Selasa, 05 November 2019

Cita-Cita Ibu Guru

Ba'da Maghrib...

Sejak dua bulan lalu, setiap hari selasa sore Aku berangkat menuju sebuah perumahan yang tidak  begitu jauh dari kost'anku. Cukup jalan kaki sekitar 15 menit.

What will i do there?

_Menjemput rizki_

Yaps, untuk menyebarkan 'ilmu yang telah Aku peroleh semasa berstatus sebagai pelajar/mahasiswa.

Paham??

Aku menjadi guru private seorang anak dokter klinik kampus, perempuan kelas IX SMP saat ini.

Di tengah pembelajaran, entah bagaimana alurnya, siswiku bertanya, "Mba waktu kecil cita-citanya apa?"

Kuceritakan asal muasal cita-cita kecilku untuk menjadi seorang astronaut...

Mau tau cerita lengkapnya? PC di kolom komentar yah gais ^^÷

Minggu, 03 November 2019

"Ibu MatPem" or "Kakak Fisika"

Akuu....

Yaps, mau ceritain tentang diriku. No comment yah...

Status 'pengangguran'ku hanya berlaku di pagi hari terhitung sejak 2 Oktober lalu. Sejak saat itu aku sudah tidak mengajar pagi hari di sekolah, tugasku sebagai guru pengganti selesai di awal bulan Oktober. Selama satu bulan September 2019, aku menjadi guru 'pengganti', jadilah dipanggil 'ibu' oleh 'anak-anakku'. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi yang ke-sekian kalinya.

Seperti biasa, aku gamau dipanggil 'ibu' karena aku merasa masih muda. Hehe
"Panggil saja kakak/teteh", ucapku di dalam kelas. Tapi anak-anak merasa enggan, karena statusku ya sebagai guru harus dipanggil 'ibu guru', begitu kata mereka. Yaudahdeh :D

Di sekolah pagi itu, aku mengajar mata pelajaran 'Matematika Peminatan' untuk kelas X (ada 8 kelas) dan kelas XI (ada 2 kelas). Yaps, aku mengajar sebanyak 10 kelas, 32 jam pelajaran dalam sepekan. Di pekan pertama saya hampir sakit, kelelahan, karena belum terbiasa. Alhamdulillah di pekan-pekan berikutnya badanku sudah bisa beradaptasi.

Dari sekian banyak siswa, ada yang bilang "Ibu usianya berapa? Kayanya cocok dipanggil 'kakak' daripada 'ibu', keliatannya masih terlalu muda".
Ouch aku bahagiaa dibilang muda... Emang masih muda sih. Hehehe

SEKARANG...
Aku mengajar kelas sore saja, di sekolah yang berbeda. Perlu kalian ketahui yah, dua sekolah ini memiliki persaingan yg cukup sengit, sama-sama bagus, memiliki kualitas tersendiri di bidangnya masing-masing. Dan siswa2nya saling kenal, karena mereka rata-rata berasal dari MTs/SMP yang sama. Temenan.
Jadiii...
Di kelas sore ini, aku mengampu mata pelajaran "FISIKA" untuk kelas X. Kebetulan di kelas sore ini peraturannya tidak terlalu ketat, karena hanya 'Les/tambahan belajar'. Manggilnya  boleh apa saja  boleh ibu/kakak/teteh, belajar sambil makan, boleh mengoperasikan handphone, bahkan 'main' sosmed seperti instagram dsbLah...

Kebetulan ada anak yang live instragram  saat pelajaran berlangsung. Saat aku ngasih penjelasan. Ternyata ada temannya siswaku yang komentar, kebetulan dia siswaku juga yg di kelas pagi. Kalau tidak salah isi komentarnya begini:
"Itu ibu MatPem bukan sih? Mirip."
#MatPem: Matematika Peminatan

Jadilah siswaku yg live ig ini nanya ke aku, "Ibu ngajar Matpem di SMA X?"
Barulah aku cerita bahwa aku sesungguhnya guru Matematika yang lintas ke Fisika. Hehehe

Begitulah...

Selempang Namaku

Hmmm...

Entah sudah menjadi budaya para mahasiswa tingkat akhir atau emang lagi nge-trend  di masaku saja? Apaan? Selempang nama.

Beberapa tahun terakhir ini aku sering lihat mahasiswa2 yang baru beres sidang mendapatkan selempang nama+gelar sarjananya. Entah itu pemberian teman atau sengaja membuat sendiri kemudian dititipkan ke teman, jadi seolah-olah diberikan oleh teman. Hahaha. Ini nyata, ada, temanku. Maap maap...

Aku sendiri bagaimana? Saat kelulusanku, terhitung hari sesaat setelah sidang, ya seperti biasa, bahagia, foto-foto + dapet hadiah dari temen. Tapi aku ga memakai selempang nama+gelar. Kenapa? Ga ada yang ngasih, juga ga niat membuat sendiri. Wkwkw...
Gapapa sih, ga penting soalnya. Bukan kebutuhan atau apa.

Ada beberapa temanku yang emang nge-genk sengaja memesan/membuat selempang nama+gelar itu, tuker-tukeran masang selempangnga. Ya Allah. Niat banget. Hehe

Satu lagi, kebetulan banget aku punya temen, yang sebenarnya dia juga punya genk tapi mereka ga ngebuatin selempang nama untuk temanku ini. Akhirnyaaaa dia minta tolong aku untuk memesan selempang tersebut tapi dia bayar sendiri (ga aku bayarin :D), plus minta diselempangin pas hari kelulusannya nanti. Segitunya yah, lucu jadinya. Aku sih nurut2 aja,. Mudah-mudahan temanku ini bahagia & tambah semangat... Aamiin...

Plis, ini cerita ga penting yah, gausah dikoment :D

Nikmati saja alurnya.

Jika Aku besar nanti-

"Mau jadi apa kamu?"
 Itulah kalimat yang terlontar dari seorang ibu kepada anaknya yang tak mau sekolah, pagi ini.

Seperti biasa, setiap hari Senin pagi aku berangkat dari rumah ke kostan. Hari ini tak seperti biasanya, aku turun depan kampus dan melewati kampus untuk ke luar dari gerbang belakang. Melewati gang-gang kecil untuk bisa sampai kost'an. Tak sengaja aku melihat seorang ibu berdiri tepat di mulut pintu menasehati sekaligus bertanya (dengan nada keras) kepada anak laki-lakinya...

"Mau jadi apa kamu kalau sudah besar? Sudah kelas enam, bukannya makin pintar malah makin bodoh. Lihat yang jauh-jauh dari Tangerang saja mau sekolah, kamu yang dekat tidak mau!"
Kira-kira seperti itu bunyinya...

Di sana tidak hanya mereka berdua, tapi ada juga sang ayah yang sedang menggendong anak perempuannya yang masih kecil, adik dari si anak laki-laki kelas 6 tadi sepertinya. Juga ada seorang lagi anak laki2, mungkin temannya.
Sang ayah diam saja, mungkin bingung atau apa, bisa jadi menerapkan prinsip 'diam itu emas', tidak ingin memperbesar masalah. Biarkan si ibu yang bertindak... Maybe...hehe

Aku yang kebetulan lewat hanya menundukkan kepala, berlalu begitu saja... Ya mau gimana? Aku ga mau ikut campur.

Dari kejadian itu, aku teringat masa kecilku saat masih SD, pernah ingin "mogok" sekolah, tepatnya saat kelas 2 SD dan kelas 6 SD. hehehe. Memalukan memang.

Kenangan yang cukup mengesankan.
Sekian.

"Ma, Aku mau ke Jepang"



Tadi pagi...
sekitar jam tujuh’an.
Kakaku nelpon, katanya “Ma, hari ini saya mau berangkat ke Jepang. Mohon do’anya yah.”

Do’a restu dari orangtua sebagai pengantar untuk meminta keselamatan dunia akhirat. InsyaAllah manjur.

Ya seperti biasa, kakaku yang tinggal jauh dari orangtua SELALU menelpon emak jika ada kegiatan ke luar kota atau luarnegeri. Atau kalau ada kegiatan apa saja, pasti nelpon untuk minta do’a emak.
Bentar doang sih nelponnya, to the point karena emang buru-buru kayanya. Ga basa-basi. Paling Cuma dua menit. Kelar. Tutup telpon.

Cukuplah.

PONAKANKU yang kebetulan “nguping” akhirnya bertanya, “Mak Ua, emang om ke Jepang mau ngapain?”
Emakku bilang, “Paling juga mau ceramah kaya dulu pas ke Filipina (maksudnya menjadi pembicara dalam acara seminar, Cuma emakk ga ngerti hehe)”
Langsung dong ponakanku bergumam “Ceramah Matematika yah, hmmmm… “.
:D

Emang sih, kakakku pas nelpon ga bilang mau kegiatan apa di Jepang. Buru-buru.

PENGANGGURAN

PENGANGGURAN

Apa yang Kamu pikirkan ketika ‘baru banget’ ngebaca judul ceritaku ini?

Hayooo bilang (di kolom komentar yah :D)…
Aku coba tebak isi pikiranmu yaah…

Pengangguran berarti: lagi ngga kerja/ lagi diem di rumah aja/ ga kemana-mana karena gada kegiatan di luar/ ga punya penghasilan/ bikin mata orangtua sepet karena ngelihat kita di rumah ‘cemenut’ aja/  online mulu karena lagi cari loker/ apalah-apalah… haha

Ada yang mau nambahin? bilang di kolom komentar aja…

OKE jadi ya beberapa frasa di atas , selain tebakanku tentang isi pikiranmu, juga isi pikiranku.. hehe. Jelas dong, aku yang nulis, ya aku yang mikir… wkwk

JADI GINI GAN…
Sebenernya aku mau ceritain keadaanku saat ini (pas lagi nulis ini, bahkan sejak sebulan yang lalu). Aku kan bisa dibilang freshgraduate ya, baru lahir ke dunia nyata, yang kata orang-orang mah ‘dunia rimba’. Dunia yang harus dihadapi dengan sikap dewasa. Soalnya kalau status kita masih pelajar/mahasiswa kita dianggap masih labil. Belum dewasa.
(Kata siapa? Kata SAYA. Hahahaha)
Ya gitudeh,.

Sebenernya aku dah bisa ‘nyari uang’ sejak jaman SMA yah dengan cara jualan ES dan ngajar Les sepupu aku. Lumayanlah dari jualan ES kalo laku semua (sekitar 30 buah, dijual seribuan) aku dikasih duit 1x104 oleh Bibiku yang emang pemilik e situ. Akumah jualin doing. Awalnya aku jualan bukan untuk ‘nyari uang’, niatku justru untuk ngebantu Bibiku itu, yang baru ditinggal wafat suaminya, aku kasihan. Soalnya beliau untuk bisa hidup ya dari gaji almarhum pamanku itu, karena sudah wafat jadi ya yang bantuin anak dan menantunya. Menurutku ya kurang. jadi aku niat bantu ‘cariin duit’ gitu. Bukan aku sok kaya, aku juga hidup pas-pasan ngandelin belas kasih kakaku yang udah kerja, kalo ga gitu ya aku gabisa sekolah. Hmmmm Alhamdulillah banget.

Ngajar Les untuk sepupuku? (khawatir ada yang nanya) kenapa mesti dibayar? Oke ya, sekali lagi, niat awalku emang bukan untuk ‘nyari duit’, niatnya bantuin sepupuku yang kebetulan waktu itu masih SD kelas 6. Pengen belajar lebih baik. Ya sebagai ucapan terima kasihnya (mungkin yah) bibiku ngasih aku uang untuk ongkos+jajan sekolah, lumayan sih dikasih tigapululimaribu, pas. Ga kegedean. Alhamdulillah… rutin tuh setiap seminggu dua kali pertemuan. Tapi Cuma satu semester. Saoalnya pas aku semester II juga mau fokus persiapan UN SMA.

PAS AKU LULUS SMA… baru nih aku NIAT ‘NYARI DUIT’.
Ya gimana ga niat, aku benar-benar jadi seorang PENGANGGURAN sebagiman terdefinisikan di awal ceritaku itu. Udah ga sekolah, ga kuliah juga. Jadi statusku BUKAN Pelajar/Mahasiswa. Ngarti?

Aku jual jasa, jasa terima pesanan sketsa wajah. Harganya aku awal pas promo, untuk satu wajah di kertas ukuran A4, 65 ribu, udah aku kasih bingkai, gratis ongkir, berwarna pula. Murah kan?
Pas udah ga promo? Aku naikin 10 ribu. Hehe MURAH BANGET. Mana ada sketsa wajah dijual harga segitu? Yang aku tauyah minimal 100 ribu (tahun 2014 loh itu).

Sekarang MASIH JUAL/TERIMA JASA PEMBUATAN SKETSA WAJAH juga koooo… boleh calling-calling akuu, PC di kolom komentar yah :D

PAS AKU KULIAH
Tiga bulan pertama kuliah aku ya biasa, mahasiswa yang masih suka kupu-kupu. Di bulan ke-empat aku dapet tawaran mengajar Les Private, ditawarin temenku. Untuk mengajar pelajaran MIPA Kelas XI. Pelajaran MIPA apa saja? Matematika, Fisika, dan Kimia. Yaa yang itung-itunganlah. Aku sanggupin karena aku merasa MASIH BISA tuh pelajaran itumah, masih inget, anget, apalagi setelah aku berjuang ‘hidup-hidupan’ untuk keterima kuliah, aku babat semua pelajaran secara mandiri. Sendiri. Di kamar. Bosen? Iya, tapi gabisa gerak. Bagitulah. Semoga para pembaca sekalian ga ngalamin apa yang aku alamin selama SETAHUN itu.

Jadilah aku PUNYA PENGHASILAN… Yuhuuuy lumayan. Tapi hanya bertahan empat bulan saja. Haha

Lika-liku terkait nge-Les aku dah banyak, panjang banget kalo diceritain semua. Capek ngetiknya. :d
Selain nge-les, aku juga sempat jualan jajanan di kelas. Jual Pulpen & bros juga aku pernah. Pokoknya ya aku dapet titel ‘pedagang’ gitulah. Pusing sih, bikin kurang fokus belajar. Tapi lumayan dapet duit. Haha dassar.

SEMESTER DELAPAN aku dah ngajar di sekolah, sekolah bagus, SMA. Walah hanya 2 bulan menjadi guru infal/pengganti guru yang sedang cuti.

LULUS KULIAH bisa dibilang pngengguran, bisa. Dibilang bukan pengangguran juga aku setuju. Jadi saat ini aku sedang dalam posisi ‘antara’ menganggur dan tidak… Loh ko???

Nanti aku ceritain kelanjutannya yah… hehe

NGOBROL SANTAI DENGAN MANTAN REKTOR


HELLO BRO & SIST...

Kisah ringan, sederhana, dan biasa aja ini spesial di hatiku...eeeaaaahh...


Tepatnya hari Kamis tanggal 31 Oktober 2019 pukul 9 pagi lewat dikitLah yah, saya keluar dari kostan dengan niat untuk pergi ke Perpustakaan Daerah, tapi sebelumnya saya akan membeli makan untuk sarapan sekaalian memfotocopy soal olimpiade untuk bahan mengajar hari Sabtu.

Entah mengapa saya lewat jalan belakang yang artinya harus melalui gerbang belakang kampus dan masuk area kampus. Oke. Baru jalan sebentar saya melihat seorang pria yang ‘tampak’ mirip dengan seseorang yang saya kenal, seorang teman SMA yang sedang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, saya pikir sih yah hanya mirip. Tapi semakin saya mendekat (karena harus melewati tempat dia duduk), dia tersenyum pada saya (padahal saya memakai masker loh yah). Kaget sih. Ternyata dia benar-benar temanku itu. MasyaAllah. Udah lama banget ga ketemu, saya ingat sih terakhir kali ketemu sekitar tahun 2015 awal pas dia mampir ke rumah. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi.

Ngobrol ngobrol ngobrol… ternyata dia sedang menunggu seorang dosen FISIP yang janji untuk bertemu pukul 08.00, tapi karana ada suatu hal akhirnya lewat dari jam yang dijanjikan. Itulah mengapa temanku duduk sendirian, menunggu. Karena temanku itu memang dari FISIP UB juga, dia sedang masa penelitian skripsi, dan dosen FISIP di kampusku itu akan diwawancarai sebagai salah satu narasumbernya. Mantaap…

Di sela-sela kami mengobrol, dari arah belakangku, Yang Terhormat Pak ‘Mantan’ Rektor Kampusku menyapa Kami, sebenarnya beliau akan menuju ruang rektorat. Kami pun bersalaman. Beliau menanyai kami, apakah kami ini siswa/mahasisawa/siapa?
Kami jawab bahwa saya baru saja Lulus dari Jurusan pendidikan Matematika pada bulan Juli lalu. Sedangkan temanku masih mahasiswa.

Mendengar jawabanku, beliau rupanya tertarik untuk bertanya padaku lebih lanjut
“Berapa lama kuliahnya.”
“Alhamdulillah pas empat tahun pak.”
“Pas yah, bagus. Sekarang kegiatannya apa?”
“Oh sekarang saya mengajar pak, di Smansa.”
“Wah bagus tuh bisa masuk situ. Apa dulu PPLK di sana juga?”
“Benar pak, dulu PPLK di sana, kebtulan ada lowongan mengajar akhirnya saya dipanggil untuk mengajar di sana. Tapi saya bukan mengajar di kelas pagi Pak, di kelas sore.”
“Kelas sore? Memang ada yah?”
“Ada pak, khusus Les.”
“Les untuk siswa kelas XII?”
“Untuk semua kelas, yang ingin les saja tapi pak, semua mata pelajaran yang dibutuhkan.”
“Oh begitu, ada berpa sekarang jumlah guru matematika di sana.”
“Kalau tidak salah ada 8 atau 9 sih pak.”
“Oh banyak yah rombelnya, yaudah yah.”
“iyah pak”.
Akhirnya beliau pamit meninggalkan kami.
Saya merasa special pada hari itu, semasa kuliah belum pernah berbincang-bincang dengan pak rektor. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut adalah hal biasa, ngobrol doing. Tapi bagiku itu lumayan luar biasa. Hehe. Maklumlah aku hanya mhasiswa biasa yang tak dikenal banyak orang penting. Hehehe

Alhadulillah wasyukurillah…
EH btw, ada yang ingin tahu kelanjutan ceritaku dengan temanku itu? Next season yah.. see you :D

Jumat, 25 Oktober 2019

PePeeLKa

Akhirnyaaaa...
KHSUSON buat ceritain masa-masa pe pe el ka yaaa...😂

Dimulai pada bulan September 2018, entah lupa tanggal berapa yah… sebenernya sih ada jadwal di buku panduan, tapi saya lagi males buka-buka bukunya. Ngga terlalu penting sih ya tanggal mah…
Jadi, kita semua sudah dijadwalkan praktik mengajar selama 2,5 bulan. Jadi seharusnya kelar sekitar akhir November 2018.

Di sekolah tempatku praktik, aku kebagian mengajar kelas X Mipa, sebenernya ada 8 kelas Mipa, tapi berhubung guru pamongku mengajar dari X Mipa 1-6 saja, yaudah aku ga ngajar kelas X Mipa 7-8. Jadi total jam mengajar guru pamongku adalah 24 jam pelajaran sepekan. Pembagian yang unik dari guru pamongku untuk mahasiswa didikannya, yaitu agar adil dan kenal dengan seluruh siswa kelas X Mipa 1-6, dalam sepekan jadwal mengajar saya selang-seling sama temenku itu. Misalnya senin aku ngajar, temenku ngga, selasa dia baru ngajar dan aku yang ngga, gitu-gitu terus sampe kelar PPL. Walaupun, di pekan pertama ke sekolah itu kami masuk kelas barengan ke semua kelas untuk perkenalan sekalian ngawas ulangan Harian (kebetulan banget pas UH)…

Saya lupa kelas mana yang pertama kali aku masukin untuk mengajar dan gimana suasananya, pokokny aku Lupaaaa, efek kelamaan yah... harusnya saya ceritainnya dari dulu yah biar masih anget-anget giamanaaa gtu. Maklum yah mungkin perasaanku pas praktik mengajar masuknya ke memori jangka pendek, bukannya ngga berkesan yah, berkesan banget malah, karena menjadi awal pengalaman terjun ke "dunia nyata" seorang calon sarjana pendidikan (waktu itu, sekarang sih ya Alhamdulillah aku dah jadi sarjana, cuman belom wisuda ajah, wkwkkw).

Jadi saya merasa beruntung bisa mengenal siswa2 di keenam kelas itu. Makasih banyak guru pamongku tersayang,, (pengen banget meluk beliau, tapi aku malu wkwkw).

Apalagi yah 😉

Oiya,  Selama mengajar itu yah SELALU memanfaatkan media berupa Power Point, alhamdulillah sih akumah ga keberatan ngebuat PPT, udah biasa. Tapi yang keberatan justru anak-anak murid, katanya kalau pake PPT tuh ngga keliatan alur penjelasannya, enakan pake tangan di papan tulis, jelas dari mana ke mananya.. Gtu. etapi apa akunya aja kali yah yang belum bener ngejelasinnya. hahaha Maap yah nong :D

Bntar, udah malem... ku lagi di Lab. Lanjut nantiyah... see you ...

Aku kasih fotoku bareng anak-anak murid yaah.



Aku yang pake kerudung item yah hehe...
I Miss You nong

Aku pilihin foto yang paling rapih, karena di kelas lain yaaa gitu rame ga rapi wkwkw
Kalau pengen liat foto liannya bisa PC aku di kolom komentar haha

OKE LANJUT YAH NONG...

Selain kewajiban untuk mengajar, kami juga harus ‘membimbing’ salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Saking banyaknya dan aku negrasa ga bakat ngapa-ngapain, yaudah aku pilih RISMA yang emang pernah aku ikutin juga di zaman SMA, bahkan aku dulu pernah ngejabat sebagai Ketua Keputriannya, haha… kenangan yang ngga banget dah.. -Lupakan.

Jadi Selama ‘ngebimbing’ RISMA, aku malah ngerasa bukan ngebimbing, malah terasa dibimbing. Ya gimana yah, anak-anak SMA kan udah pada mandiri, jadi gaperlu dibimbing banget gtu menurutku mah. Dan emang bener… aku ga ngapa2in selian ngehadiri kegiatan mentoring, dan aku sendiri ga pernah jadi mentor, Cuma ngobrol2 biasa aja, sharing, cerita2 doang. Tapi ya yang penting mah keliatan “agak aktif” di eskul, soalnya jadi penilaian juga ahahaha… kalau ngga dinilai mah, ah gausah ikutan :p

Selain mengajar dan membina askul, kami juga mendapat tugas “jaga piket”, tugasnya ya beda tipis ama receptionist alias penerima tamu, Cuma selain nerima tamu, tugas yang paling urgent adalah nganterin surat ke kelas, biasanya sih surat ijin atau sakit siswa yang dianter sama ortu atau mamang gosend soalnya gaboleh ada orang luar masuk ke lingkungan sekolah apalagi ke kelas. Kadang juga ada ortu datang ke sekolah buat ngejemput anaknya, misalnya mau ada acara keluarga atau apalah, nah si “guru piket” ini kudu manggil anak ke kelas (kalau dihubungin via telpon gabisa sih). Lumayanlah olahraga naik-turun tangga kalau lagi banyak surat masuk, jadi gacukup dua orang yang jaga, capek . haha

Nah yang paling bikin aku terkejut pertama kali pas jaga piket adalah ORANGTUA NGANTERIN BEKAL untuk anak sampe sekolah, bahkan ada yang Cuma nganterin AIR MINUM DOANG. MasyaAllah kebangetan dah manjaddah wajaddahnya tuh anak jaman sekarang, mentang-mentang orang kaya (kayanyasih) :D Bahkan yang lebih ngeselinnya adalah ada ortu yang nganterin dasi pramuka atau buku catatan apaagituyah. Rasanya gimanaa gitu yah menurutku mah, soalnya pas jamanku sekolah sejak SD ampe SMA tuh kalo ada barang ketinggalan ya ambil sendiri ke rumah, atau kalau dihukum ya gapapa dihukum daripada ngerepotin orangtua buat nganterin ke sekolah. Keseldah… kelakuan, dassar.

Kasus lagi yah, kan kalau di sekolah tuh ga ada fotocopy’an, nah ada waktu itu siswa yang ijin mau ke luar di jam belajar (belum istirahat) dengan alasan mau ngefotocopy untuk tugas. *dalam hati nih yah “HELLOW NONG KENAPA GA DARI KEMAREN kalau tugas ngefotocopy untuk hari ini?!!! sumpah kebanyakan alasan…
Astaghfirulloh pokoknya aku banyak ngebatin waktu itu, tapi ku Cuma bisa liatin aja, biarin guru aslinya (guru honorer yang sedang jadwal jaga piket) yang menangani, cz aku Cuma guru praktikan… liatin aja. ahahha
Bukan niat aku ceritain keburukan-keburukan yang terjadi saat aku PPL yah, Cuma ya moment begini yang masih teringat, berkesan, dan asyik diceritakan wkwkw

OKEDEH BIAR ADIL aku akan ceritakan hal-hal kegiatan positif yang patut dicontoh oleh siapapun nih…

Bisa dibilang yang persentase siswa anak “orang kaya” di sekolah tersebut lebih  esar disbanding siswa yang terlahir di keluarga sederhana (pas-pasan). Jadi waktu itu sedang ada rencana pembangunan masjid sekolah, setiap siswa diwajibkan memberi infaq minimal 350 ribu, boleh lebih. Bahkan bagi siswa non-muslim pun diperbolehkan memberikan sumbangan dengan besaran yang sama (minial 350 rb). Ssetiap infaq yang masuk akan dicatat dan dipajang di papan informasi (mading depan kantor). Iseng-iseng sih aku lihat-lihat yah, AKU TERKEJUT karena di sana tercantum sebuah nominal yang sangat-sangat W O W, ada siswa (kayanya sih orangtuanya pasti) yang berinfaq sebesar 1x107 rupiah. MasyaAllah yah. Untung beliau ini seorang muslim, jadi kebaikannya akan berbuah pahala (insyaAllah), mudah-mudahan rezekinya semakin diperlancar dan amal ibdahnya diterima. Aamiin… dan kebetulan banget nama siswa tersebut diajar sama saya, awalnya sih hanya ingat nama, tapi akhirnya saya cari tuh anaknya yang mana (tapi diem2 sih yah), anaknya cukup baik, ga sombong (menurutku yah). Alhamdulillah dah…

Gacuma pas itu doang, nah kebetulan pada jaman saya PPLK tuh ada musibah gempa yang menimpa warga di Palu, jadi sebagai bentuk simpati kita yang masih diberikan keselamatan, sekolah kami menggalang dana bantuan selama 3 hari. Nah kita, mahasiswa praktikan mendapat tugas keliling kelas bantuin galang dana, rata2 tiap hari per-kelas itu menyumbang di atas 100 rb, bahkan ada yang sampai 300 rb, bukan hanya karena setiap kelas jumlah siswa lebih dari 40 (bahkan ada yang sampai 49) tapi juga siswa2nya baik-baik. Jadi selama 3 hari itu terkumpul dana sebanyak 10 juta lebih, Alhamdulillah.

ADA LAGI nih…
Kebiasaan yang sangat baik ini telah berjalan puluhan tahun, mungkin sejak sekolah ini berdiri (tapi gatau ding wkwkwk), yaitu setiap pagi pukul 07.00-07.15 ada kegiatan tadarus bersama yang dipimpin oleh guru PAI dengan bantuan pengeras suara yang bersumber dari ruang guru dan dapat didengar di seluruh kelas bahkan seluruh lingkungan sekolah. Khusus hari jum’at bisa sampai 07.30 karena YaaSiiin an. Jadi seluruh warga muslim yang sedang dalam keadaan suci dapat bertadarrus, sedangkan yang non-muslim dapat ikut mendengarkan.  Menurutku kegiatan ini SANGAT-SANGAT bagus dan mendidik. Mudah-mudahan bisa menjadi jalan hidayah bagi siswa atau siapapun untuk giat memperbaiki bacaan Al-Qur’annya. Lima belas menit itu waktu yang cukup untuk membaca Al-Qur’an, bayangkan kalau mengaji di rumah, baru 5 menit aja udah kerasa lama, yak an? Karena memang untuk melakukan kebaikan itu adaaa saja godaannya, salah satunya mengantuk. Ada yang tidak setuju? Boleh koment…hehe
Entah kebetulan atau apa, pas kami PPLK itu ada kegiatan khotmil qur’an hasil tadarrus bersama selama 8 tahun. Alhamdulillah. Kegiatan khotmil qur’an ini diisi dengan cermah agama dilanjutkan dengan do’a khotmil qur’an besama-sama di lapangan sekolah. Aku suka banget kegiatan ini…

DAN LAGI nih…

Pengajian bulanan yang diadakan setiap hari jum’at di pekan terakhir setiap bulan. Kegiatan ini dikelola oleh eskul RISMA dan guru PAI. Jadi bentuk kegiatannya adalah mendengarkan ceramah agama di lapangan sekolah, seluruh siswa muslim (yang non-muslim boleh ikut juga atau di kelas aja gapapa) dan guru duduk di lapangan. Asik sih, jadi ngga belajar selama 2 jam pelajaran hehe. Tapi ya resiko bagi guru yang kedapatan jadwal mengajar di hari jum’at jam pertama dan kedua harus “ngebut” ngajarnya di peretemuan berikutnya (jadi ya jatah waktu ngajarnya keambil), ya gapapa sih ya menurutku, kan kegiatan ini juga bagian dari majlis ilmu yang mungkin hanya dihadiri di saat-saat seperti ini saja oleh sebagian warga sekolah. Insyaallah barokah.

Nah itulah sepenggal kisah PePeeLKaku... Nanti kuceritakan lagi kalau lagi mood yah hehe

Atau pengen ngobrol langsung denganku?
PC aja di kolom komentar :D

Kisah yang Tertunda


Assalaamu’alaikum wr.wb
Apa kabar pemirsah… pasti pada kangen yah dengan cerita-ceritaku. Yakan yakaaan?

Oke gan, saking lamanya aku ga cerita-cerita nih yah, kayanya udah hampir tiga taun aku ga ngobrol (*sendiri) di sini yah…

Aku mau ceritain kisah perjalanan skrip-sweet-ku dulu, boleh kan?
Pas aku semester tujuh, biasalah udah mulai rame-rame nyiapin diri buat skrip-sweet-an, mulai dari milih dosen pembimbing sampe nyiapin judul, yaa rencana penelitian lah intinya.
Tapi tentunya sebelum bisa skrip-sweet-an harus udah ngelewatin kegiatan inti aplikasi hasil pembelajaran selama enam semester sebelumnya, yaitu PPLK.-ngajar di sekolah.

Pada jamanku (berasa udah lama yah wkwk), penentuan sekolah tempat kita (mahasiswa) akan PPLK itu sistemnya milih kabupaten/kota tujuan di form pendaftaran PPLK.
Oke ya ceritanya udah tuh,. Pada saat pengumuman penempatan mahasiswa PPLK, pengumuman pertama aku ditempatkan di Pi-One (nama sebuatan SMP di Kota pilihanku yah), aku dah seneng banget dong karena bakal ngajar anak-anak SMP. Aku pikir ringan secara materi, jadi nyelow ah (bukan sombong sih ya). Aku ga perlu belajar lagi materi-materi SMP karena sebelumnya udah sering ngajarin anak SMP di les private, jadi masih inget anget-anget gtu.

Eng-ing-eeeng, pekan berikutnya sejak pengumuman sekolah tempat PPLK, ADA PENGUMUMAN BARU doong yang bikin AKU KAGET SHOCK SETENGAH HIDUP (hehe), aku dipindahin ke SMA, SMA mana coba? Ulalalaaa SMANSUY cuuy, yang isinya anak-anak “pinter” dan “kaya-kaya”, kata orang-orang sih yah. – (nyatanya juga sih haha)- aku sempet kelabakan dong, secara dah materi SMA udah hampir pada lupa, aku takut bakal diiremehin anak murid gara-gara gabisa jawab kalau ditanya (bayanganku waktu itu sih)… otomatis aku belajar dong materi SMA, cari bukunya, sampe beli tiga buku, karena gatau bakal dapet kelas berapa (X, XI, atau XII)… aku pelajarin.

Oke aku dah siap secara materi…
Tinggal siapin mental.

Pokoknya banyak banget drama secara administratif yang ga perlu aku ceritain. Drama sebelum mulai ngajar di kelas yaa… ya gitu deh.

Oke, pembagian guru pamong (guru pembimbing yang akan kita gantikan mengajar dan membimbing kita selama masa PPLK). Waktu itu dari matematika diberi jatah dua guru pamong, tapi karena kita (mahasiswanya) bertiga, jadi salah satu harus sendiri untuk satu guru pamong. Oke aku kebetulan dapet berdua untuk satu guru pamong.
Ku kira partnerku (temenku) ini bakal asyik, ternyataaaa  iiih nyebelin, gabisa diajak kerjasama, suka mengeluh, suka nyontek, ga mandiri. Tapi ga aku ungkapkan ko ke dia haha (kecuali di abaca tulisanku ini, bodoamat).
Alhamdulillah, guru pamongku ini cukup “menakutkan” waktu awal-awal, selalu tegang kalau dipanggil beliau untuk diskusi perbaikan cara mengajar.  Tegas. Tapi beliau baik banget, selalu ngasih kita jajanan dari koperasi  secara gratis(secara gituloh, beliau ini pengurus koperasi sekolah), pokoknya setiap ada jajanan baru pasti dikasih (Cuma untuk anak bimbingannya aja), alhasil temen2ku dari jurusan lain ‘agak ngiri” sih keliatannya, wkwkw… tapi tenang, aku bagi2 ko…
Oke, cerita singkatnya aku dah kelar nih Praktik Mengajar, sampe bulan desember, karena sampe ngawas UAS pada waktu itu. Aku sih secara pribadi seneng yah, karena itu artinya masih diberi kesempatan untuk bertatap muka dengan anak-anak murid...

Alhamdulillaah...


Nanti aku ceritain lebih detailnya di sesi khusus PPL yah…
Karena sekarang niatnya khsusus my skrip-sweet, tapi kalau langsung ke skrip-sweet kesannya gimanaa gitu, jadi perlu ada pembukaan.
Cukuplahyah pembukaannya…

Oke kita mulai fokus yah…
My Skrip-sweet dimulai di sheet berikutnya. hahahha

Senin, 09 Oktober 2017

Jangan Mengeluh

hmmm -__-

Apa yang saya tuliskan ini sebagian berupa "keluhan". Meskipun dengan dalih "ingin berbagi", tetap saja namanya mengeluh. May be^^