
Bagus, jarang mengoperasikan handphone adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh remaja millenial saat ini.
Pertahankan yah sayang :)
Hmmmm
Aku tak tahu, apakah ada peluang bahwa mereka akan membaca tulisanku ini? Pasti ada. Entah berapa persen kemungkinannya.
^_^
Aku,
Anak bungsu.
Terkahir.
Kesayangan.
Harapan.
Segalanya.
:D
Tapi adikku banyaaak banget...
Aku temukan mereka di bangku kuliah.
Mereka terdiri dari Pelajar dan Mahasiswa.
Oke, adikku yang Pelajar.
Aku temukan di akhir masa kuliahku. Saat aku semester delapan. Mereka bertiga. Beda ibu & bapak. Jelas. ^_^ haha
AQA
Adik yang paling ceria, lucu, menggemaskan dan selalu bikin kangen. Aku sangat bahagia ketika dia menyapaku 'teh' dengan senyumannya yang khas dan manis.
Aku takut kehilangan senyumannya, pasalnya aku pernah membuatnya kecewa. Beruntungnya, dia anak yang baik hati & pandai balas budi. Ketulusan senyumnya terasa hingga ke hati.
Sebuah syair lagu "Senyuman dari hati, jatuh ke hati", itulah yang kurasakan.
Ya Allah, semoga adikku ini selalu jadi adik yang baik, anak yang shaleh & berbakti. Aamiin...
QJI
Pendiam, tak banyak tanya, dan penurut. Meski masih tampak kekanak-kanakan, tak apa, itulah bukti bahwa dia anak yang ceria sesungguhnya.
Pendiam dan pemalu, cukup menyapaku dengan senyuman. Ketulusan. Menggemaskan.
Tak mampu aku mendefinisikannya lebih lanjut. Cukup bahagia dengan perkembangan belajarnya yang tambah semangat. Alamdulillah.
FN
Cool, berkharisma.
Banyak tanya, tapi hanya seputar hal PENTING saja. Dan susah dihubungi. :D
Bagus, jarang mengoperasikan handphone adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh remaja millenial saat ini.
Pertahankan yah sayang :)
Hmmmm
Aku tak tahu, apakah ada peluang bahwa mereka akan membaca tulisanku ini? Pasti ada. Entah berapa persen kemungkinannya.
^_^
Adikku Sayang (2)
(Sekali lagi)
Aku,
Anak bungsu...
Enam bersaudara.
Aku temukan adik-adikku ini di suatu moment yang dulu pernah aku takuti bila terjadi. Meskipun aku tahu pasti akan terjadi. Dan memang harus aku hadapi, sendiri.
Aku temukan adik-adikku ini di suatu tempat di mana aku menghadapi suatu 'moment' menakutkan itu.
Yah, aku temukan adik-adikku ini di sekolah tempatku 'do a research'.
Mereka...
Anak-anak yang cerdas, berprestasi, berakhlakulkarimah, dan sholeh.
Rasa sayangku kepada mereka mungkin tak akan pernah terucap. Tak kan mungkin.
Aku mewujudkan rasa sayangku dengan caraku. Aku ingin membantu mereka di setiap moment yang bisa aku bantu.
Sayangnya... Tak mudah bagiku untuk menemui adik-adikku ini. Tak mudah. Kecuali atas izin-Nya. Aku hanya dapat menemui mereka di saat-saat tak menentu. Tak bisa setiap saat. Sampai-sampai aku sering memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa bertemu dan bercengkrama dengan adik-adikku itu.
Tak dapat berjumpa, bukan berarti mereka tak mau menemuiku. Hanya saja aku yang tak pernah bilang bahwa aku ingin bertemu dengannya.
Aku cukup bahagia meski hanya mampu melihat mereka dari kejauhan, itu artinya mereka baik-baik saja. Dalam keadaan sehat.
Bahagiaku akan membuncah kala dapat melihat mereka tersenyum. Cukup. Cukup membuatu SANGAT bahagia. Ya Allah, Alhamdulillaah.
Adik-adikku sayang,
AQA, QJI, & FN...
Semoga selalu bahagia dan tercapai cita-cita mulia kalian... Aamiin.
Aku,
Anak bungsu...
Enam bersaudara.
Aku temukan adik-adikku ini di suatu moment yang dulu pernah aku takuti bila terjadi. Meskipun aku tahu pasti akan terjadi. Dan memang harus aku hadapi, sendiri.
Aku temukan adik-adikku ini di suatu tempat di mana aku menghadapi suatu 'moment' menakutkan itu.
Yah, aku temukan adik-adikku ini di sekolah tempatku 'do a research'.
Mereka...
Anak-anak yang cerdas, berprestasi, berakhlakulkarimah, dan sholeh.
Rasa sayangku kepada mereka mungkin tak akan pernah terucap. Tak kan mungkin.
Aku mewujudkan rasa sayangku dengan caraku. Aku ingin membantu mereka di setiap moment yang bisa aku bantu.
Sayangnya... Tak mudah bagiku untuk menemui adik-adikku ini. Tak mudah. Kecuali atas izin-Nya. Aku hanya dapat menemui mereka di saat-saat tak menentu. Tak bisa setiap saat. Sampai-sampai aku sering memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa bertemu dan bercengkrama dengan adik-adikku itu.
Tak dapat berjumpa, bukan berarti mereka tak mau menemuiku. Hanya saja aku yang tak pernah bilang bahwa aku ingin bertemu dengannya.
Aku cukup bahagia meski hanya mampu melihat mereka dari kejauhan, itu artinya mereka baik-baik saja. Dalam keadaan sehat.
Bahagiaku akan membuncah kala dapat melihat mereka tersenyum. Cukup. Cukup membuatu SANGAT bahagia. Ya Allah, Alhamdulillaah.
Adik-adikku sayang,
AQA, QJI, & FN...
Semoga selalu bahagia dan tercapai cita-cita mulia kalian... Aamiin.
Adikku Sayang (1)
Aku,
anak bungsu...
Ketika usiaku sekitar 2 tahun, ibuku mengandung. Tapi entah di usia kandungan berapa bulan, ibuku keguguran. Jadi aku gapunya adik. Sampai kapanpun.
Tapi, sekarang aku punya adik.
Banyak dan sudah besar.
Aku terharu karena memiliki mereka, adik yang manis, mandiri, penyayang, pengertian, dan pandai menghibur.
Aku temukan adik-adikku ini di suatu tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, tempat yang nyaman seperti rumah keduaku.
Di banyak kesempatan, adik-adikku ini selalu bisa membuatku tersenyum tertawa dikala aku sedih, meskipun mereka tak tahu aku sedang sedih kala itu.
Aku selalu datang kepada mereka, aku akan cerita panjang lebar di kala aku bahagia. Aku pun datang kepada mereka di kala sedih tanpa menceritakan kesedihanku, karena ku tahu mereka pasti akan membuatku ceria tertawa kembali tanpa diminta.
Ya Allah, selalu bahagiakan mereka sepanjang waktu. Jadikan mereka pemuda yang sukses di setiap langkah baiknya. Aamiin... :)
Kemarin...11-11-2019 tanggal cantik.
Akan selalu ku ingat moment kemarin malam, aku datangi adik-adikku saat aku merasa kecewa karena sebuah pekerjaan. Tapi aku tak menceritakan hal itu.
Saat aku datang, adik-adikku sedang bercengkrama ria sambil memasak makan malam. Salah satu adikku bertanya, "Teteh mau ikutan makan kan?"
Kujawab 'tidak' karena sedang tidak mood untuk makan dan ga terlalu lapar. Mereka sepertinya kecewa. Hingga selesai masak mereka terus membujukku untuk makan bersama dengan caranya, "Teh Al harus makan, kalau ga ikut makan aku ga jadi ngerjain 'tugas' loh!"
Salah satu adikku ini memang sedang banyak tugas, tugas kawakan sejak setahun lalu yang tak kunjung selesai. Aku pun sudah kehabisan kesabaran untuk membujuknya segera mengerjakan tugas tersebut.
Akhirnya aku ikut makan bersama dengan harapan adikku ini semangat untuk segera mencicil tugasnya.
~
Sambil makan biasa kita ngobrol-ngobrol ringan. Adikku-adikku ini profesional, chef kreatif. Sambil makan malam, mereka sambil membuat 'teh thai'.
Sajian pertama teh itu dia buatkan untukku, tak boleh ada yang mencicipi sebelum aku berikan testimoni hirupan pertama teh itu.
Ya Allah betapa bahagianya aku 'memiliki' mereka.
anak bungsu...
Ketika usiaku sekitar 2 tahun, ibuku mengandung. Tapi entah di usia kandungan berapa bulan, ibuku keguguran. Jadi aku gapunya adik. Sampai kapanpun.
Tapi, sekarang aku punya adik.
Banyak dan sudah besar.
Aku terharu karena memiliki mereka, adik yang manis, mandiri, penyayang, pengertian, dan pandai menghibur.
Aku temukan adik-adikku ini di suatu tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, tempat yang nyaman seperti rumah keduaku.
Di banyak kesempatan, adik-adikku ini selalu bisa membuatku tersenyum tertawa dikala aku sedih, meskipun mereka tak tahu aku sedang sedih kala itu.
Aku selalu datang kepada mereka, aku akan cerita panjang lebar di kala aku bahagia. Aku pun datang kepada mereka di kala sedih tanpa menceritakan kesedihanku, karena ku tahu mereka pasti akan membuatku ceria tertawa kembali tanpa diminta.
Ya Allah, selalu bahagiakan mereka sepanjang waktu. Jadikan mereka pemuda yang sukses di setiap langkah baiknya. Aamiin... :)
Kemarin...11-11-2019 tanggal cantik.
Akan selalu ku ingat moment kemarin malam, aku datangi adik-adikku saat aku merasa kecewa karena sebuah pekerjaan. Tapi aku tak menceritakan hal itu.
Saat aku datang, adik-adikku sedang bercengkrama ria sambil memasak makan malam. Salah satu adikku bertanya, "Teteh mau ikutan makan kan?"
Kujawab 'tidak' karena sedang tidak mood untuk makan dan ga terlalu lapar. Mereka sepertinya kecewa. Hingga selesai masak mereka terus membujukku untuk makan bersama dengan caranya, "Teh Al harus makan, kalau ga ikut makan aku ga jadi ngerjain 'tugas' loh!"
Salah satu adikku ini memang sedang banyak tugas, tugas kawakan sejak setahun lalu yang tak kunjung selesai. Aku pun sudah kehabisan kesabaran untuk membujuknya segera mengerjakan tugas tersebut.
Akhirnya aku ikut makan bersama dengan harapan adikku ini semangat untuk segera mencicil tugasnya.
~
Sambil makan biasa kita ngobrol-ngobrol ringan. Adikku-adikku ini profesional, chef kreatif. Sambil makan malam, mereka sambil membuat 'teh thai'.
Sajian pertama teh itu dia buatkan untukku, tak boleh ada yang mencicipi sebelum aku berikan testimoni hirupan pertama teh itu.
Ya Allah betapa bahagianya aku 'memiliki' mereka.
Sabtu, 09 November 2019
Guru Selamanya
Beberapa bulan lalu, aku pernah diminta menjadi guru pengganti di salah satu sekolah Favorit di kota tempatku mengais rezeki.
Tidak lama, hanya empat hari. Selama empat hari tersebut aku berkesempatan mengajar di enam kelas yang terdiri dari dua kelas program Mipa dan empat kelas program IPS. Yaps, aku Mengampu mata pelajaran matematika wajib kelas XI.
~
Jauh hari sebelumnya, mungkin sekitar dua tahun sebelumnya, aku pernah mendapat nasihat dari seorang kakak tingkat yang baru saja selesai tugas PPLK. Begini nasihatnya:
"Kalau ingin dihargai dan disayang oleh anak murid PPLK, cara kita mengajar harus lebih baik dan menarik daripada guru aslinya."
Dalam benakku, benar juga yah. Setuju.
~
Nah, ketika aku menjadi guru pengganti, mungkin cara mengajarku ini lebih enak dan penjelasanku lebih mudah untuk dipahami oleh siswa. Bukannya aku berbangga diri atau memuji sendiri yah, tapi begitulah pernyataan yang diungkapkan langsung oleh siswa-siswiku. Mereka ingin tetap diajar olehku hingga mereka kelas XII.
Aku tahu itu rasanya tidak mungkin, karena untuk menjadi guru honorer saat ini tidak mudah dan sekolah pun rasanya tidak sanggup memberi honor. Karena memang tidak ada anggarannya. Walapun mungkin saat ini aku tak begitu mengharapkan honor, tapi tak dapat dipungkiri juga suatu saat aku pasti membutuhkan honor untuk dapat menyambung hidup. Meskipun aku tahu begitu banyak pintu rizki terbuka lebar. Tak hanya satu. Yang penting kita mau mendatangi pintu itu.
Aku hanya berharap kepada Yang Maha Kuasa jika Dia menghendakiku untuk menjadi guru di sekolah tersebut, tidak akan ada yang bisa mencegahnya.
Begitupun sebaliknya, jika Dia tidak menghendakiku untuk menjadi guru di sana, sekeras apa pun aku berusaha tak akan mungkin terjadi. Wallahu a'lam.
Tapi siapa yang tahu, jika seluruh siswa berdo'a agar aku menjadi gurunya, maka Allah pasti tidak segan untuk mengabulkannya.
Aku hanya bisa tawakkal atas kehendak-Nya.
Tidak lama, hanya empat hari. Selama empat hari tersebut aku berkesempatan mengajar di enam kelas yang terdiri dari dua kelas program Mipa dan empat kelas program IPS. Yaps, aku Mengampu mata pelajaran matematika wajib kelas XI.
~
Jauh hari sebelumnya, mungkin sekitar dua tahun sebelumnya, aku pernah mendapat nasihat dari seorang kakak tingkat yang baru saja selesai tugas PPLK. Begini nasihatnya:
"Kalau ingin dihargai dan disayang oleh anak murid PPLK, cara kita mengajar harus lebih baik dan menarik daripada guru aslinya."
Dalam benakku, benar juga yah. Setuju.
~
Nah, ketika aku menjadi guru pengganti, mungkin cara mengajarku ini lebih enak dan penjelasanku lebih mudah untuk dipahami oleh siswa. Bukannya aku berbangga diri atau memuji sendiri yah, tapi begitulah pernyataan yang diungkapkan langsung oleh siswa-siswiku. Mereka ingin tetap diajar olehku hingga mereka kelas XII.
Aku tahu itu rasanya tidak mungkin, karena untuk menjadi guru honorer saat ini tidak mudah dan sekolah pun rasanya tidak sanggup memberi honor. Karena memang tidak ada anggarannya. Walapun mungkin saat ini aku tak begitu mengharapkan honor, tapi tak dapat dipungkiri juga suatu saat aku pasti membutuhkan honor untuk dapat menyambung hidup. Meskipun aku tahu begitu banyak pintu rizki terbuka lebar. Tak hanya satu. Yang penting kita mau mendatangi pintu itu.
Aku hanya berharap kepada Yang Maha Kuasa jika Dia menghendakiku untuk menjadi guru di sekolah tersebut, tidak akan ada yang bisa mencegahnya.
Begitupun sebaliknya, jika Dia tidak menghendakiku untuk menjadi guru di sana, sekeras apa pun aku berusaha tak akan mungkin terjadi. Wallahu a'lam.
Tapi siapa yang tahu, jika seluruh siswa berdo'a agar aku menjadi gurunya, maka Allah pasti tidak segan untuk mengabulkannya.
Aku hanya bisa tawakkal atas kehendak-Nya.
Mengajar Matematika untuk Anak Guru Matematikaku
Ga pernah terpikir sebelumnya...
Ga nyangka.
Saat aku MTs dulu punya guru favorite, beliau guru matematikaku saat kelas IX.
MTs ku ini terletak di Kabupaten Serang, dekat kotaku tinggal, Kota Cilegon. Ya karena dulu belum ada sistem zonasi sekolah, 90% anak orang tuaku sekolah di luar kota...hehe (berasa jauh, padahal ga begitu ko).
Aku melanjutkan SMA pun sama di luar kota, tapi masih se-Kabupaten dengan letak MTs ku. Dekat. Tinggal naik angkot sekali.
Ga nyangka.
Saat aku MTs dulu punya guru favorite, beliau guru matematikaku saat kelas IX.
MTs ku ini terletak di Kabupaten Serang, dekat kotaku tinggal, Kota Cilegon. Ya karena dulu belum ada sistem zonasi sekolah, 90% anak orang tuaku sekolah di luar kota...hehe (berasa jauh, padahal ga begitu ko).
Aku melanjutkan SMA pun sama di luar kota, tapi masih se-Kabupaten dengan letak MTs ku. Dekat. Tinggal naik angkot sekali.
Back to the topic...
Saat aku kuliah di Kota Serang, ternyata guru Favoritku ini mutasi ke MTs di Kota Serang juga. Baru aku ketahui pas aku kuliah semester akhir.
Beliau menghubungiku via WA, ngajak ketemuan di MTs tempat beliau mengajar sekarang. Aku seneng banget dong, silaturahim. Ternyata beliau minta tolong aku untuk mengajar Les di sekolah tersebut. Aku terima.
Alhamdulillah, menjalin silaturrahim memang mendatangkan rezeki.
Dua minggu lalu, sebelum aku tulis tulisan ini. Beliau minta tolong lagi agar aku jadi guru private matematika anaknya.
Nah ini...
Aku jadi guru matematika untuk anak guru matematikaku~ :D
Unique~
Merasa spesial~
Alhamdulillah mendapat kepercayaan seperti ini ya Allah.
^_^
Selasa, 05 November 2019
Cita-Cita Ibu Guru
Ba'da Maghrib...
Sejak dua bulan lalu, setiap hari selasa sore Aku berangkat menuju sebuah perumahan yang tidak begitu jauh dari kost'anku. Cukup jalan kaki sekitar 15 menit.
What will i do there?
_Menjemput rizki_
Yaps, untuk menyebarkan 'ilmu yang telah Aku peroleh semasa berstatus sebagai pelajar/mahasiswa.
Paham??
Aku menjadi guru private seorang anak dokter klinik kampus, perempuan kelas IX SMP saat ini.
Di tengah pembelajaran, entah bagaimana alurnya, siswiku bertanya, "Mba waktu kecil cita-citanya apa?"
Kuceritakan asal muasal cita-cita kecilku untuk menjadi seorang astronaut...
Mau tau cerita lengkapnya? PC di kolom komentar yah gais ^^÷
Sejak dua bulan lalu, setiap hari selasa sore Aku berangkat menuju sebuah perumahan yang tidak begitu jauh dari kost'anku. Cukup jalan kaki sekitar 15 menit.
What will i do there?
_Menjemput rizki_
Yaps, untuk menyebarkan 'ilmu yang telah Aku peroleh semasa berstatus sebagai pelajar/mahasiswa.
Paham??
Aku menjadi guru private seorang anak dokter klinik kampus, perempuan kelas IX SMP saat ini.
Di tengah pembelajaran, entah bagaimana alurnya, siswiku bertanya, "Mba waktu kecil cita-citanya apa?"
Kuceritakan asal muasal cita-cita kecilku untuk menjadi seorang astronaut...
Mau tau cerita lengkapnya? PC di kolom komentar yah gais ^^÷
Minggu, 03 November 2019
"Ibu MatPem" or "Kakak Fisika"
Akuu....
Yaps, mau ceritain tentang diriku. No comment yah...
Status 'pengangguran'ku hanya berlaku di pagi hari terhitung sejak 2 Oktober lalu. Sejak saat itu aku sudah tidak mengajar pagi hari di sekolah, tugasku sebagai guru pengganti selesai di awal bulan Oktober. Selama satu bulan September 2019, aku menjadi guru 'pengganti', jadilah dipanggil 'ibu' oleh 'anak-anakku'. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi yang ke-sekian kalinya.
Seperti biasa, aku gamau dipanggil 'ibu' karena aku merasa masih muda. Hehe
"Panggil saja kakak/teteh", ucapku di dalam kelas. Tapi anak-anak merasa enggan, karena statusku ya sebagai guru harus dipanggil 'ibu guru', begitu kata mereka. Yaudahdeh :D
Di sekolah pagi itu, aku mengajar mata pelajaran 'Matematika Peminatan' untuk kelas X (ada 8 kelas) dan kelas XI (ada 2 kelas). Yaps, aku mengajar sebanyak 10 kelas, 32 jam pelajaran dalam sepekan. Di pekan pertama saya hampir sakit, kelelahan, karena belum terbiasa. Alhamdulillah di pekan-pekan berikutnya badanku sudah bisa beradaptasi.
Dari sekian banyak siswa, ada yang bilang "Ibu usianya berapa? Kayanya cocok dipanggil 'kakak' daripada 'ibu', keliatannya masih terlalu muda".
Ouch aku bahagiaa dibilang muda... Emang masih muda sih. Hehehe
SEKARANG...
Aku mengajar kelas sore saja, di sekolah yang berbeda. Perlu kalian ketahui yah, dua sekolah ini memiliki persaingan yg cukup sengit, sama-sama bagus, memiliki kualitas tersendiri di bidangnya masing-masing. Dan siswa2nya saling kenal, karena mereka rata-rata berasal dari MTs/SMP yang sama. Temenan.
Jadiii...
Di kelas sore ini, aku mengampu mata pelajaran "FISIKA" untuk kelas X. Kebetulan di kelas sore ini peraturannya tidak terlalu ketat, karena hanya 'Les/tambahan belajar'. Manggilnya boleh apa saja boleh ibu/kakak/teteh, belajar sambil makan, boleh mengoperasikan handphone, bahkan 'main' sosmed seperti instagram dsbLah...
Kebetulan ada anak yang live instragram saat pelajaran berlangsung. Saat aku ngasih penjelasan. Ternyata ada temannya siswaku yang komentar, kebetulan dia siswaku juga yg di kelas pagi. Kalau tidak salah isi komentarnya begini:
"Itu ibu MatPem bukan sih? Mirip."
#MatPem: Matematika Peminatan
Jadilah siswaku yg live ig ini nanya ke aku, "Ibu ngajar Matpem di SMA X?"
Barulah aku cerita bahwa aku sesungguhnya guru Matematika yang lintas ke Fisika. Hehehe
Begitulah...
Yaps, mau ceritain tentang diriku. No comment yah...
Status 'pengangguran'ku hanya berlaku di pagi hari terhitung sejak 2 Oktober lalu. Sejak saat itu aku sudah tidak mengajar pagi hari di sekolah, tugasku sebagai guru pengganti selesai di awal bulan Oktober. Selama satu bulan September 2019, aku menjadi guru 'pengganti', jadilah dipanggil 'ibu' oleh 'anak-anakku'. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi yang ke-sekian kalinya.
Seperti biasa, aku gamau dipanggil 'ibu' karena aku merasa masih muda. Hehe
"Panggil saja kakak/teteh", ucapku di dalam kelas. Tapi anak-anak merasa enggan, karena statusku ya sebagai guru harus dipanggil 'ibu guru', begitu kata mereka. Yaudahdeh :D
Di sekolah pagi itu, aku mengajar mata pelajaran 'Matematika Peminatan' untuk kelas X (ada 8 kelas) dan kelas XI (ada 2 kelas). Yaps, aku mengajar sebanyak 10 kelas, 32 jam pelajaran dalam sepekan. Di pekan pertama saya hampir sakit, kelelahan, karena belum terbiasa. Alhamdulillah di pekan-pekan berikutnya badanku sudah bisa beradaptasi.
Dari sekian banyak siswa, ada yang bilang "Ibu usianya berapa? Kayanya cocok dipanggil 'kakak' daripada 'ibu', keliatannya masih terlalu muda".
Ouch aku bahagiaa dibilang muda... Emang masih muda sih. Hehehe
SEKARANG...
Aku mengajar kelas sore saja, di sekolah yang berbeda. Perlu kalian ketahui yah, dua sekolah ini memiliki persaingan yg cukup sengit, sama-sama bagus, memiliki kualitas tersendiri di bidangnya masing-masing. Dan siswa2nya saling kenal, karena mereka rata-rata berasal dari MTs/SMP yang sama. Temenan.
Jadiii...
Di kelas sore ini, aku mengampu mata pelajaran "FISIKA" untuk kelas X. Kebetulan di kelas sore ini peraturannya tidak terlalu ketat, karena hanya 'Les/tambahan belajar'. Manggilnya boleh apa saja boleh ibu/kakak/teteh, belajar sambil makan, boleh mengoperasikan handphone, bahkan 'main' sosmed seperti instagram dsbLah...
Kebetulan ada anak yang live instragram saat pelajaran berlangsung. Saat aku ngasih penjelasan. Ternyata ada temannya siswaku yang komentar, kebetulan dia siswaku juga yg di kelas pagi. Kalau tidak salah isi komentarnya begini:
"Itu ibu MatPem bukan sih? Mirip."
#MatPem: Matematika Peminatan
Jadilah siswaku yg live ig ini nanya ke aku, "Ibu ngajar Matpem di SMA X?"
Barulah aku cerita bahwa aku sesungguhnya guru Matematika yang lintas ke Fisika. Hehehe
Begitulah...
Langganan:
Postingan (Atom)