Senin, 04 Desember 2023

Missing her

Sangat kurindukan

Sangat kubutuhkan

Ku butuh kelembutannya

Ku butuh untaian do'anya

Ku butuh kasih & sayangnya

Ku butuh bimbingannya

Ku butuh teladannya

Ia... 

Ia yang kini hanya dapat berjumpa dalam mimpi


Dia yang kini telah tiada

Telah pergi untuk selamanya


_ema_

Sabtu, 07 Mei 2022

SETAJAM Lisan

2022

Segala kebutuhan untuk para pemalas tersedia. 

Kecanggihan teknologi membuat orang-orang yang lahir di abad 21 tidak segiat orang-orang jaman dulu, yang lahir di abad-abad sebelum nya. [Argumen ini lahir dari mini riset di lingkungan sekitaku aja si, gatau deh di daerah kalian orang-orang nya kaya gimana]... Maaf ya klo ada yang ga setuju/tersinggung. Ha"

Termasuk diriku yang lahir di akhir abad 20 pun sering males-malesan. Aku gatau sih kalo kalian gimana, ga beda jauh mungkin sama aku... Hehe 'Canda bestieee

_-_-_-_

Yang aku pengen bahas sebenernya bukan orang yang rajin/tekun/giat atau sebaliknya. 

Aku cuma mau curhat aja, pengalaman ga enak dampak dari kecanggihan teknologi. Kemudahan berkomunikasi tanpa tatap muka secara langsung bisa bikin orang dengan mudah ngedamprat ngomel-ngomel ga jelas lewat tulisan (chatting ya gaess). 

Coba aja bayangkan dijaman dahulu kala, sebelum ada teknologi telpon/SMS/Chatting dsb, orang kalo mau ngomel-ngomel kan mesti ketemu lawan bicaranya langsung kan? 

Kalo ga ketemu ya ga akan ngomel-ngomel/marah-marah ga jelas gitu. 

Bahkan bisa jadi karena ngga ketemu dalam jangka waktu lama bisa terurungkan tuh niat ngomel-ngomel ga jelasnya. Hehehe

Ya kan? 

Tapiii aku juga pernah ko gitu... Ya sama, ngomel2 ga jelas ke temen yang ga ada di hadapanku, yang jauh tak terjangkau. Enak juga sih... Wkwkw

_-_-_-_

Emang sih segala hal yang ada saat ini pasti ada dampak potifi & negatifnya. P A S T I

Jadi aku pun ucapkan terimakasih banyak untuk penemu teknologi buat curhat ini... Ahaayy

Sabtu, 08 Mei 2021

Pembaca Setia

Berawal dari tugas Filsafat

Agak lupa, mata kuliah Filsafat matematika muncul di semester berapa sih angkatan aku? Dua atau tiga ya?

Tugas yang paling berkesan dan cukup bermanfaat bagiku. 
Seingatku, waktu itu tugasnya adalah "Posting sebanyak mungkin tulisan tentang apa saja (kalo bisa yang berbau matematika) di blog pribadi, dalam jangka waktu satu semester paling sedikit 150 postingan untuk bisa mendapatkan nilai A! " Kurang lebih seperti ini tugasnya. 

Bikin blog
Nulis

Etapi jujur sih, awal-awal masih agak nurut posting tulisan sendiri. Lama-lama kehabisan ide, akhirnya comot tulisan orang, modif sedikit, posting. Hehe

Awal nugas masih semangat, mendekati pertengahan ke akhir semester bosen juga. Alhasil ujung-ujungnya tetap ga mencapai targer, auto nilai B. Beneran. Agak nyesel sih... Wkwkwk
Tapi yaudahlah.

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Btw dulu tuh setiap abis nulis di blog, aku selalu share link ke grup biar tulisanku ada yang baca. Hehe
Alhamdulillah ada aja yang mau baca. Isi tulisanku paling seputar kegiatan harian, pengalaman masa lalu yang unik. Ya gitu gitu doang. Jarang banget yang berbau matematika. Kebanyakan curhat. 
Haha

Sampe sekarang alhamdulillah masih ada sisa sisa semangat ngetik curhatan di blog ini. Terutama kalo lagi nganggur. Kek skarang ini. Tapiiiii kayanya peminat tulisanku skarang agak berkurang, gara-gara sempet off beberapa bulan. Mungkin udah pada lupa kali ya... 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Buat kamu pembaca setia curhatanku, kamu mau aku nulis tentang apa? Kasih ide dong... Biar aku jadi tambah semangat menulis lagi nih.... 

Koment yah... Dan jangan lupa baca tulisanku yang dulu-dulu. 
Caranya klik aja judul2 yang ada di samping kanan... Dan biar bisa baca tulisanku di tahun-tahun sebelumnya, ya klik aja tahun 'sekian'.

Thanks so much before

Math Chat

 Tadi sore... 

Di sebuah grup MGMP, dosenku mengirimkan sebuah informasi tentang diadakannya "Ngobrol Matematika (Math Chat)" bersama Pak Prof. Hendra Gunawan. Beliau salah satu dosen di ITB.

Kebetulan dosenku itu dulunya mahasiswa Pak Prof, saat S3.



Pak Dosen mengirimkan link zoom meeting dan sebuah kalimat persuasif agar kita bergabung dalam acara tersebut. 

Kebetulan tadi tuh aku lagi "nganggur" alias ga ada kerjaan, langsung cusss klik link tersebut dan siap-siap pakai earphone.

Pikirku "pasti yang join banyakan", eeeeh ternyata cuma ber-7 termasuk aku. Lama-lama nambah juga sih jadi ber-15. Ko sedikit? Ternyata kali ini adalah Math Chat PREMIER alias program perdana. Rencananya kedepannya akan diadakan rutin satu kali tiap pekan dan akan membahas topik2 matematika. 

Lumayan... 

Pesertanya rata-rata mahasiswa dan guru.

Pembahasan perdana ini aku ga tau tepatnya tentang apa karena aku join di pertengahan dan selama mengikuti pun banyak hal yang tidak kuketahui dan aku mesti fokus agar ngerti, meskipun ttep ga ngerti. Tau kenapa? Karena aku kurang MEMBACA.

Mereka, peserta lain yang rata-rata mahasiswa pascasarjana, keciri banget doyan baca artikel jurnal dalam dan luar negeri, mendalami matematika banget. Di situ aku banyakan diemnya karena gatau mesti respon apa. Gapapa, setidaknya aku tahu mesti ngapain untuk menghadapi agenda kedua setelah lebaran nanti.

Alhamdulillah dari pertemuan pertama tadi setidaknya memberikan sedikit semangat untuk meningkatkan kembali minat baca ku yang sempat download banget. Serius, udha lamaaaa banget ga baca buku atau artikel online about math.

Bismillah, semoga menjadi langkah awal yang baik.

Semangaaaattt... 



A lot of thank for Mr. Anwar Mutaqin... :) 

Minggu, 17 Januari 2021

Tingkatan Gila

Aku bicara dalam sudut pandang pribadi dengan segala keawamanku

Sepanjang sejarah hidup, aku sudah berapa puluh atau ratus atau bahkan ribuan kali melihat orang gila yaitu mereka yang biasanya berjalan/duduk di pinggir jalan dengan pakaian kotor robek compang-camping sambil berbicara "sendiri".

... 

Seiring berjalannya usia, pengalaman, pengetahuan dan pola pikirku hingga saat ini, ternyata "Orang Gila" itu tidak hanya mereka yang kusebutkan di awal. 

Akhirnya aku memikirkan kalau orang gila itu ada tingkatan dan kategorinya. Aku urutkan dari yang paling akut (1, 2, 3, dst...) 

1. Orang Gila Normal Tak Diurus

Yaitu mereka yang dianggap semua orang (tanpa terkecuali dari orang kota hingga orang desa, yang sekolah tinggi hingga yang tak tamat SD) sebagai orang gila. Ya mereka yang biasa berjalan sendirian di pinggir jalan raya di kota bahkan hingga ke pedesaan dengan pakaian kotor robek compang-camping hingga yang telanjang, badan kotor rambut gimbal dan mungkin saja bau. Sorry aku tak akan pernah mencium bau orang gila yah. LOL. 

Menurut ku mereka normal, tentu normal sebagai orang gila.

Mereka seperti itu mungkin sejak kecil/remaja/dewasa disebabkan oleh berbagai latar belakang. Mereka berbeda, namun satu kesamaannya yaitu mereka ditelantarkan oleh keluarganya. 

2. Orang Gila Normal Terurus

Yaitu mereka yang memiliki gangguan jiwa namun tidak terlantar/tidak ditelantarkan oleh keluarganya. Mereka 'diurus' di Rumah Sakit Jiwa. Pakaian bersih, badan bersih (mungkin) karena dimandikan, makanan jelas bersih, dan masih dianggap oleh keluarganya.

Beruntung. 

Mereka bisa berada di RSJ mungkin karena berasal dari keluarga berada, atau mungkin dari keluarga biasa berkecukupan namun saudaranya masih punya hati nurani sehingga menyisihkan sebagian rezekinya untuk biaya RSJ. Entahlah. Intinya mereka lebih beruntung.

3. Orang Gila Tidak Normal

Yaitu mereka yang memiliki gangguan jiwa dalam hal tertentu saja. Contohnya orang yang tergila-gila dengan suatu benda (maniak kali ya disebutnya), maka mereka akan berusaha untuk memiliki, menyayangi, melindungi dan merawat benda tersebut. Banyak sih contohnya. 



To be continue

Senin, 28 Desember 2020

Melangkah Bersama

Cobaa ingat-ingat

Sejak beberapa bulan terakhir ini, sudah berapa rencana yang kitaa targetkan bersama? ada Lah beberapa, Rencana untuk masa depan KITA yg lebih baik. Entah rencana itu saya dulu yang berinisiatif, atau pan kamu yang meminta untuk berkolaborasi. 

Sudah berapa rencana yang terealisasikan? Satu pun belum ada. Kenapa coba? (Menurut ku) ini karena kita sangaat sulit untuk bertemu, berjumpa tatap muka untuk bisa membuat konsep lebih Matang dan MULAI beraksi. 

Gimana bisa beraksi kalau untuk berjumpa saja susah?

-_-_-_-_-_-

Malam ini, setelah perjumpaan pertama Kita, entah mengapa aku terpikirkan "Kenapa Kita tidak memutuskan untuk 'BERSAMA'? Menyatukan jiwa dan raga kita dulu, langkah awal untuk kita menyusun strategi yang tepat atas rencana2 kita itu.

Apakah kamu sempat terpikirkan hal yang sama?

Jika iya, ayolah, jangan takut, yuk kita kuatkan tekad dan keputusan untuk melangkah BERSAMA.

Jika ada hal yang menghambat, coba kitaa bicarakan baik-baik, saya pasti bisa bantu cari solusinya.

Tenang saja, saya bisa mandiri ko. Percaya kan sama saya? 


Jumat, 04 Desember 2020

Selalu Gagal

Tidak terhitung berapa kali gagal. 

Bukan karena saking banyaknya atau berapa seringnya gagal "dalam hal ini", tapi karena emang ga ngitungin. 

Hehe

__________________________________________

Jadi gini ceritanya... 

Aku punya temen akrab, baru akrab kira-kira sejak kuliah semester-3. Dia, teman satu jurusan. Tidak satu kelas, awalnya, namun di semester-3 itu dia ikut kelasku pada beberapa mata kuliah. Jadilah sekelas. 

Lupa, entah aku atau dia dulu gitu yah yang "ngajak" akrab. Intinya sejak sekelas itu di sering banget nelpon/ngechat nanyain "Sekarang matkul ini di ruang berapa dan mulai jam berapa? " Selaaaaalu itu yang ditanyain, jarang banget ngebahas hal lain. 

Lama-lama kita jadi akrab dan banyak hal yang dibahas terutama pas kita satu dosepem saat skripsian. Makin akrab aja dah. Alhamdulillah... 

Setelah kita lulus auto jarang ketemu dong, tapi aktif banget kita chatting. Nah suatu ketika dia mengajakku "KETEMUAN", dia memintaku untuk mengajarinya sesuatu. Oke, aku bersedia. Tinggal tentuin waktu dan tempat yang cocok. 

Jadilah kita tentukan ketemuan di Perpustakaan Daerah. Tempat ramai. Sengaja karena di situ tempatnya nyaman dan terdekat dengan tempat kostku. 

Kita berdua tuh ASLI banget anaknya pemalu ga berani yang namanya ngobrol berdua. Tapi untuk kali ini kita pengen & mesti ngobrol berdua aja. 

Nah nah nah... Sesampainya di tempat dan waktu yg kita janjikan, ga sengaja ketemu dengan teman-teman kita yg lain. Iiissshh... Sebel sih, jadinya kita canggung banget kalo mesti duduk deketan berdua. Jadilah kita duduk jauhan, ngobrolin dulu temen-temen yang lain. Mau ga mau sih. 

Nah, beberapa lama akhirnya kita memutuskan (lewat chatting) untuk pindah tempat ke tempat yg lebih sepi dan tidak ada orang yang kita kenal. 

Aku punya ide, mesti ke lantai 2. Di sana biasanya sedikit pengunjung. 

Nah, untuk menghindari kecurigaan teman-teman yang lain, aku putuskan untuk pergi duluan, baru kemudian dia menyusul. Hehehe... 

Kalo dipikir-pikir, ya Allah gini amat yah kita, niatnya mau belajar loh tapi dikasih cobaan dulu. Tapi emang salah sih kalau berduaan dengan yang bukan mahrom di tempat sepi, khawatir ada orang ketiga. 

Akhirnyaaaaaa... 

Kita jadi juga ngobrol berdua, tapi jauhan yah, karena meja di lantai 2 perpustakaan itu gede bangeett... Gapapa yang penting tetep asik dan nyaman ngebahas 'pelajaran'. 

Kalau diingat-ingat tuh rasanya bahagiaaa banget. Tapi entahlah dia merasa bahagia atau apa. Semoga dia juga bahagia.... Hehe

_________________

Btw mungkin diantara pembaca ada yang mau komen "kenapa kalau ngobrol doang mesti ketemuan? Kenapa ga lewat telpon aja sih".

Beda gaes rasanya, ga puas. Lagian apa yang kita bahas itu cocoknya ketemu langsung. 

:D

Jadi sesi kali ini dianggap "Lumayan berhasil".

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Selasa, 24 November 2020

"S2 atau Menikah", Bukan!

 Pasti kalian tidak asing dengan tagline iklan sebuah produk di televisi beberapa tahun silam

"S2 atau Menikah?"

Pasti pernah nonton/baca/denger kan? 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Kenyataan hidup tak seindah iklan... Haha

Jika aku diberi pilihan 'S2 atau Menikah' tentu akan pilih menikah karena sudah jelas lebih pasti pahalanya, menggenapkan separuh agama. Ya kan? Secara lebih lengkapnya saya sebenarnya kurang paham, yang pasti saya pahami itu bermakna sangat baik. 

Tapi bukan berarti kalau S2 pahalanya kurang, bukan begitu yah,. Wallahu a'lam, hanya Allah yang tahu sebenarnya tantang balasan terbaik untuk setiap hambanya.

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Saat ini pilihan yang harus saya putuskan adalah "S2 atau jadi ASN?"

JUJUR, sejujurnya saya lebih memilih dan sangat tertarik S2 ketimbang jadi ASN. Namuuunn situasi menuntut saya untuk tetap mengikuti seleksi CPNS, saya menurut saja mengikuti seleksi tersebut karena kesempatan tersebut yang sedang terbuka lebar. 

S2 keburu tutup cuyy.. Hehe

Nah, awalnya saya emang setengah hati ikutan seleksi CPNS, sekadar nurutin perintah kakak tertua. Taunyaaa emang beneran Lulus tes CPNS... 

Itu artinyaaa kesempatanku untuk S2 di luar  Banten adalah 0%. Nihil, karena sudah jelas tuntutan tugas seorang ASN bakal menghabiskan waktu.

Hmmm

Tapi beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah kutipan kalimat yang cukup bagus dan mewakili situasi yang sedang Saya hadapi. Lupa tepatnya bagaimana bunyi kalimat tersebut, intinya sih begini "Bisa jadi sesuatu yang kamu takutkan/kamu tidak sukai justru akan menjadi sesuatu yang sangat kamu syukuri di kemudian hari".

Begitulah. 

Mungkin dan memang seharusnya mulai sejak saat ini saya harus selalu bersyukur dengan apa yang menimpa diri ini. Apa pun itu. Baik yang terasa manis, pahit, asam, getir, maupun hambar. 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Ya Allah sesungguhnya saya sangat berharap pada-Mu agar suatu hari nanti saya tetap bisa merasakan nikmatnya menempuh S2 Pendidikan Matematika dan bisa mendapatkan beasiswa pendidikan. Aamiin yaa Rabbal'aalamiin. 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Tapi jikalau jodohku datang menghampiriku lebih dulu, saya siap menyambut dan menerima dengan lapang dada & sukacita... ^^


Selasa, 27 Oktober 2020

Cita-Cita Ibu

 Suatu hari, entah berapa tahun yang lalu, disaat kita ngobrol-ngobrol santai, emakku berkata bahwa beliau sangat ingin anaknya ada yang bisa "ngaji". 

" Ngaji" yang dimaksud adalah tilawatilqur'an, yang biasa banyak orang sebut sebagai 'ngaji qori'. 

Dari keenam anak emak, semuanya belum ada yang mampu mewujudkan cita-cita tersebut.

Kalau ada yang berpikiran "Kenapa anaknya tidak disekolahkan di pondok pesantren saja?"

Ya kita berenam tidak ada yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Emak & bapak tidak pernah mengijinkan anaknya mondok, alasannya adalah.... Hmmm... Sorry, tidak bisa aku jelaskan di sini. Mungkin lain waktu di tulisan lain.

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Sejak emak mengutarakan keinginannya tersebut, aku selalu memikirkannya hingga sekarang. Bukannya aku tidak berusaha untuk belajar "ngaji", pernah saat aku SD & MTs, tapi tetap saja belum bisa. Maafkan aku mak... :'(

Satu-satunya cara yang terpikirkan olehku adalah emak harus punya menantu yang faham & mahir melantunkan Al-Qur'an dengan merdu dan khusyuk, lelaki shalih yang bertanggungjawab dan setia.

Mungkin ini adalah cara yang terpikirkan olehku saja, kakakku mungkin tidak, tapi entahlah. Namanya jodoh sudah pasti siapa2nya, tidak bisa memilih ingin berjodoh dengan si ini-si itu.

Aku... Yang masih single dan belum melihat tanda-tanda ada lelaki yang berniat serius melamar, terus berdo'a agar bisa membahagiakan emak, berdo'a agar bisa berjodoh dengan lelaki shalih yang direstui emak. 

Sungguh tidak ada kriteria khusus yang aku tetapkan, yang penting bisa membahagiakan emak.

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Hari ini, aku tunjukkan kepada emakku video seseorang yang sedang melantunkan shalawat dari snap WA-nya, aku pun perkenalkan siapa orangtuanya dan saudara2 kandungnya. Alhamdulillah emak suka, tampak guratan wajah yang bahagia berseri. 

Siapakah dia? Dia yang aku temui di sebuah acara STQ di Kecamatan. 

Dari mana aku tahu silsilah keluarganya? Aku cari tahu dari media sosialnya, aku telusuri dengan sistematis. 

Ternyata emak juga mengenal kedua orangtuanya. Keturunan dari keluarga yang baik. 

Alhamdulillah :) 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Tapiiiiiiii

Masalahnya adalah... 

Apakah dia sudah memiliki wanita idamannya? 

Aku khawatir cintaku bertepuk sebelah tangan.... Hmmm

_-_-_-_-_

Cintaku sejak lirikan mata pertama... Tidak lebay, ini nyata. 

If you read this story, please chat me on WA what's your answer. Thanks a lot for your attention.

Senin, 26 Oktober 2020

Sabtu

 Tik tok tik... 

Mau nulis apa ya?

Setiap hari bercermin, tiap hari pula merenung,. 

Di usiaku yang sudah masuk kategori dewasa, belum juga memiliki "teman hidup".

Galau? Kadang. 

Galau saat hari-hari tidak aktif, tidak ada kesibukan yang mengalihkan pikiranku untuk memikirkan hal tersebut. Apalagi di masa pandemi ini, ga sibuk-sibuk amat, auto kepikiran kan. Iisshh... 

Memang, pertemuan dengan jodoh sudah ada yang mengatur, sudah ditimeline oleh Yang Maha Kuasa. 

Meski begitu, katanya (kata orang-otang tua dulu) jodoh itu ya meski sudah ditetapkan, jangan ditunggu saja, tapi dicari juga, ikhtiar + berdo'a.

Sampai saat ini aku benar-benar tidak tahu cara bagaimana dan harus ke mana mengejar jodoh? Haha

Kalian tahu? Coba berita tahu aku (ketik di kolom komentar)... :D

Yang kutahu hanya berdo'a dengan bahasa yang kubisa, Allah SWT pasti paham dan mendengar do'a ku, bahkan isi hati yang tidak kuucapkan pun. 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


Sabtu, 24/10/20

Sebenarnya aku ingin ceritakan kejadian yang cukup aneh di hari Sabtu kemarin,. 

Bertemu, tanpa sengaja, dengan seseorang yang membuatku terpana sejak lirikan mata pertama (lebay sih wkwkw) 

Seseorang yang mampu membangkitkan semangat intelku untuk stalking dunia lain (dunia maya yah gaesss) 

Dua hari cukup untuk mengetahui (sebagian) siapa dia, bagaimana dia sebelumnya, dari mana ia asalnya... Dan siapa saja teman-temannya. 

Thanks to Mark Zuckerberg... LoL

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Cocok lah, idaman banget... 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Okey, sedikit aku bahas soal lain. 

Jadi pantas saja beberapa perusahaan meminta para pelamar pekerjaan untuk mencantumkan akun sosial media yang dipunya, itu tuh untuk mengecek sekilas riwayat hidup dan kebiasaan Para PenCaKer. Kelihatan kan dari postingan-postingannya, kelihatan juga relasinya bahkan sampai riwayat keluarganya. 


Makanya jangan sering-sering posting hal-hal yang ga terlalu penting di sosmed, apalagi sesuatu yang mengandung unsur SARA.

Begitulah. 

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Back to the topic 

Setelah melalui penelusuran tersebut, ternyata dia adalah saudara teman dekatku. Dan lebih mengagetkan lagi kalau temanku itu seneng banget kalau saya bisa menjadi "teman hidup" si dia... Bahkan siap membantu untuk menjadi perantara proses ta'aruf... Tapi aku masih mempertimbangkan tawaran tersebut, karena rasanya terlalu cepat. Baru juga kenal, baru juga temenan... Hmmm... Kocak sih. 

Tapiiiii

Masalahnya adalah... 

Apakah dia sudah memiliki calon "teman hidup" pilihannya sendiri? 

Jawab dong!