Senin, 11 November 2019

Adikku Sayang (1)

Aku,
anak bungsu...

Ketika usiaku sekitar 2 tahun, ibuku mengandung. Tapi entah di usia kandungan berapa bulan, ibuku keguguran. Jadi aku gapunya adik. Sampai kapanpun.

Tapi, sekarang aku punya adik.
Banyak dan sudah besar.

Aku terharu karena memiliki mereka, adik yang manis, mandiri, penyayang, pengertian, dan pandai menghibur.

Aku temukan adik-adikku ini di suatu tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, tempat yang nyaman seperti rumah keduaku.

Di banyak kesempatan, adik-adikku ini selalu bisa membuatku tersenyum tertawa dikala aku sedih, meskipun mereka tak tahu aku sedang sedih kala itu.

Aku selalu datang kepada mereka,  aku akan cerita panjang lebar di kala aku bahagia. Aku pun datang kepada mereka di kala sedih tanpa menceritakan kesedihanku, karena ku tahu mereka pasti akan membuatku ceria tertawa kembali tanpa diminta.

Ya Allah, selalu bahagiakan mereka sepanjang waktu. Jadikan mereka pemuda yang sukses di setiap langkah baiknya. Aamiin... :)

Kemarin...11-11-2019 tanggal cantik.

Akan selalu ku ingat moment kemarin malam, aku datangi adik-adikku saat aku merasa kecewa karena sebuah pekerjaan. Tapi aku tak menceritakan hal itu.
Saat aku datang, adik-adikku sedang bercengkrama ria sambil memasak makan malam. Salah satu adikku bertanya, "Teteh mau ikutan makan kan?"
Kujawab 'tidak' karena sedang tidak mood untuk makan dan ga terlalu lapar. Mereka sepertinya kecewa. Hingga selesai masak mereka terus membujukku untuk makan bersama dengan caranya, "Teh Al harus makan, kalau ga ikut makan aku ga jadi ngerjain 'tugas' loh!"
Salah satu adikku ini memang sedang banyak tugas, tugas kawakan sejak setahun lalu yang tak kunjung selesai. Aku pun sudah kehabisan kesabaran untuk membujuknya segera mengerjakan tugas tersebut.

Akhirnya aku ikut makan bersama dengan harapan adikku ini semangat untuk segera mencicil tugasnya.

~

Sambil makan biasa kita ngobrol-ngobrol ringan. Adikku-adikku ini profesional, chef kreatif. Sambil makan malam, mereka sambil membuat 'teh thai'.

Sajian pertama teh itu dia buatkan untukku, tak boleh ada yang mencicipi sebelum aku berikan testimoni hirupan pertama teh itu.

Ya Allah betapa bahagianya aku 'memiliki' mereka.

Sabtu, 09 November 2019

Guru Selamanya

Beberapa bulan lalu, aku pernah diminta menjadi guru pengganti di salah satu sekolah Favorit di kota tempatku mengais rezeki.
Tidak lama, hanya empat hari. Selama empat hari tersebut aku berkesempatan mengajar di enam kelas yang terdiri dari dua kelas program Mipa dan empat kelas program IPS. Yaps, aku Mengampu mata pelajaran matematika wajib kelas XI.

~
Jauh hari sebelumnya, mungkin sekitar dua tahun sebelumnya, aku pernah mendapat nasihat dari seorang kakak tingkat yang baru saja selesai tugas PPLK. Begini nasihatnya:
"Kalau ingin dihargai dan disayang oleh anak murid PPLK, cara kita mengajar harus lebih baik dan menarik daripada guru aslinya."
Dalam benakku, benar juga yah. Setuju.
~

Nah, ketika aku menjadi guru pengganti, mungkin cara mengajarku ini lebih enak dan penjelasanku lebih mudah untuk dipahami oleh siswa. Bukannya aku berbangga diri atau memuji sendiri yah, tapi begitulah pernyataan yang diungkapkan langsung oleh siswa-siswiku. Mereka ingin tetap diajar olehku hingga mereka kelas XII.

Aku tahu itu rasanya tidak mungkin, karena untuk menjadi guru honorer saat ini tidak mudah dan sekolah pun rasanya tidak sanggup memberi honor. Karena memang tidak ada anggarannya. Walapun mungkin saat ini aku tak begitu mengharapkan honor, tapi tak dapat dipungkiri juga suatu saat aku pasti membutuhkan honor untuk dapat menyambung hidup. Meskipun aku tahu begitu banyak pintu rizki terbuka lebar. Tak hanya satu. Yang penting kita mau mendatangi pintu itu.

Aku hanya berharap kepada Yang Maha Kuasa jika Dia menghendakiku untuk menjadi guru di sekolah tersebut, tidak akan ada yang bisa mencegahnya.
Begitupun sebaliknya, jika Dia tidak menghendakiku untuk menjadi guru di sana, sekeras apa pun aku berusaha tak akan mungkin terjadi. Wallahu a'lam.

Tapi siapa yang tahu, jika seluruh siswa berdo'a  agar aku menjadi gurunya, maka Allah pasti tidak segan untuk mengabulkannya.

Aku hanya bisa tawakkal atas kehendak-Nya.

Mengajar Matematika untuk Anak Guru Matematikaku

Ga pernah terpikir sebelumnya...
Ga nyangka.

Saat aku MTs dulu punya guru favorite, beliau guru matematikaku saat kelas IX.
MTs ku ini terletak di Kabupaten Serang, dekat kotaku tinggal, Kota Cilegon. Ya karena dulu belum ada sistem zonasi sekolah, 90% anak orang tuaku sekolah di luar kota...hehe (berasa jauh, padahal ga begitu ko).

Aku melanjutkan SMA pun sama di luar kota, tapi masih se-Kabupaten dengan letak MTs ku. Dekat. Tinggal naik angkot sekali.

Back to the topic...

Saat aku kuliah di Kota Serang, ternyata guru Favoritku ini mutasi ke MTs di Kota Serang juga. Baru aku ketahui pas aku kuliah semester akhir.

Beliau menghubungiku via WA, ngajak ketemuan di MTs tempat beliau mengajar sekarang. Aku seneng banget dong, silaturahim. Ternyata beliau minta tolong aku untuk mengajar Les di sekolah tersebut. Aku terima. 

Alhamdulillah, menjalin silaturrahim memang mendatangkan rezeki.

Dua minggu lalu, sebelum aku tulis tulisan ini. Beliau minta tolong lagi agar aku jadi guru private matematika anaknya.

Nah  ini...
Aku jadi guru matematika untuk anak guru matematikaku~ :D

Unique~
Merasa spesial~
Alhamdulillah mendapat kepercayaan seperti ini ya Allah.
^_^

Selasa, 05 November 2019

Cita-Cita Ibu Guru

Ba'da Maghrib...

Sejak dua bulan lalu, setiap hari selasa sore Aku berangkat menuju sebuah perumahan yang tidak  begitu jauh dari kost'anku. Cukup jalan kaki sekitar 15 menit.

What will i do there?

_Menjemput rizki_

Yaps, untuk menyebarkan 'ilmu yang telah Aku peroleh semasa berstatus sebagai pelajar/mahasiswa.

Paham??

Aku menjadi guru private seorang anak dokter klinik kampus, perempuan kelas IX SMP saat ini.

Di tengah pembelajaran, entah bagaimana alurnya, siswiku bertanya, "Mba waktu kecil cita-citanya apa?"

Kuceritakan asal muasal cita-cita kecilku untuk menjadi seorang astronaut...

Mau tau cerita lengkapnya? PC di kolom komentar yah gais ^^÷

Minggu, 03 November 2019

"Ibu MatPem" or "Kakak Fisika"

Akuu....

Yaps, mau ceritain tentang diriku. No comment yah...

Status 'pengangguran'ku hanya berlaku di pagi hari terhitung sejak 2 Oktober lalu. Sejak saat itu aku sudah tidak mengajar pagi hari di sekolah, tugasku sebagai guru pengganti selesai di awal bulan Oktober. Selama satu bulan September 2019, aku menjadi guru 'pengganti', jadilah dipanggil 'ibu' oleh 'anak-anakku'. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi yang ke-sekian kalinya.

Seperti biasa, aku gamau dipanggil 'ibu' karena aku merasa masih muda. Hehe
"Panggil saja kakak/teteh", ucapku di dalam kelas. Tapi anak-anak merasa enggan, karena statusku ya sebagai guru harus dipanggil 'ibu guru', begitu kata mereka. Yaudahdeh :D

Di sekolah pagi itu, aku mengajar mata pelajaran 'Matematika Peminatan' untuk kelas X (ada 8 kelas) dan kelas XI (ada 2 kelas). Yaps, aku mengajar sebanyak 10 kelas, 32 jam pelajaran dalam sepekan. Di pekan pertama saya hampir sakit, kelelahan, karena belum terbiasa. Alhamdulillah di pekan-pekan berikutnya badanku sudah bisa beradaptasi.

Dari sekian banyak siswa, ada yang bilang "Ibu usianya berapa? Kayanya cocok dipanggil 'kakak' daripada 'ibu', keliatannya masih terlalu muda".
Ouch aku bahagiaa dibilang muda... Emang masih muda sih. Hehehe

SEKARANG...
Aku mengajar kelas sore saja, di sekolah yang berbeda. Perlu kalian ketahui yah, dua sekolah ini memiliki persaingan yg cukup sengit, sama-sama bagus, memiliki kualitas tersendiri di bidangnya masing-masing. Dan siswa2nya saling kenal, karena mereka rata-rata berasal dari MTs/SMP yang sama. Temenan.
Jadiii...
Di kelas sore ini, aku mengampu mata pelajaran "FISIKA" untuk kelas X. Kebetulan di kelas sore ini peraturannya tidak terlalu ketat, karena hanya 'Les/tambahan belajar'. Manggilnya  boleh apa saja  boleh ibu/kakak/teteh, belajar sambil makan, boleh mengoperasikan handphone, bahkan 'main' sosmed seperti instagram dsbLah...

Kebetulan ada anak yang live instragram  saat pelajaran berlangsung. Saat aku ngasih penjelasan. Ternyata ada temannya siswaku yang komentar, kebetulan dia siswaku juga yg di kelas pagi. Kalau tidak salah isi komentarnya begini:
"Itu ibu MatPem bukan sih? Mirip."
#MatPem: Matematika Peminatan

Jadilah siswaku yg live ig ini nanya ke aku, "Ibu ngajar Matpem di SMA X?"
Barulah aku cerita bahwa aku sesungguhnya guru Matematika yang lintas ke Fisika. Hehehe

Begitulah...

Selempang Namaku

Hmmm...

Entah sudah menjadi budaya para mahasiswa tingkat akhir atau emang lagi nge-trend  di masaku saja? Apaan? Selempang nama.

Beberapa tahun terakhir ini aku sering lihat mahasiswa2 yang baru beres sidang mendapatkan selempang nama+gelar sarjananya. Entah itu pemberian teman atau sengaja membuat sendiri kemudian dititipkan ke teman, jadi seolah-olah diberikan oleh teman. Hahaha. Ini nyata, ada, temanku. Maap maap...

Aku sendiri bagaimana? Saat kelulusanku, terhitung hari sesaat setelah sidang, ya seperti biasa, bahagia, foto-foto + dapet hadiah dari temen. Tapi aku ga memakai selempang nama+gelar. Kenapa? Ga ada yang ngasih, juga ga niat membuat sendiri. Wkwkw...
Gapapa sih, ga penting soalnya. Bukan kebutuhan atau apa.

Ada beberapa temanku yang emang nge-genk sengaja memesan/membuat selempang nama+gelar itu, tuker-tukeran masang selempangnga. Ya Allah. Niat banget. Hehe

Satu lagi, kebetulan banget aku punya temen, yang sebenarnya dia juga punya genk tapi mereka ga ngebuatin selempang nama untuk temanku ini. Akhirnyaaaa dia minta tolong aku untuk memesan selempang tersebut tapi dia bayar sendiri (ga aku bayarin :D), plus minta diselempangin pas hari kelulusannya nanti. Segitunya yah, lucu jadinya. Aku sih nurut2 aja,. Mudah-mudahan temanku ini bahagia & tambah semangat... Aamiin...

Plis, ini cerita ga penting yah, gausah dikoment :D

Nikmati saja alurnya.

Jika Aku besar nanti-

"Mau jadi apa kamu?"
 Itulah kalimat yang terlontar dari seorang ibu kepada anaknya yang tak mau sekolah, pagi ini.

Seperti biasa, setiap hari Senin pagi aku berangkat dari rumah ke kostan. Hari ini tak seperti biasanya, aku turun depan kampus dan melewati kampus untuk ke luar dari gerbang belakang. Melewati gang-gang kecil untuk bisa sampai kost'an. Tak sengaja aku melihat seorang ibu berdiri tepat di mulut pintu menasehati sekaligus bertanya (dengan nada keras) kepada anak laki-lakinya...

"Mau jadi apa kamu kalau sudah besar? Sudah kelas enam, bukannya makin pintar malah makin bodoh. Lihat yang jauh-jauh dari Tangerang saja mau sekolah, kamu yang dekat tidak mau!"
Kira-kira seperti itu bunyinya...

Di sana tidak hanya mereka berdua, tapi ada juga sang ayah yang sedang menggendong anak perempuannya yang masih kecil, adik dari si anak laki-laki kelas 6 tadi sepertinya. Juga ada seorang lagi anak laki2, mungkin temannya.
Sang ayah diam saja, mungkin bingung atau apa, bisa jadi menerapkan prinsip 'diam itu emas', tidak ingin memperbesar masalah. Biarkan si ibu yang bertindak... Maybe...hehe

Aku yang kebetulan lewat hanya menundukkan kepala, berlalu begitu saja... Ya mau gimana? Aku ga mau ikut campur.

Dari kejadian itu, aku teringat masa kecilku saat masih SD, pernah ingin "mogok" sekolah, tepatnya saat kelas 2 SD dan kelas 6 SD. hehehe. Memalukan memang.

Kenangan yang cukup mengesankan.
Sekian.

"Ma, Aku mau ke Jepang"



Tadi pagi...
sekitar jam tujuh’an.
Kakaku nelpon, katanya “Ma, hari ini saya mau berangkat ke Jepang. Mohon do’anya yah.”

Do’a restu dari orangtua sebagai pengantar untuk meminta keselamatan dunia akhirat. InsyaAllah manjur.

Ya seperti biasa, kakaku yang tinggal jauh dari orangtua SELALU menelpon emak jika ada kegiatan ke luar kota atau luarnegeri. Atau kalau ada kegiatan apa saja, pasti nelpon untuk minta do’a emak.
Bentar doang sih nelponnya, to the point karena emang buru-buru kayanya. Ga basa-basi. Paling Cuma dua menit. Kelar. Tutup telpon.

Cukuplah.

PONAKANKU yang kebetulan “nguping” akhirnya bertanya, “Mak Ua, emang om ke Jepang mau ngapain?”
Emakku bilang, “Paling juga mau ceramah kaya dulu pas ke Filipina (maksudnya menjadi pembicara dalam acara seminar, Cuma emakk ga ngerti hehe)”
Langsung dong ponakanku bergumam “Ceramah Matematika yah, hmmmm… “.
:D

Emang sih, kakakku pas nelpon ga bilang mau kegiatan apa di Jepang. Buru-buru.

PENGANGGURAN

PENGANGGURAN

Apa yang Kamu pikirkan ketika ‘baru banget’ ngebaca judul ceritaku ini?

Hayooo bilang (di kolom komentar yah :D)…
Aku coba tebak isi pikiranmu yaah…

Pengangguran berarti: lagi ngga kerja/ lagi diem di rumah aja/ ga kemana-mana karena gada kegiatan di luar/ ga punya penghasilan/ bikin mata orangtua sepet karena ngelihat kita di rumah ‘cemenut’ aja/  online mulu karena lagi cari loker/ apalah-apalah… haha

Ada yang mau nambahin? bilang di kolom komentar aja…

OKE jadi ya beberapa frasa di atas , selain tebakanku tentang isi pikiranmu, juga isi pikiranku.. hehe. Jelas dong, aku yang nulis, ya aku yang mikir… wkwk

JADI GINI GAN…
Sebenernya aku mau ceritain keadaanku saat ini (pas lagi nulis ini, bahkan sejak sebulan yang lalu). Aku kan bisa dibilang freshgraduate ya, baru lahir ke dunia nyata, yang kata orang-orang mah ‘dunia rimba’. Dunia yang harus dihadapi dengan sikap dewasa. Soalnya kalau status kita masih pelajar/mahasiswa kita dianggap masih labil. Belum dewasa.
(Kata siapa? Kata SAYA. Hahahaha)
Ya gitudeh,.

Sebenernya aku dah bisa ‘nyari uang’ sejak jaman SMA yah dengan cara jualan ES dan ngajar Les sepupu aku. Lumayanlah dari jualan ES kalo laku semua (sekitar 30 buah, dijual seribuan) aku dikasih duit 1x104 oleh Bibiku yang emang pemilik e situ. Akumah jualin doing. Awalnya aku jualan bukan untuk ‘nyari uang’, niatku justru untuk ngebantu Bibiku itu, yang baru ditinggal wafat suaminya, aku kasihan. Soalnya beliau untuk bisa hidup ya dari gaji almarhum pamanku itu, karena sudah wafat jadi ya yang bantuin anak dan menantunya. Menurutku ya kurang. jadi aku niat bantu ‘cariin duit’ gitu. Bukan aku sok kaya, aku juga hidup pas-pasan ngandelin belas kasih kakaku yang udah kerja, kalo ga gitu ya aku gabisa sekolah. Hmmmm Alhamdulillah banget.

Ngajar Les untuk sepupuku? (khawatir ada yang nanya) kenapa mesti dibayar? Oke ya, sekali lagi, niat awalku emang bukan untuk ‘nyari duit’, niatnya bantuin sepupuku yang kebetulan waktu itu masih SD kelas 6. Pengen belajar lebih baik. Ya sebagai ucapan terima kasihnya (mungkin yah) bibiku ngasih aku uang untuk ongkos+jajan sekolah, lumayan sih dikasih tigapululimaribu, pas. Ga kegedean. Alhamdulillah… rutin tuh setiap seminggu dua kali pertemuan. Tapi Cuma satu semester. Saoalnya pas aku semester II juga mau fokus persiapan UN SMA.

PAS AKU LULUS SMA… baru nih aku NIAT ‘NYARI DUIT’.
Ya gimana ga niat, aku benar-benar jadi seorang PENGANGGURAN sebagiman terdefinisikan di awal ceritaku itu. Udah ga sekolah, ga kuliah juga. Jadi statusku BUKAN Pelajar/Mahasiswa. Ngarti?

Aku jual jasa, jasa terima pesanan sketsa wajah. Harganya aku awal pas promo, untuk satu wajah di kertas ukuran A4, 65 ribu, udah aku kasih bingkai, gratis ongkir, berwarna pula. Murah kan?
Pas udah ga promo? Aku naikin 10 ribu. Hehe MURAH BANGET. Mana ada sketsa wajah dijual harga segitu? Yang aku tauyah minimal 100 ribu (tahun 2014 loh itu).

Sekarang MASIH JUAL/TERIMA JASA PEMBUATAN SKETSA WAJAH juga koooo… boleh calling-calling akuu, PC di kolom komentar yah :D

PAS AKU KULIAH
Tiga bulan pertama kuliah aku ya biasa, mahasiswa yang masih suka kupu-kupu. Di bulan ke-empat aku dapet tawaran mengajar Les Private, ditawarin temenku. Untuk mengajar pelajaran MIPA Kelas XI. Pelajaran MIPA apa saja? Matematika, Fisika, dan Kimia. Yaa yang itung-itunganlah. Aku sanggupin karena aku merasa MASIH BISA tuh pelajaran itumah, masih inget, anget, apalagi setelah aku berjuang ‘hidup-hidupan’ untuk keterima kuliah, aku babat semua pelajaran secara mandiri. Sendiri. Di kamar. Bosen? Iya, tapi gabisa gerak. Bagitulah. Semoga para pembaca sekalian ga ngalamin apa yang aku alamin selama SETAHUN itu.

Jadilah aku PUNYA PENGHASILAN… Yuhuuuy lumayan. Tapi hanya bertahan empat bulan saja. Haha

Lika-liku terkait nge-Les aku dah banyak, panjang banget kalo diceritain semua. Capek ngetiknya. :d
Selain nge-les, aku juga sempat jualan jajanan di kelas. Jual Pulpen & bros juga aku pernah. Pokoknya ya aku dapet titel ‘pedagang’ gitulah. Pusing sih, bikin kurang fokus belajar. Tapi lumayan dapet duit. Haha dassar.

SEMESTER DELAPAN aku dah ngajar di sekolah, sekolah bagus, SMA. Walah hanya 2 bulan menjadi guru infal/pengganti guru yang sedang cuti.

LULUS KULIAH bisa dibilang pngengguran, bisa. Dibilang bukan pengangguran juga aku setuju. Jadi saat ini aku sedang dalam posisi ‘antara’ menganggur dan tidak… Loh ko???

Nanti aku ceritain kelanjutannya yah… hehe

NGOBROL SANTAI DENGAN MANTAN REKTOR


HELLO BRO & SIST...

Kisah ringan, sederhana, dan biasa aja ini spesial di hatiku...eeeaaaahh...


Tepatnya hari Kamis tanggal 31 Oktober 2019 pukul 9 pagi lewat dikitLah yah, saya keluar dari kostan dengan niat untuk pergi ke Perpustakaan Daerah, tapi sebelumnya saya akan membeli makan untuk sarapan sekaalian memfotocopy soal olimpiade untuk bahan mengajar hari Sabtu.

Entah mengapa saya lewat jalan belakang yang artinya harus melalui gerbang belakang kampus dan masuk area kampus. Oke. Baru jalan sebentar saya melihat seorang pria yang ‘tampak’ mirip dengan seseorang yang saya kenal, seorang teman SMA yang sedang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, saya pikir sih yah hanya mirip. Tapi semakin saya mendekat (karena harus melewati tempat dia duduk), dia tersenyum pada saya (padahal saya memakai masker loh yah). Kaget sih. Ternyata dia benar-benar temanku itu. MasyaAllah. Udah lama banget ga ketemu, saya ingat sih terakhir kali ketemu sekitar tahun 2015 awal pas dia mampir ke rumah. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi.

Ngobrol ngobrol ngobrol… ternyata dia sedang menunggu seorang dosen FISIP yang janji untuk bertemu pukul 08.00, tapi karana ada suatu hal akhirnya lewat dari jam yang dijanjikan. Itulah mengapa temanku duduk sendirian, menunggu. Karena temanku itu memang dari FISIP UB juga, dia sedang masa penelitian skripsi, dan dosen FISIP di kampusku itu akan diwawancarai sebagai salah satu narasumbernya. Mantaap…

Di sela-sela kami mengobrol, dari arah belakangku, Yang Terhormat Pak ‘Mantan’ Rektor Kampusku menyapa Kami, sebenarnya beliau akan menuju ruang rektorat. Kami pun bersalaman. Beliau menanyai kami, apakah kami ini siswa/mahasisawa/siapa?
Kami jawab bahwa saya baru saja Lulus dari Jurusan pendidikan Matematika pada bulan Juli lalu. Sedangkan temanku masih mahasiswa.

Mendengar jawabanku, beliau rupanya tertarik untuk bertanya padaku lebih lanjut
“Berapa lama kuliahnya.”
“Alhamdulillah pas empat tahun pak.”
“Pas yah, bagus. Sekarang kegiatannya apa?”
“Oh sekarang saya mengajar pak, di Smansa.”
“Wah bagus tuh bisa masuk situ. Apa dulu PPLK di sana juga?”
“Benar pak, dulu PPLK di sana, kebtulan ada lowongan mengajar akhirnya saya dipanggil untuk mengajar di sana. Tapi saya bukan mengajar di kelas pagi Pak, di kelas sore.”
“Kelas sore? Memang ada yah?”
“Ada pak, khusus Les.”
“Les untuk siswa kelas XII?”
“Untuk semua kelas, yang ingin les saja tapi pak, semua mata pelajaran yang dibutuhkan.”
“Oh begitu, ada berpa sekarang jumlah guru matematika di sana.”
“Kalau tidak salah ada 8 atau 9 sih pak.”
“Oh banyak yah rombelnya, yaudah yah.”
“iyah pak”.
Akhirnya beliau pamit meninggalkan kami.
Saya merasa special pada hari itu, semasa kuliah belum pernah berbincang-bincang dengan pak rektor. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut adalah hal biasa, ngobrol doing. Tapi bagiku itu lumayan luar biasa. Hehe. Maklumlah aku hanya mhasiswa biasa yang tak dikenal banyak orang penting. Hehehe

Alhadulillah wasyukurillah…
EH btw, ada yang ingin tahu kelanjutan ceritaku dengan temanku itu? Next season yah.. see you :D