Sist&bro, kali ini aku mau bikin cerpen bertemakan "Pendidikan Karakter"
------------------------------------------------------------------------------
Fiya dan Tiya adalah dua orang ibu-ibu kakak beradik yang selisih usianya sekitar lima tahun. Tiya sang kakak menikah dengan seorang pedagang cat tembok, kini mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
Sementara Fiya, sang adik, bersuamikan seorang pegawai swasta. Mereka juga dikarunia dua orang, hanya saja keduanya perempuan.
Semenjak keduanya menikah, tempat tinggal mereka berpisah. Begitupun nasib mereka sangat jauh berbeda. Penghasilan suami Tiya yang seorang pedagang cat tembok ternyata tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya dengan baik karena jualannya banyak dihutangi oleh pembeli yang sulit sekali membayar meski sudah ditagih berkali-kali.
Minggu, 03 Mei 2020
Sabtu, 02 Mei 2020
Paku Bumi
Ada yang tidak tahu paku?
Hah? Ada?
Keterlaluan sekali.
Aku pikir, bahkan seorang anak mami pun akan tahu bentukan dan kegunaan sebuah paku.
Kalau ada yg belum tahu, sini aku kasih tahu!
Ngga mau tahu juga?
SOMBONG KALI KAU
Hahahhaha
Gimana prolog di atas? Terlalu biasa yah.
Di sesi ini ya kalo kalian cerdas pasti tahulah apa yang akan kubahas. Iya tentang sebuah atau beberapa buah paku. Namun paku yang ini adalah paku luar biasa yang tidak banyak orang pernah lihat, aku sangat yakin itu!
Aku merasa beruntung (meski pernah menyesali) tinggal di sebuah kawasan yang ternyata sudah disetujui pemerintah pusat sebagai kawasan industri. Meski seharusnya di sekitaran kawasan industri tidak diperkenankan ada rumah penduduk karena dikhawatirkan terimbas efek limbah pabrik, tapi mau gimana lagi? La wong penduduknya udah ada duluan sejak zaman baheula sebelum gedung-gedung pabrik itu resmi dibangun. Mau ngusir? Susah!
Yaudalah nikmati aja.
Btw aku kasih tau gambarannya dulu, industri yang aku maksud adalah industri raksasa, jangan dibayangkan industri rumah tangga yang kecil-kecilan.
Idealnya lokasi industri itu minimalnya berjarak 10 km dari lokasi penduduk, hal ini untuk meminimalisir dampak negatif yang diterima penduduk dari udara tercemar limbah industri.
Lah rumahku? Atau rumah temanku? Tidak sampai 1 km pun jarak rumah kami dengan gedung pabrik raksasa itu. Jalan kaki kurang dari 10 menit pun sampai. Serius.
Pas aku SMA, mukin pas SMA kelas XII yah, berkunjung ke rumah temen yang rumahnya dekeeeeeeeetttt banget sama pabrik, hanya selang satu rumah + satu comberan biar bisa nyentuh pabrik. Nah kebetulan pas aku ke sana lagi ada pengehentian sementara pembangunan gedung pabrik tepung (kalo aku kasih tau nama produknya pasti para pembaca sekalian manggut2).
Temanku itu mengajak kami (aku dan temanku yang lainnya) ke lokasi pembanguna lewat belakng rumahnya banget, saat itu aku melongo di pinggir tanah lapang yang saaaaaaaaangat Luas berdiri beberapa paku bumi yang luar biasa besar, tinggi kokoh, tapi kalau aku toel takutnya jatuh ngerobohin haha. Masih ada beberapa paku bumi yang lagi rebahan... Wkwkw
Jadi istilah "Paku Bumi" itu cocok banget untuk menamai sebuh batangan beton berdiameter puluhan centimeter dengan panjang puluhan meter. Itulah salah satu kreasi tangan-tangan kreatif. Subhaanallah... Padahal itu baru pakunya aja aku udah berdecak kagum.
Hah? Ada?
Keterlaluan sekali.
Aku pikir, bahkan seorang anak mami pun akan tahu bentukan dan kegunaan sebuah paku.
Kalau ada yg belum tahu, sini aku kasih tahu!
Ngga mau tahu juga?
SOMBONG KALI KAU
Hahahhaha
Gimana prolog di atas? Terlalu biasa yah.
Di sesi ini ya kalo kalian cerdas pasti tahulah apa yang akan kubahas. Iya tentang sebuah atau beberapa buah paku. Namun paku yang ini adalah paku luar biasa yang tidak banyak orang pernah lihat, aku sangat yakin itu!
Aku merasa beruntung (meski pernah menyesali) tinggal di sebuah kawasan yang ternyata sudah disetujui pemerintah pusat sebagai kawasan industri. Meski seharusnya di sekitaran kawasan industri tidak diperkenankan ada rumah penduduk karena dikhawatirkan terimbas efek limbah pabrik, tapi mau gimana lagi? La wong penduduknya udah ada duluan sejak zaman baheula sebelum gedung-gedung pabrik itu resmi dibangun. Mau ngusir? Susah!
Yaudalah nikmati aja.
Btw aku kasih tau gambarannya dulu, industri yang aku maksud adalah industri raksasa, jangan dibayangkan industri rumah tangga yang kecil-kecilan.
Idealnya lokasi industri itu minimalnya berjarak 10 km dari lokasi penduduk, hal ini untuk meminimalisir dampak negatif yang diterima penduduk dari udara tercemar limbah industri.
Lah rumahku? Atau rumah temanku? Tidak sampai 1 km pun jarak rumah kami dengan gedung pabrik raksasa itu. Jalan kaki kurang dari 10 menit pun sampai. Serius.
Pas aku SMA, mukin pas SMA kelas XII yah, berkunjung ke rumah temen yang rumahnya dekeeeeeeeetttt banget sama pabrik, hanya selang satu rumah + satu comberan biar bisa nyentuh pabrik. Nah kebetulan pas aku ke sana lagi ada pengehentian sementara pembangunan gedung pabrik tepung (kalo aku kasih tau nama produknya pasti para pembaca sekalian manggut2).
Temanku itu mengajak kami (aku dan temanku yang lainnya) ke lokasi pembanguna lewat belakng rumahnya banget, saat itu aku melongo di pinggir tanah lapang yang saaaaaaaaangat Luas berdiri beberapa paku bumi yang luar biasa besar, tinggi kokoh, tapi kalau aku toel takutnya jatuh ngerobohin haha. Masih ada beberapa paku bumi yang lagi rebahan... Wkwkw
Jadi istilah "Paku Bumi" itu cocok banget untuk menamai sebuh batangan beton berdiameter puluhan centimeter dengan panjang puluhan meter. Itulah salah satu kreasi tangan-tangan kreatif. Subhaanallah... Padahal itu baru pakunya aja aku udah berdecak kagum.
Kamu Pendiam? Atau Cerewet?
Perhatikanlah teman-teman kalian, macem-macem pastinya. Ada yang cerewet-aja, cerewet-banget, kebangetan-cerewetnya, tapi ada juga yang pendiam, lumayan agak-pendiam, dan yang pendiam-banget.
Kamu termasuk yang mana?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kamu harus meminta tanggapan dari teman-biasamu, teman-terdekat/sahabatmu, saudaramu, saudara kandungmu, dan orangtuamu.
Kenapa? Karena pasti kalian memiliki karakter yang berubah di setiap menghadapi orang-orang tersebut. Diantara mereka pasti memberikan jawaban yang berbeda, mungkin hanya akan mendekati pada kategori pendiam atau cerewet, namun dalam level yang berbeda.
Beuh, apalagi kalau yang kamu hadapi adalah seorang bos calon tempatmu bekerja (ceritanya lagi wawancara lamaran pekerjaan) pasti kamu akan JA'IM alias jaga imej, dan memang harus begitu. Tidak mungkin kita menampakkan sifat asli di hadapan orang yang akan kita segani... Ga mungkin banget, suerr 100%...
Bagi kamu yang cerewet banget, pasti bakalan menahan mulutmu untuk tidak nyerocos berisik kaya sirine kereta api mau lewat. Aku yakin suaramu bakalan mirip bunyi tanda pedagang kue putu lewat, kalem-adem enak didenger.
Begitupun kamu yang pendiem/pendiem-banget ga mungkin akan bersikap laksana tiang pancang gedung pabrik yang kokoh pendirian alias diem wae, pastinya akan berusaha meningkatkan minat bicaranya. Hehe
Kalau ingin tahu seberapa pendiam/cerewetnya kita, tanyalah pada teman dekat/sahabatmu, saya yakin sikap/karakter kalian terhadapa mereka adalah karakter yang sesungguhnya.
Kanapa bukan bertanya kepada orangtuanya? Karena kepada orangtua, kalian pastinya akan jaga-imej sebagai bentuk penghormatan dan bakti kalian kepada beliau. Tentu ini benar, kita harus bersikap sopan, hormat, berbakti, nurut kepada orangtua.
Kenapa bukan kepada saudara/saudara kandung? Ada faktor-X yang membuat kalian tidak tampil adanya di hadapan mereka. Pasti.
Faktor-X tersebut misalnya apa? PIKIR DEWEK.
Yaudalah yah...heheehe
Pemimpin Sejati
Bismillaah...
Kali ini aku ingin berbagi kisah yang mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.
Seperti biasa di setiap bulan Ramadhan, di kampungku (mungkin di kampung mana pun juga) selalu diadakan shalat Tarawih berjama'ah di masjid. Dalam kondisi bagaimana pun, termasuk di musim pandemi ini. Alhamdulillah kami masih diberi kesehatan.
Semua orang termasuk kaum wanita juga shalat di masjid. Kenapa saya katakan begini? Karena di hari-hari biasanya, selain Ramadhan, hanya beberapa kaum wanita yang shalat di masjid pada waktu shalat Maghrib, 'Isya, dan Shubuh yaitu biasanya ibu-ibu yang sudah cukup sepuh. Hal ini hanya kebiasaan saja, bukan suatu anjuran. Jadi bagi kaum wanita yang masih muda pun tak apa-apa. Walau pun kita tahu kalau wanita lebih baik shalat di rumah.
Di malam hari ke-9 menuju hari ke-10 Ramadhan 1441 H kali ini terjadi suatu peristiwa yang tidak biasa di mataku.
Kejadian tersebut adalah keputusan menentukan "Siapa imam shalat 'isya dan tarawih malam ini?"
Pasalnya, bapak-bapak yang biasa menjadi imam shalat berjama'ah kali ini berhalangan hadir, entah karena apa, namun katanya sih sedang tidak ada di rumah (berdasarkan info dari tetangga dekatnya).
Sebenarnya ada satu bapak yang biasa menjadi imam, namun meskipun beliau hadir ternyata beliau sedang sakit, sehingga tidak kuat secara fisik untuk menjadi imam.
Kebiasaan ini bukan berarti membebankan tugas menjadi imam kepada salah-satu/beberapa orang tertentu saja, namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam, antara lain:
1. Yang lebih tua diantara yang lainnya + mampu membaca Al-Qur'an paling baik diantara yang lainnya.*
2. Jika ada yang paling tua namun kurang baik bacaan Al-Qur'annya, pilihlah yang lebih baik bacaan Al-Qur'annya meskipun lebih muda.*
(*Tolong koreksi jika ada yang salah atau kurang tepat)
Jadi siapa yang siap jadi imam? Terjadilah saling tunjuk antara beberapa bapak-bapak dan pemuda yang hadir (namun mereka ini tidak biasa menjadi imam di masjid)... Mungkin kejadian ini berlangsung sekitar dua menit... Waktu segini tuh lumayan lama loh.
Akhirnya, satu orang bapak yang paling muda di antara bapak-bapak lainnya namun lebih tua dari para pemuda, beliau merelakan diri untuk menjadi imam.
Alhamdulillah, kami semua lega sekali.
Shalat 'isya berjalan dengan lancar atas izin Allah, dengan imam yang baik bacaan Al-Qur'annya.
Selesai shalat 'isya, sang imam berpindah tempat ke shaf belakang untuk shalat sunnah ba'diyah 'isya, begitupun jama'ah lainnya. Setelah shalat sunnah ba'diyah 'isya selesai sang imam tidak lekas ke tempat imam, nampaknya mengharapkan ada di antara jama'ah lain yang rela menjadi imam shalat tarawih, namun nyatanya tetap tidak ada.
Akhirnya sang imam berbicara kepada jama'ah mohon bantuannya (perbaikan) apabila ada yang salah saat shalat tarawih nanti. (Syiap pak).
Akhirnya beliau pun kembali ke tempat imam dan melanjutkan memimpin shalat sunnah tarawih dan witir.
Alhamdulillah... Sekian.
Mudah-mudahan dari kisah ini dapat diambil pelajaran berharga dalam kehidupan bermasyarakat... Aamiin.
Nah buat aku pribadi, beberapa pelajaran yang dapat aku ambil antara lain:
1. Sangat penting untuk mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sejak kecil karena akan sangat bermanfaat untuk kehidupan di hari kemudian, terutama agar bacaan shalat kita menjadi lebih baik. Ingat, amalan yang pertama kali akan dihisab di akhirat nanti adalah amalan shalat kita. Jadi mari kita perbaiki shalat kita.
2. Jika kita ingin menghafal Al-Qur'an, maka menghafallah ketika bacaan Al-Qur'an kita sudah baik dan benar, karena akan lebih sulit memperbaiki jika terlanjur menghafal yang salah.
3. Minimalnya, bekalilah diri ini dengan menghafal juz 'amma untuk bacaan ketika shalat.
4. Terutama bagi kaum adam, menjadi imam shalat berjama'ah adalah salah satu tantangan, keberanian dan kebiasaan. Jadi mulailah belajar menjadi imam yang baik agar saat dewasa nanti siap menjadi imam bagi masyarakat.
5. Perhatikan 'adab menjadi imam.
6. Di mataku, pria yang mampu menjadi imam itu keren. Hehe
Wallahu a'lam bishshawab.
Jika ada pelajaran lain yang dapat kalian pelajari, tolong tulia di kolom komentar yah... Semoga bisa menjadi manfaat kebaikan.
Kali ini aku ingin berbagi kisah yang mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.
Seperti biasa di setiap bulan Ramadhan, di kampungku (mungkin di kampung mana pun juga) selalu diadakan shalat Tarawih berjama'ah di masjid. Dalam kondisi bagaimana pun, termasuk di musim pandemi ini. Alhamdulillah kami masih diberi kesehatan.
Semua orang termasuk kaum wanita juga shalat di masjid. Kenapa saya katakan begini? Karena di hari-hari biasanya, selain Ramadhan, hanya beberapa kaum wanita yang shalat di masjid pada waktu shalat Maghrib, 'Isya, dan Shubuh yaitu biasanya ibu-ibu yang sudah cukup sepuh. Hal ini hanya kebiasaan saja, bukan suatu anjuran. Jadi bagi kaum wanita yang masih muda pun tak apa-apa. Walau pun kita tahu kalau wanita lebih baik shalat di rumah.
Di malam hari ke-9 menuju hari ke-10 Ramadhan 1441 H kali ini terjadi suatu peristiwa yang tidak biasa di mataku.
Kejadian tersebut adalah keputusan menentukan "Siapa imam shalat 'isya dan tarawih malam ini?"
Pasalnya, bapak-bapak yang biasa menjadi imam shalat berjama'ah kali ini berhalangan hadir, entah karena apa, namun katanya sih sedang tidak ada di rumah (berdasarkan info dari tetangga dekatnya).
Sebenarnya ada satu bapak yang biasa menjadi imam, namun meskipun beliau hadir ternyata beliau sedang sakit, sehingga tidak kuat secara fisik untuk menjadi imam.
Kebiasaan ini bukan berarti membebankan tugas menjadi imam kepada salah-satu/beberapa orang tertentu saja, namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam, antara lain:
1. Yang lebih tua diantara yang lainnya + mampu membaca Al-Qur'an paling baik diantara yang lainnya.*
2. Jika ada yang paling tua namun kurang baik bacaan Al-Qur'annya, pilihlah yang lebih baik bacaan Al-Qur'annya meskipun lebih muda.*
(*Tolong koreksi jika ada yang salah atau kurang tepat)
Jadi siapa yang siap jadi imam? Terjadilah saling tunjuk antara beberapa bapak-bapak dan pemuda yang hadir (namun mereka ini tidak biasa menjadi imam di masjid)... Mungkin kejadian ini berlangsung sekitar dua menit... Waktu segini tuh lumayan lama loh.
Akhirnya, satu orang bapak yang paling muda di antara bapak-bapak lainnya namun lebih tua dari para pemuda, beliau merelakan diri untuk menjadi imam.
Alhamdulillah, kami semua lega sekali.
Shalat 'isya berjalan dengan lancar atas izin Allah, dengan imam yang baik bacaan Al-Qur'annya.
Selesai shalat 'isya, sang imam berpindah tempat ke shaf belakang untuk shalat sunnah ba'diyah 'isya, begitupun jama'ah lainnya. Setelah shalat sunnah ba'diyah 'isya selesai sang imam tidak lekas ke tempat imam, nampaknya mengharapkan ada di antara jama'ah lain yang rela menjadi imam shalat tarawih, namun nyatanya tetap tidak ada.
Akhirnya sang imam berbicara kepada jama'ah mohon bantuannya (perbaikan) apabila ada yang salah saat shalat tarawih nanti. (Syiap pak).
Akhirnya beliau pun kembali ke tempat imam dan melanjutkan memimpin shalat sunnah tarawih dan witir.
Alhamdulillah... Sekian.
Mudah-mudahan dari kisah ini dapat diambil pelajaran berharga dalam kehidupan bermasyarakat... Aamiin.
Nah buat aku pribadi, beberapa pelajaran yang dapat aku ambil antara lain:
1. Sangat penting untuk mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sejak kecil karena akan sangat bermanfaat untuk kehidupan di hari kemudian, terutama agar bacaan shalat kita menjadi lebih baik. Ingat, amalan yang pertama kali akan dihisab di akhirat nanti adalah amalan shalat kita. Jadi mari kita perbaiki shalat kita.
2. Jika kita ingin menghafal Al-Qur'an, maka menghafallah ketika bacaan Al-Qur'an kita sudah baik dan benar, karena akan lebih sulit memperbaiki jika terlanjur menghafal yang salah.
3. Minimalnya, bekalilah diri ini dengan menghafal juz 'amma untuk bacaan ketika shalat.
4. Terutama bagi kaum adam, menjadi imam shalat berjama'ah adalah salah satu tantangan, keberanian dan kebiasaan. Jadi mulailah belajar menjadi imam yang baik agar saat dewasa nanti siap menjadi imam bagi masyarakat.
5. Perhatikan 'adab menjadi imam.
6. Di mataku, pria yang mampu menjadi imam itu keren. Hehe
Wallahu a'lam bishshawab.
Jika ada pelajaran lain yang dapat kalian pelajari, tolong tulia di kolom komentar yah... Semoga bisa menjadi manfaat kebaikan.
Rabu, 29 April 2020
Sabtu, 21 Maret 2020
Menikah tanpa Cinta
Jadii...
Dipagi menjelang siang yang redup ini, ibuku bercerita tentang masa mudanya menjelang pernikahannya dengan seorang pemuda tak dikenalnya (bapakku). Wkwkw
Melalui sebuah perjodohan...
Ibuku yg kala itu masih belia, usia anak SD tapi mungkin sudah belasan tahun, namun tetap belum cukup umur untuk menikah. Belum 17 tahun...
Aku tak ingin membayangkan jika hal tersebut terjadi padaku... Ya Allah maaf.
Dipagi menjelang siang yang redup ini, ibuku bercerita tentang masa mudanya menjelang pernikahannya dengan seorang pemuda tak dikenalnya (bapakku). Wkwkw
Melalui sebuah perjodohan...
Ibuku yg kala itu masih belia, usia anak SD tapi mungkin sudah belasan tahun, namun tetap belum cukup umur untuk menikah. Belum 17 tahun...
Aku tak ingin membayangkan jika hal tersebut terjadi padaku... Ya Allah maaf.
Jumat, 10 Januari 2020
CKTHK
CKTHI
Anak hits pasti tau makna dari akronim CKTHI...
iyah, judul salah satu film layar lebar Indonesia yang lagi hits 'saat ini', walaupun aku belum sempat untuk mantengin film tersebut...yuhuuuy
_Cerita Kita Tentang Hari Ini_
Aku juga gamau kalah sama judul tersebut, aku ber-CKTHK. Apa hayo CKTHK???
_Cerita Kita Tentang Hari Kemarin_
Sebelum cerita aku mau bilang dulu bahwa makna kata 'Kemarin' itu relatif yah, artinya tergantung kapan kita mengucapkan kata tersebut. Kalau aku bilang "kemarin" pada hari Sabtu, maka artinya adalah hari Jum'at. Tapi kalau aku bilang "Kemarin" pada hari Minggu, maka artinya adalah hari Sabtu. Ngertos nong?
Nah, aku akan ber-CKTHK untuk hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Aku mau cerita kita tak mengenal kata relatif, namun mutlak telah kita lewati bersama.
Kita? Siapa 'Kita'?
Ya Aku, Kamu, Kamu, Kamu, daaaaaan Kamu.
Rasa syukurku tak terhenti dapat melewati hari-hari bersama kalian, terasa lebih berwarna, warna seindah musim semi. Walaupun aku belum pernah merasakan musim semi. Mungkin suatu saat bersama dia,. Bisajadi bersama kalian. Tak ada yang tak mungkin. Percayalah, kun fayakun.
Teruntuk kisah lama yang tak mungkin bersemi kembali, saatku pertama kali menginjakkan kaki, berdiri sebagai 'caslab' sekitar tahun 2016 (berner sih ko, awal tahunlah). Kuucapkan hatur nuhun so much untuk kakak-teteh aslab padawaktu itu. Kaical, ka Aip, Ka Ocim, Ka Qorin, Kaegha, ka ganop, tenata, teisna, ka farhan... (Ada lagi? Wkwk) yang telah menerima dan mengajarkanku banyak hal...
Oiya satu lagi, Ka Landry yang sudah mengajariku cara nge-print. Uhuy... Dan banyak hal lainnya...
Lembar 1
Kala itu, untuk menjadi bagian dari keluarga tak semudah yang kukira, tapi jalan itu sudah tergariskan untuk kulewati. Salah satu rintangan yang paling terkenang adalah membuat poster. Dengan tema bebas. Dengan cara yang kubisa.
Mungkin yang paling tak disangka adalah aku membuat poster itu dari Ms. Word.
Hehehe
Itulah yang menjadi 'ledekan manis'ku bahkan oleh adik-adik manisku selanjutnya. Bahagia aja...
-_^
Lembar 2
Lika, Dita, Alif, & Dwiki.
Bahagia memiliki adik seperti kalian. Alhamdulillah...
Tapi bersama kalian, aku kamu kamu daaan kamuu ... Akhirnya mimpiku dengan dia dapat terwujud. Hari ini... Alhamdulillah...
_Peluk hangat dari dalam kapal yang sedang berlayar_
Lembar 3
Susah senangku jadi bagian hidup kalian, begitupun, susah senang hidup kalian jadi bagian hidupku. Jadilah hidup kita...
Terlalu banyak kisah manis, asam, asin, pahit, dan tawar telah kita lewati. Entah apa rasanya jika ku tak bersua dengan kalian. Tak berasa, mungkin.
Skip dulu ah...
Anak hits pasti tau makna dari akronim CKTHI...
iyah, judul salah satu film layar lebar Indonesia yang lagi hits 'saat ini', walaupun aku belum sempat untuk mantengin film tersebut...yuhuuuy
_Cerita Kita Tentang Hari Ini_
Aku juga gamau kalah sama judul tersebut, aku ber-CKTHK. Apa hayo CKTHK???
_Cerita Kita Tentang Hari Kemarin_
Sebelum cerita aku mau bilang dulu bahwa makna kata 'Kemarin' itu relatif yah, artinya tergantung kapan kita mengucapkan kata tersebut. Kalau aku bilang "kemarin" pada hari Sabtu, maka artinya adalah hari Jum'at. Tapi kalau aku bilang "Kemarin" pada hari Minggu, maka artinya adalah hari Sabtu. Ngertos nong?
Nah, aku akan ber-CKTHK untuk hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Aku mau cerita kita tak mengenal kata relatif, namun mutlak telah kita lewati bersama.
Kita? Siapa 'Kita'?
Ya Aku, Kamu, Kamu, Kamu, daaaaaan Kamu.
Rasa syukurku tak terhenti dapat melewati hari-hari bersama kalian, terasa lebih berwarna, warna seindah musim semi. Walaupun aku belum pernah merasakan musim semi. Mungkin suatu saat bersama dia,. Bisajadi bersama kalian. Tak ada yang tak mungkin. Percayalah, kun fayakun.
Teruntuk kisah lama yang tak mungkin bersemi kembali, saatku pertama kali menginjakkan kaki, berdiri sebagai 'caslab' sekitar tahun 2016 (berner sih ko, awal tahunlah). Kuucapkan hatur nuhun so much untuk kakak-teteh aslab padawaktu itu. Kaical, ka Aip, Ka Ocim, Ka Qorin, Kaegha, ka ganop, tenata, teisna, ka farhan... (Ada lagi? Wkwk) yang telah menerima dan mengajarkanku banyak hal...
Oiya satu lagi, Ka Landry yang sudah mengajariku cara nge-print. Uhuy... Dan banyak hal lainnya...
Lembar 1
Kala itu, untuk menjadi bagian dari keluarga tak semudah yang kukira, tapi jalan itu sudah tergariskan untuk kulewati. Salah satu rintangan yang paling terkenang adalah membuat poster. Dengan tema bebas. Dengan cara yang kubisa.
Mungkin yang paling tak disangka adalah aku membuat poster itu dari Ms. Word.
Hehehe
Itulah yang menjadi 'ledekan manis'ku bahkan oleh adik-adik manisku selanjutnya. Bahagia aja...
-_^
Lembar 2
Halaman 1
Hidupku tak selamanya menjadi anak bungsu, ternyata. Kehadiran adik-adikku tersayang membuatku merasa 'sedikit dewasa' wkwkw...Lika, Dita, Alif, & Dwiki.
Bahagia memiliki adik seperti kalian. Alhamdulillah...
Halaman 2
Kuselipkan secarik kisahku diantara mereka, aku dengan dia dan dia. Di penghujung tahun itu Aku, dia & dia pernah bermimpi untuk dapat meraih pijakan baru di tanah nun di sebrang selat sunda. Apalah daya hanya manusia, tak kuasa memaksa kehendak Yang Maha Kuasa, hingga kemarin belum terwujud.Tapi bersama kalian, aku kamu kamu daaan kamuu ... Akhirnya mimpiku dengan dia dapat terwujud. Hari ini... Alhamdulillah...
_Peluk hangat dari dalam kapal yang sedang berlayar_
Lembar 3
Susah senangku jadi bagian hidup kalian, begitupun, susah senang hidup kalian jadi bagian hidupku. Jadilah hidup kita...
Terlalu banyak kisah manis, asam, asin, pahit, dan tawar telah kita lewati. Entah apa rasanya jika ku tak bersua dengan kalian. Tak berasa, mungkin.
Skip dulu ah...
Kamis, 09 Januari 2020
Menjadi Manajer untuk Diri Sendiri
Aku rasa kebiasaanku yang satu ini sudah terjadi sejak lama...
Menghitung pengeluaran (dan pemasukan) harian
Entah suatu kebiasaan yang baik atau bukan karena aku merasakan ada dampak baik dan dampak buruknya.
Aku mau share dampak yang aku rasakan selama ini yah.
Dampak baik:
1. Melatih diri untuk memanajemen keuangan sejak dini. Ini penting loh, apalagi kalau nanti sudah berkeluarga, sangat bermanfaat, untuk menghindari sikap boros.
2. Menahan hawa nafsu untuk bersikap boros. Jadi kan kalau kita melihat rincian pengeluaran harian kita yang semakin hari semakin besar atau melebihi pemasukan harian otomatis kita akan merasa untuk bisa mengirit di kemudian harinya, artinya hari esok bisa lebih menjaga diri untuk tidak terlalu konsumtif.
3. Kita akan terdorong untuk memiliki pemikiran "Bagaimana caranya agar lebih produktif, meningkatkan produktivitas dengan tidak mengurangi sikap konsumtif. Emang bisa? InsyaAllah.
4. Terdorong untuk rajin shadaqoh . Karena aku percaya, semakin sering kita bersedekah maka pintu rizki akan semakin terbuka lebar. Ibarat kata mah memancing rezeki. Tentunya dengan hati yang ikhlas ya. Walaupun mungkin awalnya belum ikhlas, tidak apa-apa, paksakan, lama-lama akan terbiasa dan menjadi amalan ikhlas. InsyaAllah.
5. Lebih semangat untuk berusaha dan bekerja. Ini bagian dari ibadah loh yah. Ga apa-apa mengejar kekayaan di dunia, yang penting niatnya ibadah. Seorang muslim itu harus kaya, agar bisa membantu saudara yang lain. Pokoknya yang penting luruskan niatnya.
6. Masih banyak banget, tapi aku susah ceritainnya...ekwkw
Dampak buruk
1. Terkadang terasa 'pelit' ke diri sendiri. Mau beli apa-apa rasanya eman. Karena tahu bagaimana susah-senangnya cari 'duit'. wkwkw
Senin, 06 Januari 2020
AQAK
Adikku sayang :')
Lihatlah betapa manisnya adikku ini.
MasyaAllaah -_^
Adik kecilku yg kini beranjak dewasa... Semoga tetap jadi adik yg shaleh yah sayang :*
Don't forget me, please. Meski jauh harus tetap ingat yah De.
Rabu, 25 Desember 2019
Hal-hal yang tak kusuka
Setiap orang memiliki beberapa hal disukai juga hal yang tidak disukai. Setuju kan?
Nah aku mau kasih tau beberapa hal yang tidak aku suka. Penting untuk disampaikan agar kalian ga sembarangan bertingkah/berucap seenaknya di depanku.
Plis tolong dipahami... Haha
1. Kalian (yang tahu) menyebutkan usiaku di depan orang yang tadinya belum tahu.
2. Kalian bilang kalau aku "tambah kecil yah". Helloow guys, kalau udah tahu aku kelihatan kecil gaperlulah diucapkan. Ngerti kan?
3. Nyuruh-nyuruh aku, apalagi kalau kalian lebih muda dari aku. Aku sangat tidak terima. Ngerti kan?
4. Kalian yang tahu jaman aku 'polos' terus pihat aku agak sedikit 'berbenah diri' terus kalian bilang "widih sekarang mah beda yah Alfi".
Nah kalian harusnya sadar diri bahwa setiap orang memiliki hak untuk melakukan perbaikan diri ke arah yang dianggapnya baik. Termasuk aku.
Emangnya kalian doang yang boleh? Hellooww... Emangnya bumi ini milik emak Lu? Sadar. Jadi mulai sekarang kalian DIAM.
Langganan:
Postingan (Atom)
