Akuu....
Yaps, mau ceritain tentang diriku. No comment yah...
Status 'pengangguran'ku hanya berlaku di pagi hari terhitung sejak 2 Oktober lalu. Sejak saat itu aku sudah tidak mengajar pagi hari di sekolah, tugasku sebagai guru pengganti selesai di awal bulan Oktober. Selama satu bulan September 2019, aku menjadi guru 'pengganti', jadilah dipanggil 'ibu' oleh 'anak-anakku'. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi yang ke-sekian kalinya.
Seperti biasa, aku gamau dipanggil 'ibu' karena aku merasa masih muda. Hehe
"Panggil saja kakak/teteh", ucapku di dalam kelas. Tapi anak-anak merasa enggan, karena statusku ya sebagai guru harus dipanggil 'ibu guru', begitu kata mereka. Yaudahdeh :D
Di sekolah pagi itu, aku mengajar mata pelajaran 'Matematika Peminatan' untuk kelas X (ada 8 kelas) dan kelas XI (ada 2 kelas). Yaps, aku mengajar sebanyak 10 kelas, 32 jam pelajaran dalam sepekan. Di pekan pertama saya hampir sakit, kelelahan, karena belum terbiasa. Alhamdulillah di pekan-pekan berikutnya badanku sudah bisa beradaptasi.
Dari sekian banyak siswa, ada yang bilang "Ibu usianya berapa? Kayanya cocok dipanggil 'kakak' daripada 'ibu', keliatannya masih terlalu muda".
Ouch aku bahagiaa dibilang muda... Emang masih muda sih. Hehehe
SEKARANG...
Aku mengajar kelas sore saja, di sekolah yang berbeda. Perlu kalian ketahui yah, dua sekolah ini memiliki persaingan yg cukup sengit, sama-sama bagus, memiliki kualitas tersendiri di bidangnya masing-masing. Dan siswa2nya saling kenal, karena mereka rata-rata berasal dari MTs/SMP yang sama. Temenan.
Jadiii...
Di kelas sore ini, aku mengampu mata pelajaran "FISIKA" untuk kelas X. Kebetulan di kelas sore ini peraturannya tidak terlalu ketat, karena hanya 'Les/tambahan belajar'. Manggilnya boleh apa saja boleh ibu/kakak/teteh, belajar sambil makan, boleh mengoperasikan handphone, bahkan 'main' sosmed seperti instagram dsbLah...
Kebetulan ada anak yang live instragram saat pelajaran berlangsung. Saat aku ngasih penjelasan. Ternyata ada temannya siswaku yang komentar, kebetulan dia siswaku juga yg di kelas pagi. Kalau tidak salah isi komentarnya begini:
"Itu ibu MatPem bukan sih? Mirip."
#MatPem: Matematika Peminatan
Jadilah siswaku yg live ig ini nanya ke aku, "Ibu ngajar Matpem di SMA X?"
Barulah aku cerita bahwa aku sesungguhnya guru Matematika yang lintas ke Fisika. Hehehe
Begitulah...
Minggu, 03 November 2019
Selempang Namaku
Hmmm...
Entah sudah menjadi budaya para mahasiswa tingkat akhir atau emang lagi nge-trend di masaku saja? Apaan? Selempang nama.
Beberapa tahun terakhir ini aku sering lihat mahasiswa2 yang baru beres sidang mendapatkan selempang nama+gelar sarjananya. Entah itu pemberian teman atau sengaja membuat sendiri kemudian dititipkan ke teman, jadi seolah-olah diberikan oleh teman. Hahaha. Ini nyata, ada, temanku. Maap maap...
Aku sendiri bagaimana? Saat kelulusanku, terhitung hari sesaat setelah sidang, ya seperti biasa, bahagia, foto-foto + dapet hadiah dari temen. Tapi aku ga memakai selempang nama+gelar. Kenapa? Ga ada yang ngasih, juga ga niat membuat sendiri. Wkwkw...
Gapapa sih, ga penting soalnya. Bukan kebutuhan atau apa.
Ada beberapa temanku yang emang nge-genk sengaja memesan/membuat selempang nama+gelar itu, tuker-tukeran masang selempangnga. Ya Allah. Niat banget. Hehe
Satu lagi, kebetulan banget aku punya temen, yang sebenarnya dia juga punya genk tapi mereka ga ngebuatin selempang nama untuk temanku ini. Akhirnyaaaa dia minta tolong aku untuk memesan selempang tersebut tapi dia bayar sendiri (ga aku bayarin :D), plus minta diselempangin pas hari kelulusannya nanti. Segitunya yah, lucu jadinya. Aku sih nurut2 aja,. Mudah-mudahan temanku ini bahagia & tambah semangat... Aamiin...
Plis, ini cerita ga penting yah, gausah dikoment :D
Nikmati saja alurnya.
Entah sudah menjadi budaya para mahasiswa tingkat akhir atau emang lagi nge-trend di masaku saja? Apaan? Selempang nama.
Beberapa tahun terakhir ini aku sering lihat mahasiswa2 yang baru beres sidang mendapatkan selempang nama+gelar sarjananya. Entah itu pemberian teman atau sengaja membuat sendiri kemudian dititipkan ke teman, jadi seolah-olah diberikan oleh teman. Hahaha. Ini nyata, ada, temanku. Maap maap...
Aku sendiri bagaimana? Saat kelulusanku, terhitung hari sesaat setelah sidang, ya seperti biasa, bahagia, foto-foto + dapet hadiah dari temen. Tapi aku ga memakai selempang nama+gelar. Kenapa? Ga ada yang ngasih, juga ga niat membuat sendiri. Wkwkw...
Gapapa sih, ga penting soalnya. Bukan kebutuhan atau apa.
Ada beberapa temanku yang emang nge-genk sengaja memesan/membuat selempang nama+gelar itu, tuker-tukeran masang selempangnga. Ya Allah. Niat banget. Hehe
Satu lagi, kebetulan banget aku punya temen, yang sebenarnya dia juga punya genk tapi mereka ga ngebuatin selempang nama untuk temanku ini. Akhirnyaaaa dia minta tolong aku untuk memesan selempang tersebut tapi dia bayar sendiri (ga aku bayarin :D), plus minta diselempangin pas hari kelulusannya nanti. Segitunya yah, lucu jadinya. Aku sih nurut2 aja,. Mudah-mudahan temanku ini bahagia & tambah semangat... Aamiin...
Plis, ini cerita ga penting yah, gausah dikoment :D
Nikmati saja alurnya.
Jika Aku besar nanti-
"Mau jadi apa kamu?"
Itulah kalimat yang terlontar dari seorang ibu kepada anaknya yang tak mau sekolah, pagi ini.
Seperti biasa, setiap hari Senin pagi aku berangkat dari rumah ke kostan. Hari ini tak seperti biasanya, aku turun depan kampus dan melewati kampus untuk ke luar dari gerbang belakang. Melewati gang-gang kecil untuk bisa sampai kost'an. Tak sengaja aku melihat seorang ibu berdiri tepat di mulut pintu menasehati sekaligus bertanya (dengan nada keras) kepada anak laki-lakinya...
"Mau jadi apa kamu kalau sudah besar? Sudah kelas enam, bukannya makin pintar malah makin bodoh. Lihat yang jauh-jauh dari Tangerang saja mau sekolah, kamu yang dekat tidak mau!"
Kira-kira seperti itu bunyinya...
Di sana tidak hanya mereka berdua, tapi ada juga sang ayah yang sedang menggendong anak perempuannya yang masih kecil, adik dari si anak laki-laki kelas 6 tadi sepertinya. Juga ada seorang lagi anak laki2, mungkin temannya.
Sang ayah diam saja, mungkin bingung atau apa, bisa jadi menerapkan prinsip 'diam itu emas', tidak ingin memperbesar masalah. Biarkan si ibu yang bertindak... Maybe...hehe
Aku yang kebetulan lewat hanya menundukkan kepala, berlalu begitu saja... Ya mau gimana? Aku ga mau ikut campur.
Dari kejadian itu, aku teringat masa kecilku saat masih SD, pernah ingin "mogok" sekolah, tepatnya saat kelas 2 SD dan kelas 6 SD. hehehe. Memalukan memang.
Kenangan yang cukup mengesankan.
Sekian.
Itulah kalimat yang terlontar dari seorang ibu kepada anaknya yang tak mau sekolah, pagi ini.
Seperti biasa, setiap hari Senin pagi aku berangkat dari rumah ke kostan. Hari ini tak seperti biasanya, aku turun depan kampus dan melewati kampus untuk ke luar dari gerbang belakang. Melewati gang-gang kecil untuk bisa sampai kost'an. Tak sengaja aku melihat seorang ibu berdiri tepat di mulut pintu menasehati sekaligus bertanya (dengan nada keras) kepada anak laki-lakinya...
"Mau jadi apa kamu kalau sudah besar? Sudah kelas enam, bukannya makin pintar malah makin bodoh. Lihat yang jauh-jauh dari Tangerang saja mau sekolah, kamu yang dekat tidak mau!"
Kira-kira seperti itu bunyinya...
Di sana tidak hanya mereka berdua, tapi ada juga sang ayah yang sedang menggendong anak perempuannya yang masih kecil, adik dari si anak laki-laki kelas 6 tadi sepertinya. Juga ada seorang lagi anak laki2, mungkin temannya.
Sang ayah diam saja, mungkin bingung atau apa, bisa jadi menerapkan prinsip 'diam itu emas', tidak ingin memperbesar masalah. Biarkan si ibu yang bertindak... Maybe...hehe
Aku yang kebetulan lewat hanya menundukkan kepala, berlalu begitu saja... Ya mau gimana? Aku ga mau ikut campur.
Dari kejadian itu, aku teringat masa kecilku saat masih SD, pernah ingin "mogok" sekolah, tepatnya saat kelas 2 SD dan kelas 6 SD. hehehe. Memalukan memang.
Kenangan yang cukup mengesankan.
Sekian.
"Ma, Aku mau ke Jepang"
Tadi pagi...
sekitar jam tujuh’an.
Kakaku nelpon, katanya “Ma, hari ini saya mau berangkat
ke Jepang. Mohon do’anya yah.”
Do’a restu
dari orangtua sebagai pengantar untuk meminta keselamatan dunia akhirat.
InsyaAllah manjur.
Ya seperti
biasa, kakaku yang tinggal jauh dari orangtua SELALU menelpon emak jika ada
kegiatan ke luar kota atau luarnegeri. Atau kalau ada kegiatan apa saja, pasti
nelpon untuk minta do’a emak.
Bentar doang
sih nelponnya, to the point karena
emang buru-buru kayanya. Ga basa-basi. Paling Cuma dua menit. Kelar. Tutup telpon.
Cukuplah.
PONAKANKU yang kebetulan “nguping” akhirnya
bertanya, “Mak Ua, emang om ke Jepang mau ngapain?”
Emakku bilang, “Paling juga mau ceramah kaya dulu pas ke
Filipina (maksudnya menjadi pembicara dalam acara seminar, Cuma emakk
ga ngerti hehe)”
Langsung dong ponakanku bergumam “Ceramah Matematika yah,
hmmmm… “.
:D
Emang sih, kakakku pas nelpon ga bilang mau kegiatan apa di
Jepang. Buru-buru.
PENGANGGURAN
PENGANGGURAN
Apa yang
Kamu pikirkan ketika ‘baru banget’ ngebaca judul ceritaku ini?
Hayooo
bilang (di kolom komentar yah :D)…
Aku coba
tebak isi pikiranmu yaah…
Pengangguran berarti: lagi ngga kerja/ lagi diem
di rumah aja/ ga kemana-mana karena gada kegiatan di luar/ ga punya penghasilan/
bikin mata orangtua sepet karena ngelihat kita di rumah ‘cemenut’ aja/ online mulu karena lagi cari loker/ apalah-apalah…
haha
Ada yang mau nambahin? bilang di kolom komentar aja…
OKE jadi ya
beberapa frasa di atas , selain tebakanku tentang isi pikiranmu, juga isi
pikiranku.. hehe. Jelas dong, aku yang nulis, ya aku yang mikir… wkwk
JADI GINI GAN…
Sebenernya aku mau ceritain keadaanku
saat ini (pas lagi nulis ini, bahkan sejak sebulan yang lalu). Aku kan bisa
dibilang freshgraduate ya, baru lahir
ke dunia nyata, yang kata orang-orang mah ‘dunia rimba’. Dunia yang harus
dihadapi dengan sikap dewasa. Soalnya kalau status kita masih pelajar/mahasiswa
kita dianggap masih labil. Belum dewasa.
(Kata siapa? Kata SAYA. Hahahaha)
Ya gitudeh,.
Sebenernya aku dah bisa ‘nyari uang’ sejak jaman
SMA yah dengan cara jualan ES dan ngajar Les sepupu aku. Lumayanlah dari jualan
ES kalo laku semua (sekitar 30 buah, dijual seribuan) aku dikasih duit 1x104
oleh Bibiku yang emang pemilik e situ. Akumah jualin doing. Awalnya aku jualan bukan
untuk ‘nyari uang’, niatku justru untuk ngebantu Bibiku itu, yang baru
ditinggal wafat suaminya, aku kasihan. Soalnya beliau untuk bisa hidup ya dari
gaji almarhum pamanku itu, karena sudah wafat jadi ya yang bantuin anak dan
menantunya. Menurutku ya kurang. jadi aku niat bantu ‘cariin duit’ gitu. Bukan
aku sok kaya, aku juga hidup pas-pasan ngandelin belas kasih kakaku yang udah
kerja, kalo ga gitu ya aku gabisa sekolah. Hmmmm Alhamdulillah banget.
Ngajar Les untuk sepupuku? (khawatir ada yang nanya) kenapa
mesti dibayar? Oke ya, sekali lagi, niat awalku emang bukan untuk ‘nyari duit’,
niatnya bantuin sepupuku yang kebetulan waktu itu masih SD kelas 6. Pengen belajar
lebih baik. Ya sebagai ucapan terima kasihnya (mungkin yah) bibiku ngasih aku
uang untuk ongkos+jajan sekolah, lumayan sih dikasih tigapululimaribu, pas. Ga
kegedean. Alhamdulillah… rutin tuh setiap seminggu dua kali pertemuan. Tapi Cuma
satu semester. Saoalnya pas aku semester II juga mau fokus persiapan UN SMA.
PAS AKU LULUS SMA… baru nih aku NIAT ‘NYARI DUIT’.
Ya gimana ga niat, aku benar-benar jadi seorang PENGANGGURAN
sebagiman terdefinisikan di awal ceritaku itu. Udah ga sekolah, ga kuliah juga.
Jadi statusku BUKAN Pelajar/Mahasiswa. Ngarti?
Aku jual jasa, jasa terima pesanan sketsa wajah. Harganya aku
awal pas promo, untuk satu wajah di kertas ukuran A4, 65 ribu, udah aku kasih
bingkai, gratis ongkir, berwarna pula. Murah kan?
Pas udah ga promo? Aku naikin 10 ribu. Hehe MURAH BANGET. Mana
ada sketsa wajah dijual harga segitu? Yang aku tauyah minimal 100 ribu (tahun
2014 loh itu).
Sekarang MASIH JUAL/TERIMA
JASA PEMBUATAN SKETSA WAJAH juga koooo… boleh calling-calling akuu, PC di kolom
komentar yah :D
PAS AKU KULIAH
Tiga bulan pertama kuliah aku ya biasa, mahasiswa yang masih
suka kupu-kupu. Di bulan ke-empat aku dapet tawaran mengajar Les Private,
ditawarin temenku. Untuk mengajar pelajaran MIPA Kelas XI. Pelajaran MIPA apa
saja? Matematika, Fisika, dan Kimia. Yaa yang itung-itunganlah. Aku sanggupin
karena aku merasa MASIH BISA tuh pelajaran itumah, masih inget, anget, apalagi
setelah aku berjuang ‘hidup-hidupan’ untuk keterima kuliah, aku babat semua
pelajaran secara mandiri. Sendiri. Di kamar. Bosen? Iya, tapi gabisa gerak.
Bagitulah. Semoga para pembaca sekalian ga ngalamin apa yang aku alamin selama
SETAHUN itu.
Jadilah aku PUNYA PENGHASILAN… Yuhuuuy lumayan. Tapi hanya
bertahan empat bulan saja. Haha
Lika-liku terkait nge-Les aku dah banyak, panjang banget kalo
diceritain semua. Capek ngetiknya. :d
Selain nge-les, aku juga sempat jualan jajanan di kelas. Jual
Pulpen & bros juga aku pernah. Pokoknya ya aku dapet titel ‘pedagang’
gitulah. Pusing sih, bikin kurang fokus belajar. Tapi lumayan dapet duit. Haha dassar.
SEMESTER DELAPAN aku dah ngajar di sekolah, sekolah
bagus, SMA. Walah hanya 2 bulan menjadi guru infal/pengganti guru yang sedang cuti.
LULUS KULIAH bisa dibilang pngengguran, bisa.
Dibilang bukan pengangguran juga aku setuju. Jadi saat ini aku sedang dalam
posisi ‘antara’ menganggur dan tidak… Loh ko???
NGOBROL SANTAI DENGAN MANTAN REKTOR
HELLO BRO & SIST...
Kisah ringan, sederhana, dan biasa aja ini spesial di hatiku...eeeaaaahh...
Tepatnya hari Kamis tanggal 31 Oktober 2019 pukul 9 pagi
lewat dikitLah yah, saya keluar dari kostan dengan niat untuk pergi ke
Perpustakaan Daerah, tapi sebelumnya saya akan membeli makan untuk sarapan
sekaalian memfotocopy soal olimpiade untuk bahan mengajar hari Sabtu.
Entah mengapa saya lewat jalan belakang yang artinya harus
melalui gerbang belakang kampus dan masuk area kampus. Oke. Baru jalan sebentar
saya melihat seorang pria yang ‘tampak’ mirip dengan seseorang yang saya kenal,
seorang teman SMA yang sedang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, saya pikir
sih yah hanya mirip. Tapi semakin saya mendekat (karena harus melewati tempat dia duduk), dia tersenyum pada saya (padahal saya memakai masker loh yah).
Kaget sih. Ternyata dia benar-benar temanku itu. MasyaAllah. Udah lama banget
ga ketemu, saya ingat sih terakhir kali ketemu sekitar tahun 2015 awal pas dia
mampir ke rumah. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi.
Ngobrol ngobrol ngobrol… ternyata dia sedang menunggu seorang
dosen FISIP yang janji untuk bertemu pukul 08.00, tapi karana ada suatu hal
akhirnya lewat dari jam yang dijanjikan. Itulah mengapa temanku duduk
sendirian, menunggu. Karena temanku itu memang dari FISIP UB juga, dia sedang
masa penelitian skripsi, dan dosen FISIP di kampusku itu akan diwawancarai
sebagai salah satu narasumbernya. Mantaap…
Di sela-sela kami mengobrol, dari arah belakangku, Yang
Terhormat Pak ‘Mantan’ Rektor Kampusku menyapa Kami, sebenarnya beliau akan menuju
ruang rektorat. Kami pun bersalaman. Beliau menanyai kami, apakah kami ini
siswa/mahasisawa/siapa?
Kami jawab bahwa saya baru saja Lulus dari Jurusan pendidikan
Matematika pada bulan Juli lalu. Sedangkan temanku masih mahasiswa.
Mendengar jawabanku, beliau rupanya tertarik untuk bertanya padaku
lebih lanjut
“Berapa lama kuliahnya.”
“Alhamdulillah pas empat tahun pak.”
“Pas yah, bagus. Sekarang kegiatannya apa?”
“Oh sekarang saya mengajar pak, di Smansa.”
“Wah bagus tuh bisa masuk situ. Apa dulu PPLK di sana juga?”
“Benar pak, dulu PPLK di sana, kebtulan ada lowongan mengajar
akhirnya saya dipanggil untuk mengajar di sana. Tapi saya bukan mengajar di
kelas pagi Pak, di kelas sore.”
“Kelas sore? Memang ada yah?”
“Ada pak, khusus Les.”
“Les untuk siswa kelas XII?”
“Untuk semua kelas, yang ingin les saja tapi pak, semua mata
pelajaran yang dibutuhkan.”
“Oh begitu, ada berpa sekarang jumlah guru matematika di
sana.”
“Kalau tidak salah ada 8 atau 9 sih pak.”
“Oh banyak yah rombelnya, yaudah yah.”
“iyah pak”.
Akhirnya beliau pamit meninggalkan kami.
Saya merasa special pada hari itu, semasa kuliah belum pernah
berbincang-bincang dengan pak rektor. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut
adalah hal biasa, ngobrol doing. Tapi bagiku itu lumayan luar biasa. Hehe.
Maklumlah aku hanya mhasiswa biasa yang tak dikenal banyak orang penting. Hehehe
Alhadulillah wasyukurillah…
EH btw, ada yang ingin tahu kelanjutan ceritaku dengan
temanku itu? Next season yah.. see you :D
Jumat, 25 Oktober 2019
PePeeLKa
Akhirnyaaaa...
KHSUSON buat ceritain masa-masa pe pe el ka yaaa...😂
Nah itulah sepenggal kisah PePeeLKaku... Nanti kuceritakan lagi kalau lagi mood yah hehe
Atau pengen ngobrol langsung denganku?
PC aja di kolom komentar :D
KHSUSON buat ceritain masa-masa pe pe el ka yaaa...😂
Dimulai pada bulan September 2018, entah lupa tanggal berapa
yah… sebenernya sih ada jadwal di buku panduan, tapi saya lagi males buka-buka
bukunya. Ngga terlalu penting sih ya tanggal mah…
Jadi, kita semua sudah dijadwalkan praktik mengajar selama 2,5
bulan. Jadi seharusnya kelar sekitar akhir November 2018.
Di sekolah tempatku praktik, aku kebagian
mengajar kelas X Mipa, sebenernya ada 8 kelas Mipa, tapi berhubung guru
pamongku mengajar dari X Mipa 1-6 saja, yaudah aku ga ngajar kelas X Mipa 7-8. Jadi
total jam mengajar guru pamongku adalah 24 jam pelajaran sepekan. Pembagian
yang unik dari guru pamongku untuk mahasiswa didikannya, yaitu agar adil dan
kenal dengan seluruh siswa kelas X Mipa 1-6, dalam sepekan jadwal mengajar saya
selang-seling sama temenku itu. Misalnya senin aku ngajar, temenku ngga, selasa
dia baru ngajar dan aku yang ngga, gitu-gitu terus sampe kelar PPL. Walaupun, di
pekan pertama ke sekolah itu kami masuk kelas barengan ke semua kelas untuk
perkenalan sekalian ngawas ulangan Harian (kebetulan banget pas UH)…
Saya lupa kelas mana yang pertama kali aku masukin untuk mengajar dan gimana suasananya, pokokny aku Lupaaaa, efek kelamaan yah... harusnya saya ceritainnya dari dulu yah biar masih anget-anget giamanaaa gtu. Maklum yah mungkin perasaanku pas praktik mengajar masuknya ke memori jangka pendek, bukannya ngga berkesan yah, berkesan banget malah, karena menjadi awal pengalaman terjun ke "dunia nyata" seorang calon sarjana pendidikan (waktu itu, sekarang sih ya Alhamdulillah aku dah jadi sarjana, cuman belom wisuda ajah, wkwkkw).
Jadi saya merasa beruntung bisa mengenal siswa2 di keenam kelas itu. Makasih banyak guru pamongku tersayang,, (pengen banget meluk beliau, tapi aku malu wkwkw).
Apalagi yah 😉
Oiya, Selama mengajar itu yah SELALU memanfaatkan media berupa Power Point, alhamdulillah sih akumah ga keberatan ngebuat PPT, udah biasa. Tapi yang keberatan justru anak-anak murid, katanya kalau pake PPT tuh ngga keliatan alur penjelasannya, enakan pake tangan di papan tulis, jelas dari mana ke mananya.. Gtu. etapi apa akunya aja kali yah yang belum bener ngejelasinnya. hahaha Maap yah nong :D
Bntar, udah malem... ku lagi di Lab. Lanjut nantiyah... see you ...
Aku kasih fotoku bareng anak-anak murid yaah.
Saya lupa kelas mana yang pertama kali aku masukin untuk mengajar dan gimana suasananya, pokokny aku Lupaaaa, efek kelamaan yah... harusnya saya ceritainnya dari dulu yah biar masih anget-anget giamanaaa gtu. Maklum yah mungkin perasaanku pas praktik mengajar masuknya ke memori jangka pendek, bukannya ngga berkesan yah, berkesan banget malah, karena menjadi awal pengalaman terjun ke "dunia nyata" seorang calon sarjana pendidikan (waktu itu, sekarang sih ya Alhamdulillah aku dah jadi sarjana, cuman belom wisuda ajah, wkwkkw).
Jadi saya merasa beruntung bisa mengenal siswa2 di keenam kelas itu. Makasih banyak guru pamongku tersayang,, (pengen banget meluk beliau, tapi aku malu wkwkw).
Apalagi yah 😉
Oiya, Selama mengajar itu yah SELALU memanfaatkan media berupa Power Point, alhamdulillah sih akumah ga keberatan ngebuat PPT, udah biasa. Tapi yang keberatan justru anak-anak murid, katanya kalau pake PPT tuh ngga keliatan alur penjelasannya, enakan pake tangan di papan tulis, jelas dari mana ke mananya.. Gtu. etapi apa akunya aja kali yah yang belum bener ngejelasinnya. hahaha Maap yah nong :D
Bntar, udah malem... ku lagi di Lab. Lanjut nantiyah... see you ...
Aku kasih fotoku bareng anak-anak murid yaah.
Aku yang pake kerudung item yah hehe...
I Miss You nong
Aku pilihin foto yang paling rapih, karena di kelas lain yaaa gitu rame ga rapi wkwkw
Kalau pengen liat foto liannya bisa PC aku di kolom komentar haha
OKE LANJUT YAH NONG...
Selain kewajiban untuk mengajar, kami juga harus ‘membimbing’ salah satu
ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Saking banyaknya dan aku negrasa ga bakat
ngapa-ngapain, yaudah aku pilih RISMA yang emang pernah aku ikutin juga di
zaman SMA, bahkan aku dulu pernah ngejabat sebagai Ketua Keputriannya, haha…
kenangan yang ngga banget dah.. -Lupakan.
Jadi Selama ‘ngebimbing’ RISMA, aku malah ngerasa bukan ngebimbing,
malah terasa dibimbing. Ya gimana yah, anak-anak SMA kan udah pada mandiri,
jadi gaperlu dibimbing banget gtu menurutku mah. Dan emang bener… aku ga
ngapa2in selian ngehadiri kegiatan mentoring, dan aku sendiri ga pernah jadi
mentor, Cuma ngobrol2 biasa aja, sharing, cerita2 doang. Tapi ya yang penting
mah keliatan “agak aktif” di eskul, soalnya jadi penilaian juga ahahaha… kalau
ngga dinilai mah, ah gausah ikutan :p
Selain mengajar dan membina askul, kami juga mendapat tugas
“jaga piket”, tugasnya ya beda tipis ama receptionist
alias penerima tamu, Cuma selain nerima tamu, tugas yang paling urgent
adalah nganterin surat ke kelas, biasanya sih surat ijin atau sakit siswa yang
dianter sama ortu atau mamang gosend soalnya
gaboleh ada orang luar masuk ke lingkungan sekolah apalagi ke kelas. Kadang
juga ada ortu datang ke sekolah buat ngejemput anaknya, misalnya mau ada acara
keluarga atau apalah, nah si “guru piket” ini kudu manggil anak ke kelas (kalau
dihubungin via telpon gabisa sih). Lumayanlah olahraga naik-turun tangga kalau
lagi banyak surat masuk, jadi gacukup dua orang yang jaga, capek . haha
Nah yang paling bikin aku terkejut pertama kali pas jaga
piket adalah ORANGTUA NGANTERIN BEKAL untuk anak sampe sekolah, bahkan ada yang
Cuma nganterin AIR MINUM DOANG. MasyaAllah kebangetan dah manjaddah wajaddahnya tuh anak jaman sekarang, mentang-mentang
orang kaya (kayanyasih) :D Bahkan yang lebih ngeselinnya adalah ada ortu yang
nganterin dasi pramuka atau buku catatan apaagituyah. Rasanya gimanaa gitu yah
menurutku mah, soalnya pas jamanku sekolah sejak SD ampe SMA tuh kalo ada
barang ketinggalan ya ambil sendiri ke rumah, atau kalau dihukum ya gapapa
dihukum daripada ngerepotin orangtua buat nganterin ke sekolah. Keseldah…
kelakuan, dassar.
Kasus lagi yah, kan kalau di sekolah tuh ga ada fotocopy’an,
nah ada waktu itu siswa yang ijin mau ke luar di jam belajar (belum istirahat) dengan
alasan mau ngefotocopy untuk tugas. *dalam hati nih yah “HELLOW NONG KENAPA GA DARI
KEMAREN kalau tugas ngefotocopy untuk hari ini?!!! sumpah kebanyakan alasan…
Astaghfirulloh pokoknya aku banyak ngebatin waktu itu, tapi
ku Cuma bisa liatin aja, biarin guru aslinya (guru honorer yang sedang jadwal
jaga piket) yang menangani, cz aku Cuma guru praktikan… liatin aja. ahahha
Bukan niat aku ceritain keburukan-keburukan yang terjadi saat
aku PPL yah, Cuma ya moment begini yang masih teringat, berkesan, dan asyik
diceritakan wkwkw
OKEDEH BIAR ADIL aku
akan ceritakan hal-hal kegiatan positif yang patut dicontoh oleh siapapun nih…
Bisa dibilang yang persentase siswa anak “orang kaya” di
sekolah tersebut lebih esar disbanding
siswa yang terlahir di keluarga sederhana (pas-pasan). Jadi waktu itu sedang
ada rencana pembangunan masjid sekolah, setiap siswa diwajibkan memberi infaq
minimal 350 ribu, boleh lebih. Bahkan bagi siswa non-muslim pun diperbolehkan
memberikan sumbangan dengan besaran yang sama (minial 350 rb). Ssetiap infaq
yang masuk akan dicatat dan dipajang di papan informasi (mading depan kantor).
Iseng-iseng sih aku lihat-lihat yah, AKU TERKEJUT karena di sana tercantum
sebuah nominal yang sangat-sangat W O W, ada siswa (kayanya sih orangtuanya
pasti) yang berinfaq sebesar 1x107 rupiah. MasyaAllah yah. Untung
beliau ini seorang muslim, jadi kebaikannya akan berbuah pahala (insyaAllah),
mudah-mudahan rezekinya semakin diperlancar dan amal ibdahnya diterima. Aamiin…
dan kebetulan banget nama siswa tersebut diajar sama saya, awalnya sih hanya
ingat nama, tapi akhirnya saya cari tuh anaknya yang mana (tapi diem2 sih yah),
anaknya cukup baik, ga sombong (menurutku yah). Alhamdulillah dah…
Gacuma pas itu doang, nah kebetulan pada jaman saya PPLK tuh
ada musibah gempa yang menimpa warga di Palu, jadi sebagai bentuk simpati kita
yang masih diberikan keselamatan, sekolah kami menggalang dana bantuan selama 3
hari. Nah kita, mahasiswa praktikan mendapat tugas keliling kelas bantuin
galang dana, rata2 tiap hari per-kelas itu menyumbang di atas 100 rb, bahkan
ada yang sampai 300 rb, bukan hanya karena setiap kelas jumlah siswa lebih dari
40 (bahkan ada yang sampai 49) tapi juga siswa2nya baik-baik. Jadi selama 3
hari itu terkumpul dana sebanyak 10 juta lebih, Alhamdulillah.
ADA LAGI nih…
Kebiasaan yang sangat baik ini telah berjalan puluhan tahun,
mungkin sejak sekolah ini berdiri (tapi gatau ding wkwkwk), yaitu setiap pagi
pukul 07.00-07.15 ada kegiatan tadarus bersama yang dipimpin oleh guru PAI
dengan bantuan pengeras suara yang bersumber dari ruang guru dan dapat didengar
di seluruh kelas bahkan seluruh lingkungan sekolah. Khusus hari jum’at bisa
sampai 07.30 karena YaaSiiin an. Jadi seluruh warga muslim yang sedang dalam
keadaan suci dapat bertadarrus, sedangkan yang non-muslim dapat ikut
mendengarkan. Menurutku kegiatan ini
SANGAT-SANGAT bagus dan mendidik. Mudah-mudahan bisa menjadi jalan hidayah bagi
siswa atau siapapun untuk giat memperbaiki bacaan Al-Qur’annya. Lima belas
menit itu waktu yang cukup untuk membaca Al-Qur’an, bayangkan kalau mengaji di
rumah, baru 5 menit aja udah kerasa lama, yak an? Karena memang untuk melakukan
kebaikan itu adaaa saja godaannya, salah satunya mengantuk. Ada yang tidak
setuju? Boleh koment…hehe
Entah kebetulan atau apa, pas kami PPLK itu ada kegiatan
khotmil qur’an hasil tadarrus bersama selama 8 tahun. Alhamdulillah. Kegiatan
khotmil qur’an ini diisi dengan cermah agama dilanjutkan dengan do’a khotmil
qur’an besama-sama di lapangan sekolah. Aku suka banget kegiatan ini…
DAN LAGI nih…
Pengajian bulanan yang diadakan setiap hari jum’at di pekan
terakhir setiap bulan. Kegiatan ini dikelola oleh eskul RISMA dan guru PAI.
Jadi bentuk kegiatannya adalah mendengarkan ceramah agama di lapangan sekolah,
seluruh siswa muslim (yang non-muslim boleh ikut juga atau di kelas aja gapapa)
dan guru duduk di lapangan. Asik sih, jadi ngga belajar selama 2 jam pelajaran
hehe. Tapi ya resiko bagi guru yang kedapatan jadwal mengajar di hari jum’at
jam pertama dan kedua harus “ngebut” ngajarnya di peretemuan berikutnya (jadi
ya jatah waktu ngajarnya keambil), ya gapapa sih ya menurutku, kan kegiatan ini
juga bagian dari majlis ilmu yang mungkin hanya dihadiri di saat-saat seperti
ini saja oleh sebagian warga sekolah. Insyaallah barokah.
Nah itulah sepenggal kisah PePeeLKaku... Nanti kuceritakan lagi kalau lagi mood yah hehe
Atau pengen ngobrol langsung denganku?
PC aja di kolom komentar :D
Kisah yang Tertunda
Assalaamu’alaikum
wr.wb
Apa kabar pemirsah… pasti pada kangen yah dengan
cerita-ceritaku. Yakan yakaaan?
Oke gan, saking lamanya aku ga cerita-cerita nih yah, kayanya
udah hampir tiga taun aku ga ngobrol (*sendiri) di sini yah…
Aku mau ceritain kisah perjalanan skrip-sweet-ku dulu, boleh kan?
Pas aku semester tujuh, biasalah udah mulai rame-rame nyiapin
diri buat skrip-sweet-an, mulai dari milih dosen pembimbing sampe nyiapin
judul, yaa rencana penelitian lah intinya.
Tapi tentunya sebelum bisa skrip-sweet-an harus udah
ngelewatin kegiatan inti aplikasi hasil pembelajaran selama enam semester
sebelumnya, yaitu PPLK.-ngajar di sekolah.
Pada jamanku (berasa udah lama yah wkwk), penentuan sekolah
tempat kita (mahasiswa) akan PPLK itu sistemnya milih kabupaten/kota tujuan di
form pendaftaran PPLK.
Oke ya ceritanya udah tuh,. Pada saat pengumuman
penempatan mahasiswa PPLK, pengumuman pertama aku ditempatkan di Pi-One (nama
sebuatan SMP di Kota pilihanku yah), aku dah seneng banget dong karena bakal
ngajar anak-anak SMP. Aku pikir ringan secara materi, jadi nyelow ah (bukan
sombong sih ya). Aku ga perlu belajar lagi materi-materi SMP karena sebelumnya
udah sering ngajarin anak SMP di les private, jadi masih inget anget-anget gtu.
Eng-ing-eeeng, pekan berikutnya sejak pengumuman sekolah
tempat PPLK, ADA PENGUMUMAN BARU doong yang bikin AKU KAGET SHOCK SETENGAH
HIDUP (hehe), aku dipindahin ke SMA, SMA mana coba? Ulalalaaa SMANSUY cuuy,
yang isinya anak-anak “pinter” dan “kaya-kaya”, kata orang-orang sih yah. – (nyatanya
juga sih haha)- aku sempet kelabakan dong, secara dah materi SMA udah hampir
pada lupa, aku takut bakal diiremehin anak murid gara-gara gabisa jawab kalau
ditanya (bayanganku waktu itu sih)… otomatis aku belajar dong materi SMA, cari
bukunya, sampe beli tiga buku, karena gatau bakal dapet kelas berapa (X, XI,
atau XII)… aku pelajarin.
Oke aku dah siap secara materi…
Tinggal siapin mental.
Pokoknya banyak banget drama secara administratif yang ga
perlu aku ceritain. Drama sebelum mulai ngajar di kelas yaa… ya gitu deh.
Oke, pembagian guru pamong (guru pembimbing yang akan kita
gantikan mengajar dan membimbing kita selama masa PPLK). Waktu itu dari matematika diberi jatah dua
guru pamong, tapi karena kita (mahasiswanya) bertiga, jadi salah satu harus
sendiri untuk satu guru pamong. Oke aku kebetulan dapet berdua untuk satu guru
pamong.
Ku kira partnerku (temenku) ini bakal asyik, ternyataaaa iiih nyebelin, gabisa diajak kerjasama, suka
mengeluh, suka nyontek, ga mandiri. Tapi ga aku ungkapkan ko ke dia haha
(kecuali di abaca tulisanku ini, bodoamat).
Alhamdulillah, guru pamongku ini cukup “menakutkan” waktu
awal-awal, selalu tegang kalau dipanggil beliau untuk diskusi perbaikan cara mengajar.
Tegas. Tapi beliau baik banget, selalu
ngasih kita jajanan dari koperasi secara
gratis(secara gituloh, beliau ini pengurus koperasi sekolah), pokoknya setiap
ada jajanan baru pasti dikasih (Cuma untuk anak bimbingannya aja), alhasil
temen2ku dari jurusan lain ‘agak ngiri” sih keliatannya, wkwkw… tapi tenang,
aku bagi2 ko…
Oke, cerita singkatnya aku dah kelar nih Praktik Mengajar,
sampe bulan desember, karena sampe ngawas UAS pada waktu itu. Aku sih secara pribadi seneng yah, karena itu artinya masih diberi kesempatan untuk bertatap muka dengan anak-anak murid...
Alhamdulillaah...
Nanti aku ceritain lebih detailnya di sesi khusus PPL yah…
Karena sekarang niatnya khsusus my skrip-sweet, tapi kalau langsung ke skrip-sweet kesannya gimanaa gitu,
jadi perlu ada pembukaan.
Cukuplahyah pembukaannya…
Oke kita mulai fokus yah…
My Skrip-sweet
dimulai di sheet berikutnya. hahahha
Senin, 09 Oktober 2017
Jangan Mengeluh
hmmm -__-
Apa yang saya tuliskan ini sebagian berupa "keluhan". Meskipun dengan dalih "ingin berbagi", tetap saja namanya mengeluh. May be^^
Apa yang saya tuliskan ini sebagian berupa "keluhan". Meskipun dengan dalih "ingin berbagi", tetap saja namanya mengeluh. May be^^
Kamis, 28 September 2017
Pelatihan Penalaran penyusunan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)
Diawali dengan Bismillahirrahmaanirrahiim...
Awwalan...
Tercatat dalam kisah sejarah hidupku, pada hari ini (Kamis, 28 September 2017), saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan kisah hidup, perjalanan nan berliku beberapa orang yang diceritakan oleh seseorang yang cukup menginspirasi-hari ini-, beliau adalah Asst.Prof. Tendy Y Ramadin, seorang dosen di FSRD ITB sekaligus seorang Arsitek.
Beliau ini sengaja diundang oleh "pihak Univ" untuk memberikan Pelatihan Penyusunan PKM, dimana kegiatan ini, katanya, diadakan untuk mengatasi problematika Penurunan Kualitas Proposal PKM selama tiga tahun terakhir. Jadiiii...setelah diadakannya kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas proposal yang akan diajukan untuk PKM mendatang, insyaAllah.
Jugaaa...agar membangkitkan ketertarikan dan semangat juang mahasiswa Untirta dalam mengulik kembali kreativitas masa kecil yang berpotensi untuk dapat dirancang menjadi karya besar.
'Bapak Narasumber' ini mengawali tugasnya dengan bercerita tentang sekilas kehidupannya.
Tentang keluarganya, beliau ini seorang ayah dari empat orang anak. (sayangnya saya agak males menceritakan kembali kepada kalian...hehehehehe)
'Bapak Narasumber' ini seorang arsitek yang sudah merancang banyak bangunan penting. (Saya juga males ceritainnya... wkwkwk)
Awwalan...
Tercatat dalam kisah sejarah hidupku, pada hari ini (Kamis, 28 September 2017), saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan kisah hidup, perjalanan nan berliku beberapa orang yang diceritakan oleh seseorang yang cukup menginspirasi-hari ini-, beliau adalah Asst.Prof. Tendy Y Ramadin, seorang dosen di FSRD ITB sekaligus seorang Arsitek.
Beliau ini sengaja diundang oleh "pihak Univ" untuk memberikan Pelatihan Penyusunan PKM, dimana kegiatan ini, katanya, diadakan untuk mengatasi problematika Penurunan Kualitas Proposal PKM selama tiga tahun terakhir. Jadiiii...setelah diadakannya kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas proposal yang akan diajukan untuk PKM mendatang, insyaAllah.
Jugaaa...agar membangkitkan ketertarikan dan semangat juang mahasiswa Untirta dalam mengulik kembali kreativitas masa kecil yang berpotensi untuk dapat dirancang menjadi karya besar.
'Bapak Narasumber' ini mengawali tugasnya dengan bercerita tentang sekilas kehidupannya.
Tentang keluarganya, beliau ini seorang ayah dari empat orang anak. (sayangnya saya agak males menceritakan kembali kepada kalian...hehehehehe)
'Bapak Narasumber' ini seorang arsitek yang sudah merancang banyak bangunan penting. (Saya juga males ceritainnya... wkwkwk)
Sebenernya kalau mau saya ceritain kegiatan dari pukul 08.00-17.00 itu panjaaaaang banget, sepanjang barisan bilangan real (ah entahlah)
BACK TO THE TOPIC
Berhubung saya nawaytu'nya buat fokus menuliskan yang terkait Penyusunan PKM, okelah yuk kita focus.
Hapunten sebelumnya, saya ngga full mengikuti kegiatan tadi, ekhmm kepotong ngerjain tugas MEDIA wkwk... jadi seingat dan seadanya dicatatan saya yah. Mudah-mudahan saya tidak salah dalam menuliskan kembali ^^
PKM ini dulunya bernama Lomba Karya Tulis Mahasiswa, nah sejak tahun 2002 berubah menjadi PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Banyak sekali macamnya:
1. PKM P
2. PKM Kewirausahaan (PKM-K)
3. PKM Karsa Cipta (awalnya bernama PKM Cipta Karya)
4. PKM T
5. PKM M
6. PKM Gagasan Tertulis (PKM-GT)
7. PKM Artikel Ilmiah (PKM-AI)
Dalam menghasilkan karya/penelitian, tidak mesti linear dengan program studi yang kita geluti, karena linearitas dapat diperoleh dari track-penelitian kita (kalau tidak salah tangkap yah).
Ketika kita akan menciptakan suatu karya, kita harus berfikir antisipatif. Taulah yah maksudnya, yaa kita mesti memperhitungkan faedah & mudharat hasil karya kita, akankah menghasilkan amal jariyah atau justru mengalirkan dosa jariyah.
Karya besar nan berfaedah dapat lahir dari hal-hal sederhana dalam kehidupan kita, lika-liku problematika yang dialami pribadi maupun orang-orang di sekitar kita. Misalnya saja kasus seperti ini (tadi ada tesnya loh):
"Silahkan Anda tuliskan pada selembar kertas, cita-cita yang ingin terwujud dalam lima tahun mendatang! Setelah itu, kertas tersebut dibuat pesawat kertas dan silahkan terbangkan hingga sejauh-jauhnya!"
Nah, tadi itu, seratus persen peserta hadirin membuat pesawat kertas sebagaiman lazimnya kita negbuat peswat kertas yang dilipet-lipet itu. Dan hasilnya apa? (kalau tidak salah), hasil penerbangan paling jauh adalah hanya sekitar 7-10 meter dari tempat kita menerbangkan.
Tahukah kalian apa yang dilakukan oleh 'Bapak Narasumber' tadi? Pesawat kertas seperti apakah yang dibuat oleh beliau?
Beliau meremas-remas selembar kertas yang kemudian dilemparkannya hingga jauh banget (more than 10 m). Loh ko??? Beliau ceritakan maksudnya, pesawat2an yang dimaksud adalah tidak mesti sebagaimana pesawat kertas pada lazimnya. Bebas. Silahkan capailah hasil penerbangan terjauh. salah satunya adalah dengan mengubah kertas tersebut menjadi pesawat berbentuk bulet-bulet renyek yang bisa dilempatkan sejauh mungkin. Out of the box ini terinspirasi dari anak ketiga beliau.
Memang yah, kreativitas di masa kecil itu jangan sampai dihilangkan... daebak
ALUR PKM
Mahasiswa yang merupakan >> kelompok intelektual>> mengajukan proposal>> mengajukan pembiayaan>> melaksanakan kegiatan>> diseminasi hasil kegiatan
GO TO PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional)
* Pengusulan: Seleksi Administrasi
GO TO PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional)
* Pengusulan: Seleksi Administrasi
* Lolos tahap 1 Seleksi Mutu usulan
*Lolos 2: Laporan kemajuan & monev kolaboratif
* PIMNAS: Laporan Akhir>>Artikel>>Poster>>Presentasi
Dilanjut nanti yah ceritanya...hehe
*Lolos 2: Laporan kemajuan & monev kolaboratif
* PIMNAS: Laporan Akhir>>Artikel>>Poster>>Presentasi
Dilanjut nanti yah ceritanya...hehe
Langganan:
Postingan (Atom)
